The VICE Guide to Right Now

Karhutla Indonesia Hasilkan Emisi Karbon Dua Kali Lebih Parah dari Kebakaran Amazon

Temuan ini dilaporkan lembaga di bawah naungan Uni Eropa. Kebakaran Amazon lebih sering disorot media, padahal, dampak api di paru-paru Sumatra dan Kalimantan jauh lebih merusak buat Bumi.
27 November 2019, 12:36pm
Karhutla Indonesia Hasilkan Emisi Nyaris Dua Kali Lebih Parah dari Kebakaran Amazon
Warga Kampar, Provinsi Riau, berusaha memadamkan kebakaran gambut di dekat rumahnya. Foto oleh Wahyudi/AFP

Kebakaran hutan Amazon lebih intens disorot media massa internasional dibanding insiden yang dialami hutan kawasan Sumatra dan Kalimantan. Padahal, kalau dilihat dari skala dampak merusaknya bagi planet Bumi, tragedi kebakaran hutan Indonesia jauh lebih buruk. Menurut riset terbaru, kebakaran hutan di Tanah Air melepaskan sekitar 708 juta emisi karbon ke atmosfer. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan kebakaran hutan kawasan Amazon, di Brasil.

Temuan itu kesimpulan peneliti Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), program riset yang berada di bawah naungan Uni Eropa. Mereka menyatakan kebakaran hutan di Indonesia jauh melebihi tingkat emisi kebakaran di Amazon yang mencapai 366 juta ton karbon selama tiga bulan lalu.

"Hal paling mencengangkan dari kebakaran hutan termutakhir di hutan hujan Indonesia adalah luasan area terdampaknya serta perkiraan emisi yang dihasilkan jauh lebih tinggi dari angka rata-rata selama 16 tahun terakhir," kata Mark Parrington, peneliti CAMS, seperti dikutip dari Mongabay.

Kebakaran hutan di Indonesia tahun ini adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir, serta yang terparah sejak insiden dengan skala serupa empat tahun lalu.

Kala itu, kebakaran hutan di Sumatra, Kalimantan, serta sebagian kecil Sulawesi melepaskan 1.385 megaton karbon. Sedangkan data emisi yang tercatat pada September tahun ini, menunjukkan selisih yang tak jauh berbeda dengan angka 2015.

Padahal angka di atas sudah sangat buruk. Sebab menurut laporan World Resources Institute yang dilansir BBC Indonesia, empat tahun lalu emisi karbon dari kebakaran hutan Indonesia mengalahkan tingkat emisi rata-rata di Amerika Serikat. Patut diingat, Amerika Serikat adalah penyumbang gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Sementara itu, berdasarkan laporan Bloomberg, per 15 November lalu, emisi karbon dari kebakaran hutan Indonesia bahkan nyaris setara dengan tingkat emisi tahunan di negara Kanada.

Faktor utama yang membuat tingkat emisi dari kebakaran hutan Indonesia bisa begitu tinggi adalah karena hampir seperempat dari total area terbakar merupakan lahan gambut. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan emisi karbon dihasilkan kawasan gambut mencapai 82,7 juta ton, itu baru yang terkumpul hingga 31 Agustus lalu. Angka riilnya bisa jauh lebih tinggi lagi. Gambut sudah berulang kali menjadi pemicu kebakaran lahan di nusantara.

Nyaris 36 persen lahan gambut tropis dunia berada di Indonesia. Meningkatnya kebutuhan lahan membuat tanah gambut yang dulu tak begitu banyak dimanfaatkan—karena tingkat kesuburannya yang rendah—kini justru diincar banyak perusahaan perkebunan untuk dieksploitasi. Lahan gambut jauh dari pemukiman warga, sehingga izin untuk mengubahnya jadi area perkebunan lebih mudah didapat. Tak sedikit pula, perusahaan yang mengolah kawasan gambut secara ilegal.

Aksi korporasi inilah yang kemudian seringkali mengawali bencana kebakaran lahan. Sebab, salah satu tahapan pembukaan lahan gambut mengharuskan perusahaan mengeringkan atau membakarnya secara sengaja. Padahal, lahan gambut mempunyai ciri unik sebagai tempat penyimpan alami bagi zat karbon dioksida—hingga sepuluh kali lebih besar dari ekosistem lain. Emisi karbon ini akan terlepas ke udara saat gambut dikeringkan atau dibakar.

Memadamkan lahan gambut yang terlanjur terbakar amat sulit dilakukan. Titik api pada kebakaran lahan gambut umumnya berada pada lapisan bawah tanah. Ketika ini terjadi, harapan satu-satunya agar kebakaran gambut padam hanya jika hujan turun—kondisi yang baru terwujud setelah dua bulan api melalap hutan hujan Indonesia.

Selama musim kemarau tahun ini, sekira 850 ribu hektare lahan di Tanah Air terdampak bencana kebakaran hutan. Meski utamanya disebabkan oleh pembukaan lahan, kebakaran hutan tahun ini diperparah oleh kemarau panjang yang menyebabkan rendahnya rata-rata curah hujan di berbagai daerah.

Saat diwawancarai Mongabay, Anggalia Putri Permatasari, peneliti dari Yayasan Madani Berkelanjutan menjelaskan kenaikan emisi karbon menjadi penghalang bagi target Indonesia memotong emisi karbon hingga sebesar 29 persen pada 2030. "Padahal, tingkat emisi karbon di Indonesia telah menunjukkan penurunan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir," ujarnya.

Anggalia menambahkan, Indonesia sebaiknya bersiap mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan di tahun-tahun mendatang. Mulai saat ini hingga lima tahun ke depan, perlu dilakukan pemetaan terhadap lahan dan emisi dari kebakaran hutan untuk memahami lebih baik pola terjadinya bencana tersebut.

Iklan