Seni Rupa

Kisah Tentang Karya Seni Toilet Emas yang Sempat Ditawarkan ke Donald Trump

Ed Tang dari Balai Lelang Sotheby’s menceritakan momen seni terlebay sepanjang 2018.

oleh Ed Tang; seperti diceritakan pada Erin Schwartz
19 Desember 2018, 9:35am

Foto toilet emas karya Maurizio Cattelan via Getty Images

Januari biasanya bulan yang sepi bagi dunia seni. Nah, 2018 berbeda. Januari dimulai dengan heboh. Nancy Spector selaku kurator museum seni modern Guggenheim menolak permintaan Kantor Presiden Amerika Serikat, alias Gedung Putih, yang ingin meminjam salah satu lukisan terkenal Van Gogh. Dia menyatakan lewat surat bahwa lukisan tersebut tidak bisa meninggalkan museum. Spector lalu menawarkan toilet emas America karya Maurizio Cattelan sebagai penggantinya.

Gedung Putih tidak menanggapi atau menyanggupi tawaran tersebut. Enggak mengherankan sih, meskipun kayaknya Donald Trump bakalan suka toilet emas berkilau itu.

Saya sempat mengecek America ketika masih dipajang di Guggenheim. Saya rasa toilet emas ini khas ciptaan Maurizio Cattelan: penuh humor, sangat berani dan kontroversial. Karya ini memang gila sih. Cattelan merujuk pada Fountain-nya Duchamp ketika membuat America. Fountain juga sangat kontroversial saat pertama kali dipamerkan. Saya suka bagaimana karya seni tersebut merujuk pada karya lain yang sama "ekstranya."

Fakta bahwa kurator terhormat seperti Nancy Spector nekat menawarkan toilet ke Gedung Putih juga bisa dibilang “ekstra.” Saya enggak bermaksud bilang kalau Spector ingin mengerjai Gedung Putih, karena America adalah karya seni yang amat berharga. Toilet ini terbuat dari emas 18 karat dan diciptakan oleh seniman terkemuka. Belum lagi ini dipamerkan di salah satu museum terbesar di dunia. Kalau dipikir-pikir lagi, tawarannya tidak seburuk yang kita bayangkan. Namun, kita bisa melihat ada pesan tersirat dari isi suratnya.

America memang kontroversial, tapi tidak ada hubungannya dengan dunia politik. Setidaknya sampai Nancy Spector menawarkan karya tersebut ke presiden. Toiletnya memang terbuat dari emas, tapi tidak ada bedanya dengan toilet biasa. Hebatnya lagi, toilet ini digunakan oleh siapapun. Semua pengunjung museum bebas menggunakan toilet emas ini. Bukankah sangat mirip dengan Gedung Putih yang menjadi rumah banyak orang? Bukankah ini menunjukkan semangat demokrasi? Tawaran ini membuat ceritanya semakin menarik.

Pada akhirnya, Spector meminta maaf atas sikapnya yang lancang. Banyak orang menghujani kritik padanya karena dia seharusnya tidak menyuarakan pandangan politik pribadinya ketika sedang mewakili museum. Kalau saya pribadi, sih, menganggap dia sah-sah saja melakukan itu. Idenya sangat brilian.

Kita seharusnya bersyukur karena diberi kebebasan untuk berpendapat dan menggunakan media sosial, dan juga untuk Twitter. Kebebasan ini memang bisa disalahgunakan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan perubahan menuju kebaikan.

Saya rasa Gedung Putih butuh karya seni yang bagus juga, kok.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE—situs bagian dari VICE.com mengulas seni rupa