Iklan
The VICE Guide to Right Now

Warga Uighur Unggah Video TikTok, Cari Kerabat yang Hilang Dijemput Aparat Tiongkok

Jutaan orang dari etnis muslim Uighur di Tiongkok menghilang selama lima tahun terakhir.

oleh Gavin Butler; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
22 Agustus 2019, 5:51am

Gambar via Facebook/Tahir Imin Uighurian

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, sekitar satu hingga dua juta warga minoritas Uighur menghilang selama lima tahun terakhir. Mereka diduga dijebloskan ke kamp penahanan di seluruh provinsi Xinjiang barat untuk dicuci otaknya, yang menurut Partai Komunis Tiongkok merupakan program “pendidikan khusus”.

The Guardian melaporkan etnis Uighur kini memanfaatkan TikTok untuk mencari kerabat mereka yang hilang. Selain itu, mereka berharap video TikTok dapat meningkatkan kesadaran publik akan situasi sesungguhnya.

Setiap videonya berdurasi antara 15-60 detik dan menggunakan lagu menyedihkan sebagai backsound gambar-gambar orang hilang, yang ditempelkan potongan foto atau video pengunggah di depannya. Berhubung aplikasi ini menggabungkan video-video yang menggunakan lagu sama, pengguna TikTok bisa melihat kompilasinya dalam satu waktu.

David Brophy, dosen senior Sejarah Tiongkok di Universitas Sydney, memberi tahu The Guardian kemunculan video-video ini menunjukkan “frekuensi pengawasan di Xinjiang sedang berkurang” dan warga Muslim Uighur semakin berani menyerukan ketidakadilan yang menimpa. Mereka juga bersatu melawan kekuatan otoriter yang ada.

“Dengan begini, warga Uighur tak lagi takut mengekspos situasi mereka,” terangnya. “Mereka pasti sudah putus asa, sehingga sampai melakukan ini meski risikonya besar. Ini bisa menandakan titik balik dalam kesediaan penduduk Xinjiang menentang partai berkuasa dan mengekspresikan oposisi terhadap apa yang sedang terjadi.”

Ini bukan pertama kalinya warga Tiongkok menyuarakan perlawanan lewat media sosial. Ketika kepala pemerintah daerah Shohrat Zakir mengklaim akhir Juli lalu bahwa 90 persen anggota suku Uighur yang dibebaskan dari kamp sudah mendapat pekerjaan dan “digaji besar”, orang-orang meresponsnya dengan menyebarkan foto-foto keluarga mereka yang hilang menggunakan tagar #ProveThe90.

Contoh lain bisa dilihat ketika warga menuntut pemerintah memberikan video pembuktian kerabat mereka baik-baik saja lewat tagar #MeTooUighur, setelah media nasional Tiongkok merilis video pada Februari yang menyatakan musisi terkenal Uighur Abdurehim Heyit sehat walafiat dan “tidak pernah disiksa” usai menghilang pada 2017.

Warga Uighur banyak yang menghilang sejak 2014, setelah Partai Komunis Tiongkok meluncurkan “Kampanye Melawan Terorisme”—upaya yang didukung negara untuk memerangi ekstremisme agama dengan menghukum dan mengatur warga Uighur hanya karena mereka Muslim.

Analis dan peneliti belum lama membuat daftar “48 Tanda-Tanda Ekstremis”, berdasarkan wawancara dengan etnis Uighur dan Kazakh yang melarikan diri dari Xinjiang. Dalam video itu, mereka mendemonstrasikan berbagai kegiatan dan perilaku yang bisa membuat mereka ditahan di kamp pendidikan khusus. Beberapa di antaranya yaitu tidak minum alkohol, sahur, dan sedih saat orang tuanya meninggal.


Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.