Iklan
Kekerasan Seksual

Universitas Singapura Mulai Wajibkan Kelas Anti-Kekerasan Seksual

Kelas ini dibuka menyusul banyaknya kasus pelanggaran seksual yang terjadi di kampus-kampus Negeri Singa beberapa tahun terakhir.

oleh Meera Navlakha; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
28 Agustus 2019, 12:07pm

Foto oleh Michael Yoshitaka Erlewine via Flickr.

Universitas Nasional Singapura (NUS) mewajibkan seluruh peserta didiknya untuk mengikuti mata kuliah baru yang mengajarkan tentang persetujuan dan batasan seksual serta sikap menghormati keputusan orang lain. Kelas ini dibuka menyusul banyaknya kasus pelanggaran seksual yang terjadi di kampus beberapa tahun terakhir.

Kelas daring tersebut bernama “Respect and Consent Culture”, dan pelajarannya dijelaskan lewat video. Apabila mahasiswa tidak mau ikut kelasnya, maka mereka harus menghadiri seminar berdurasi 90 menit.

Selain hal-hal berbau seks dan seksualitas, materinya juga meliputi tindakan yang dianggap sesuai di kampus. Juru bicara NUS berujar kepada The Straits Times masalah yang dibahas nantinya akan “kompleks dan bernuansa”. Mata kuliahnya juga menyertakan contoh-contoh seperti hubungan antara peserta didik dan asisten dosen.

Apa pelajaran yang dapat diambil? “Orang bisa saja membatalkan izin.” Misalnya, ada perempuan lagi ciuman sama pacar, tapi sang pacar mendadak meraba dia. Perempuan itu otomatis mendorong pacarnya. Dari contoh ini, kita bisa menyimpulkan kalau ciuman tak berarti mau berhubungan intim.

Tujuan dibukanya kelas baru yaitu untuk memperketat peraturan tentang pelecehan seksual dan memberikan dukungan kepada para korban. Ini dipicu oleh kasus pelecehan yang dialami Monica Baey, mahasiswi 23 tahun yang direkam saat sedang mandi di asrama oleh mahasiswa NUS bernama Nicholas Lim (23). Dia menangkap basah pelaku dan langsung menuntut NUS lewat akun Instagramnya. Monica menulis, “Saya ingin agar pelaku mendapatkan konsekuensi nyata, dan NUS menindaknya dengan serius…”

Pada 27 April, NUS mengumpulkan setidaknya 600 mahasiswa di aula untuk membahas masalah ini. Pihak kampus mengaku telah mengecewakan Baey. Namun, sejumlah mahasiswa tidak puas dengan pertemuan itu, karena mereka merasa acara berjalan berantakan dan mahasiswa tidak diizinkan menyuarakan aspirasinya.

Dalam surat pernyataan yang dirilis pada 10 Juni, Dewan Pengawas NUS menyatakan akan menerapkan perubahan, yang mencakup hukuman lebih berat dan memberikan kesempatan bagi korban untuk bersuara. Hal ini termasuk mata kuliah persetujuan dalam hubungan seksual.

Selain NUS, Universitas Teknologi Nanyang (NTU) dan Universitas Manajemen Singapura (SMU) juga membuka kelas baru yang membahas masalah ini.

NTU mulai memasukkan mata kuliah baru ini pada Juli. Metode pembelajarannya juga berbentuk video, dan mahasiswa juga boleh memilih ikut seminar langsung. Sementara itu, SMU tengah meluncurkan mata kuliah serupa dalam beberapa minggu mendatang.

Mahasiswa NUS dan NTU tidak membutuhkan nilai untuk lulus dari kelas ini. Namun, semua jawaban akan direkam. Apabila mereka gagal menjawab dengan benar, maka mereka harus mengulang kembali mata kuliahnya.

Penekanan pada persetujuan didasari oleh kritikan yang sering datang setiap ada pelecehan seksual, dan betapa tidak becusnya pihak kampus menangani kasus semacam ini. Dalam tiga tahun terakhir, ada 56 kasus pelanggaran seksual yang tercatat di universitas otonom Singapura, termasuk NUS, NTU dan SMU. 21 kasus terjadi pada tahun akademik 2017/2018, menjadi yang tertinggi hingga saat ini. Dari total 56 kasus, 25-nya terjadi di NUS, 20 di NTU, dan enam di SMU.

Follow Meera di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.