Iklan
VIDEO GAME

Mari Mengenang Bermacam Konsol Video Game Lewat Foto Unik

Evan Amos menghabiskan waktu mengabadikan perangkat keras video game karena perangkat seperti ini menjadi peninggalan budaya penting di tengah zaman serba streaming.

oleh Dan Solberg
08 November 2018, 10:58am

Foto: Flickr/Blake Patterson

Google meluncurkan Project Stream bulan lalu. Proyek ini mengajak gamer untuk memainkan game terbaru Assassin’s Creed di peramban web. Uniknya, mereka tidak boleh pakai konsol game dan file yang sudah diunduh saat bermain.

Menurut berbagai laporan, layanannya berfungsi dengan baik. Dan ternyata, bukan hanya Google yang men-streaming game. Microsoft juga mengumumkan Project xCloud yang mirip-mirip dengan Project Stream. Memainkan game streaming tampaknya dianggap sebagai pilihan terbaik di masa depan bagi banyak perusahaan teknologi. Dengan begitu, kita tidak perlu lagi membeli konsol yang mahal dan akan usang seiring berjalannya waktu.

Baik kamu memercayainya atau tidak, perilisan buku baru The Game Console: A Photographic History from Atari to Xbox terasa seperti ramalan masa depan bahwa nantinya, kita tidak akan lagi bermain game menggunakan konsol. Buku fotografi ini digaungkan sebagai upaya pelestarian, tetapi juga dianggap sebagai pembelaan terhadap konsol game yang semakin terancam.

Di saat layanan seperti PlayStation Now telah membuktikan bahwa streaming berpotensi meningkatkan akses ke game klasik berperangkat keras, The Game Console berpendapat bahwa konsol adalah artefak bersejarah yang tidak boleh kita lupakan.

An exploded photo of the Magnavox Odyssey
Foto: Evan Amos

The Game Console merupakan karya penulis-fotografer Evan Amos. Foto-foto di buku ini diambil dari proyek dokumentasi perangkat keras game-nya di Wikipedia. Kecewa dengan kualitas gambarnya yang kurang bagus di situs tersebut, Amos pun memutuskan untuk membuat dan mengunggah hasil fotonya sendiri. Dia membuat kampanye Kickstarter yang sukses berat untuk membantunya. Mungkin kalian tidak tahu siapa itu Amos, tapi kalian pasti pernah melihat karyanya. Silakan cari nama konsol game apa saja di Google. Setidaknya, salah satu dari foto Amos ada di posisi tiga teratas.

Foto-fotonya bebas diunduh dan digunakan, tetapi The Game Console memberikan wadah fisik yang tepat untuk hasil fotografi Amos.

“Museum menginspirasiku. Bayangkan setiap entri bagaikan berjalan ke kotak yang memajang konsol dengan penjelasan [di sampingnya],” kata Amos lewat email. “Saya memotret untuk Wikipedia dan proyek ini karena saya gemar menemukan sejarah konsol-konsol ini. Saya suka mempelajari dan melihat benda-benda yang tidak saya ketahui sebelumnya.”

An exploded view of a Gameboy Advance
Foto: Evan Amos

Proyeknya dimulai dengan Magnavox Odyssey yang dirilis pada 1972. Amos mengajak pembaca untuk menjelajahi sejarah yang dikategorikan sebagai delapan generasi konsol game yang dirilis selama rentang 45 tahun. Setiap entri memiliki setidaknya satu foto high angle berlatar belakang putih yang “mewakili” konsol. Selain itu, ada juga penjelasan singkat yang menerangkan posisi konsol tersebut di sejarah gaming, dan bagan yang menampilkan spesifikasi teknis dan detail kuantitatifnya. Banyak konsol yang difoto secara terpisah dan sejajar untuk menunjukkan isi komponennya. Jenis foto ini memperlihatkan terbuat dari apa sistemnya dan bagaimana mereka menyatu. Foto-foto ini kelihatan sangat keren.

Ada konsep liar yang dimasukkan ke dalam The Game Console. Beberapa sangat gila sampai-sampai kita tidak bisa memercayai kalau barang-barang ini dapat dipasarkan. Misalnya seperti pengaya (add-ons) CD-drive gagal yang coba dijual oleh perusahaan. Yang lainnya, seperti iQue Player—versi handheld Nintendo 64 rilisan Cina yang berisi konsol dalam satu controller besar—menggambarkan sejarah video game yang lebih kaya daripada naratif “perang konsol” antara Sony dan Microsoft yang sering kita jumpai.

“Setahu saya, proyek ini sangat penting untuk dilestarikan karena saya sering melihat foto-fotoku digunakan untuk menggambarkan sejarah gaming [di berbagai media],” kata Amos. “Saya memutuskan melakukannya setelah melihat reaksinya. Kalau bukan saya yang memotretnya, enggak bakalan ada versi foto yang bagus seperti karyaku.”

FAn exploded view of a PlayStation
Foto: Evan Amos

Mempertahankan hardware yang masih berfungsi adalah puncak pelestarian konsol game, tetapi fotografi dapat menyampaikan pengertian dan penerapan yang lebih luas. Alih-alih mengoleksi konsol Atari 2700 (prototipe yang ada antena frekuensi radio di controller-nya) secara pribadi, The Game Console memamerkan konsol tersebut bersama lebih dari seratus perangkat lainnya menjadi sebuah konteks historis dalam format yang praktis.

Pekerjaan ini tidak gampang. Menurut Amos, tipe pelestarian ini sangat mahal.

“Saya harus memakai uang sendiri kalau ada yang saya butuhkan dari koleksi ini,” ujarnya. “Saya membeli barang-barang yang dibutuhkan sebisanya, tapi [sebagian besar yang tidak muncul di buku] merupakan komputer asal Eropa atau Jepang, yang ongkos kirimnya mahal banget ke AS.” Apartemen Amos penuh dengan barang karena saking banyaknya hardware yang dikoleksi.

Buku The Game Console mengusulkan bahwa game jadul ini layak diingat, dan mungkin saja akan menjadi barang berharga kalau dunia kita berubah menjadi dunia khusus streaming.

Konsol unik juga bisa memiliki interface unik. Misalnya Arcade Coleco Telstar, yang mempunyai kontrol built-in (dua pedal, setiran, pistol mainan) pada kedua sisi desainnya yang berbentuk segitiga. Meniru game Telstar Arcade dengan sebuah PC daripada konsol fisik menghilangkan unsur penting dari desain game aslinya.

Amos tidak mementingkan seru atau tidaknya memainkan game Telstar Arcade. Konsol ini dilihat sebagai peninggalan budaya. Telstar Arcade dan belasan video game berperangkat keras yang muncul di The Game Console mengingatkan kita bahwa meskipun suatu teknologi sudah dianggap kuno, bukan berarti benda itu tidak mengandung nilai kebudayaan yang penting.