Iklan
Kemajuan teknologi

Kapitalis Cina Memindai Otak Para Pekerja Pabrik Untuk Meningkatkan Produktivitas

Mereka membaca emosi pekerja di lini produksi melalui sensor di topi mereka. Diklaim meningkatkan pendapatan hingga triliunan rupiah.

oleh Samantha Cole
02 Mei 2018, 5:24am

Foto via Shutterstock

Di sebuah pabrik di Hangzhou, Cina, para pekerja lini produksi diduga dilengkapi dengan topi dan helm yang membaca otak. Helm-helm ini membaca emosi pekerja dan menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk “mendeteksi lonjakan emosional seperti depresi, kecemasan atau kemarahan,” menurut South China Morning Post.

Hangzhou Zhongheng Electric adalah salah satu dari banyak perusahaan Cina yang menggunakan teknologi yang disokong pemerintah untuk memantau aktivitas otak karyawan saat mereka sedang bekerja, lapor Post.

MIT Technology Review mencatat bahwa kurangnya detail dalam artikel tersebut menimbulkan kecurigaan: Soal apa yang dapat dideteksi sensor EEG mengenai emosi manusia masih cukup tidak jelas, dan kecil kemungkinannya bahwa satu perusahaan bisa mengumpulkan cukup informasi untuk meraup keuntungan triliunan rupiah, seperti yang dikatakan salah satu juru bicara perusahaan listrik, menurut Post:

“Teknologi ini juga digunakan di State Grid Zhejiang Electric Power , di mana ia telah meningkatkan laba perusahaan sekitar 2 miliar yuan (setara Rp4,3 triliun) sejak diluncurkan pada 2014, menurut Cheng Jingzhou, seorang pejabat yang mengawasi program pengawasan emosional perusahaan.”

Tetapi premis distopia ini—bahwa majikanmu akan memaksamu memakai alat pembaca pikiran sehingga bisa meningkatkan produktivitas—bukannya tidak mungkin. Ketika smartwatch laku keras, satu startup dikhususkan untuk membuat aplikasi smartwatch yang dapat digunakan para bos untuk melacak produktivitas karyawan. Pada bulan Februari, GeekWire menemukan paten Amazon untuk smartwatch untuk diberikan kepada karyawan gudang yang akan melacak di mana tangan pekerja berada dan mengirim sinyal radio antara gelang dan barang inventaris

“Jenis pemantauan invasif yang sedang berlangsung ini, sebagaimana dijelaskan dalam artikel [ South China Morning Post] lebih mungkin merusak moral daripada memperbaikinya, karena pemantauan itu merendahkan otonomi dan martabat dasar manusia,” tulis Natasha Duarte, analis kebijakan di Center for Democracy and Technology, melalui email.

Ini adalah bagian dari tren “fetish terhadap data dan analytics” untuk mengoptimalkan hidup kita, terutama dalam hal produktivitas tempat kerja, ujarnya. Masalahnya adalah, menurut Duarte, hampir selalu ada ketimpangan kuasa antara pihak yang merancang eksperimen-eksperimen dan subjek-subjek yang perilakunya hendak diubah atau direkayasa—dalam kasus ini, adalah majikan dan buruh di pabrik.

“Program-program analisis data seringkali menyasar populasi seperti orang-orang yang menggunakan layanan sosial, pelajar, pekerja, orang-orang yang telah menjadi sasaran penegakkan hukum atau sistem keadilan kriminal; dan sistem-sistem ini hampir tidak pernah dirancang atau dievaluasi oleh kelompok-kelompok ini,” ujar Duarte.

Perubahaan apapun yang dibuat seorang pegawai pada tenaga kerja berdasarkan data perilaku boleh jadi memikirkan masalah-masalah secara berlebihan, yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan solusi-solusi sederhana—seperti tunjangan yang lebih baik, cuti berbayar, atau peningkatan upah atau fleksibilitas. “Analisis data sebaiknya tidak mengambil alih peran kebijakan yang bijaksana dalam ketenagakerjaan,” ujar Duarte.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE AS
Tagged:
china
EEG
wearables
Produktivitas
Kebudayaan Cina