Bencana Palu

Enam Bulan Setelah Tsunami dan Gempa, Warga Palu Menjaga Kewarasan Lewat Seni dan Lomba

Para penyintas gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah terus menunggu bantuan dana dan rumah baru dari pemerintah yang tak kunjung direalisasikan.

oleh Ian Morse
01 April 2019, 10:54am

Nandi menjadi juri balapan perahu layar di belakang Hotel Mercure Palu yang sudah runtuh. Semua foto oleh penulis

Bagi ratusan ribu penduduk Palu, menyaksikan rumah yang mereka cintai rata dengan tanah hanya awal dari perjuangan yang terus berlangsung entah sampai kapan.

Pada September 2018, Kawasan Teluk Palu—mencakup Kota Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong—dilanda gempa bumi dahsyat. Lindu memicu likuefaksi, fenonemena pergeseran tanah ekstrem yang jarang disaksikan geolog. Guncangannya meruntuhkan berbagai bangunan seperti hotel dan rumah, serta memutus aliran listrik dan jaringan telepon. Kondisi sebagian kota Palu dengan seketika berubah menjadi kolam lumpur. Tak hanya itu, pergeseran tektonik ini juga memicu tsunami setinggi tiga meter, meluluhlantakkan semua kehidupan di tepi pantai.

Pencarian korban dan penyintasnya memakan waktu lama, tetapi Badan SAR Nasional (Basarnas) tak berhasil menemukan semuanya. Dari 4.402 korban jiwa, hampir setengahnya masih hilang atau dikubur di kuburan massal.

Enam bulan berlalu, penyintas terus menanti kepastian soal dana bantuan untuk membangun kembali hidup mereka. Setiap kepala rumah tangga dijanjikan bakal menerima rekening bank yang berisikan sejumlah uang sesuai taksiran kerusakan rumah. Mereka dijanjikan bakal memperoleh dana bantuan hingga Rp50 juta per KK. Pemerintah juga sempat berniat menyumbangkan Rp10 ribu setiap hari kepada para keluarga yang terdampak gempa selama tiga bulan. Sampai sekarang, belum satupun warga Palu menerima bantuan tersebut.

Permintaan santunan sebesar Rp2,6 triliun untuk pembangunan rumah juga belum ditanggapi pemerintah pusat. Sudah tiga kali pemerintah melewatkan tenggat waktu pemberian dana bantuan. Para pejabat lokal di Palu mengaku ingin memperpanjang masa darurat untuk keempat kalinya bulan depan. Di tengah ketidakpastian, warga Palu mencari cara mengisi hari-harinya. Salah satunya adalah lewat kesenian.

"Daripada pusing pikirkan kenangan kejadian [gempa dan tsunami-red], stres memikirkan harta hilang, daripada saya salah pikiran, saya melukis," kata Abdullah Logata, 57 tahun, yang saat ini tinggal di hunian sementara (HUNTARA) bertembok putih dan dikelilingi pohon kelapa. Dia malu dipanggil pelukis. Tapi seminggu sekali, dia pasti melukis tentang tempat pengungsian dan tsunami yang menghancurkan rumahnya.

1553769624301-DSC08683
Abdullah menunjukkan lukisannya yang berusaha menggambarkan orang-orang yang berlarian ketika tsunami menerjang.

Melukis dapat memberi sedikit pemasukan untuk Abdullah. Tapi, yang lebih penting dari perkara materi, aktivitas melukis membantunya tetap waras. Sayang banyak tetangga dan keluarga di kawasan HUNTARA yang tidak mendukung Abdullah menggambar momen hari nahas itu.

"Banyak warga di sini bilang jangan lukis itu, kita masih trauma," ujarnya. "Saya bilang, bukan mau dijual di indonesia, saya mau kirim ke luar negeri."

Penyintas di seantero Palu punya cara masing-masing buat menyembuhkan trauma, menghasilkan sedikit uang, sembari menanti bantuan membangun kembali rumah mereka. Pemerintah sendiri masih optimis setiap orang yang butuh rumah baru, khususnya yang paling terdampak gempa yakni di Palu dan Donggala, bisa mendapatkan penggantinya selama kurun dua tahun mendatang.

"Posko pengungsian sementara sengaja dibangun untuk bertahan hingga dua tahun, tapi kami masih optimis warga tidak perlu menunggu lebih dari dua tahun," tutur Arie Setiadi Moerwanto selaku anggota Satuan Tugas Pemulihan Palu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Bagaimanapun, dua tahun bukan waktu sebentar untuk hidup dalam ketidakpastian.

"Melaut dan air itu yang hanya torang tahu [sebagai mata pencaharian]," kata Nandi, 45 tahun. Rumah Nandi tersapu ombak, begitu pula perahu yang dia pakai mencari ikan sehari-hari. Bagi Nandi dan tetangganya, menggelar lomba perahu layar jadi cara melipur hati yang berduka.

Ketika VICE menemui Nandi, di sekitar kami warga sedang menyoraki perahu layar sepanjang satu meter balapan di belakang puing-puing bekas Hotel Mercure Palu.

1553769847947-DSC08527
Nandi menjadi juri balapan perahu layar di belakang Hotel Mercure Palu yang sudah runtuh.

Nandi dan 200 keluarga lain dulunya tinggal di pesisir pantai Palu. Mereka sekarang terpaksa menetap di tenda pengungsi. Jarak lokasi pengungsian tak sampai 500 meter dari bibir pantai.

Setiap siang selama dua bulan terakhir, Nandi mengumpulkan 20 peserta balapan. Sekitar 100 penonton rutin datang, menghidupkan kembali semarak lomba balapan perahu layar tahunan di Palu.

Kegiatan ini tak bisa digelar meriah, mengingat banyak warga tak lagi punya pemasukan pasti. Bahan-bahan membuat perahu layar cukup memakai reruntuhan dan sampah. Lomba itu, walau cukup menghibur, belum bisa menenangkan warga. Saya bertanya pada Nandi soal adakah utusan pemerintah yang memberi pengumuman mengenai rencana relokasi atau pemberian kompensasi.

"Tidak ada apa-apa. Kami tidak tahu dorang [pemerintah] ke mana," ujarnya ketus.

1553771565409-DSC08466
Seorang bocah laki-laki berdiri di garis akhir lomba kapal layar yang digelar Nandi setiap hari.

Berdasarkan rencana pemerintah, warga yang kini tinggal di pesisir dan daerah-daerah yang terkena likuefaksi wajib direlokasi ke daerah yang jauh dari tempat kerja dan keluarga.

Merti, 45 tahun, tinggal bersama saudara-saudaranya di sebuah tenda yang dibangun Palang Merah Indonesia di pinggiran Kota Palu. Saban Sabtu malam, ia mengadakan pesta dansa di kamp pengungsian bersama pengungsi yang tinggal di 117 tenda lainnya.


Tonton dokumenter VICE soal rumitnya upaya pencarian korban gempa dan tsunami di Palu:


"Saya dari keluarga seniman. Kakak saya pencipta lagu, ada pencipta tarian," ujar Merti yang berkeringat dan tersengal-sengal setelah menari selama satu setengah jam. Merti mengeluhkan masalah pernapasan yang dialaminya, akibat debu yang melimpah selama proses rekonstruksi pascagempa.

Seperti Nandi, ia belum menerima kabar mengenai kapan boleh pindah ke perumahan sementara. "Makanya saya pasang status di facebook, 'hidup mati di tenda'," katanya.

1554098925719-Screen-Shot-2019-04-01-at-130642
Seorang perempuan membawa ember berisi air ke tenda pengungsian yang dia tinggali enam bulan terakhir.

Jumlah warga yang tinggal di HUNTARA hanya ratusan. Sangat sedikit. Dari ratusan ribu warga yang terdampar, sebagian besar memilih tinggal bersama saudara atau teman-temannya di tenda-tenda sempit, terbuat dari terpal dan triplek. Kebanyakan tenda darurat ini dibangun hanya beberapa hari setelah gempa terjadi.

Merlin, 41 tahun, bersama keluarga besarnya beruntung sempat mengumpulkan triplek dari reruntuhan yang terkena likuefaksi. Mereka memakainya untuk membangun hunian tahan angin.

"Selama ada orang di Petobo, saya juga akan tetap di sini," katanya. Dia mempertanyakan rencana pemerintah, mengapa harus pindah jauh-jauh untuk mendapatkan rumah layak permanen dan uang kompensasi.

1554098982898-Screen-Shot-2019-04-01-at-130632
Anak-anak di lokasi hunian sementara
1554099021009-Screen-Shot-2019-04-01-at-130625
Seorang lelaki membangun salah satu dari ratusan hunian sementara bagi korban gempa dan tsunami Palu

Di Balaroa, daerah paling parah terdampak likuefaksi, warga mengais puing bekas rumah mereka untuk mencari bahan bangunan. Fadli, 29 tahun, rutin mencari batu seukuran kepalanya sebagai bahan pondasi rumah baru, di atas jurang setinggi 15 meter yang tercipta akibat bergesernya tanah.

"Kalau menunggu bantuan pemerintah memang sampai kapan? Nanti lama," tutur Fadli. Hanya warga yang memiliki tanah, uang, dan koneksi ke pejabat yang dapat membangun kembali hidup mereka. Minimal, warga yang masih punya duit akan pindah ke Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Sisanya, yang tak punya sisa tabungan dan pekerjaan, terpaksa menunggu atau memulihkan diri sendiri di Palu. Di sebuah situs reruntuhan berlumuran lumpur terdapat sebuah papan yang berbunyi: "dilarang menggali, mengambil kayu, seng, dan lain-lain. Kami masih butuh barang-barang kami."

1554099062119-Screen-Shot-2019-04-01-at-130617
Seorang laki-laki di Balaroa membangun rumah sementara untuk anak-anaknya dari reruntuhan rumah-rumah yang terisap likuefaksi.
1554099086909-Screen-Shot-2019-04-01-at-130609
Ardiah mendorong gerobaknya melalui salah satu HUNTARA di Palu. Untuk bertahan hidup, dia menjual kue selama tiga bulan terakhir.

Adriah, 38 tahun, termasuk yang harus bertahan di Palu alakadarnya. Dia bersusah payah membiayai sekolah dan makan anak-anaknya, lantaran menjadi janda akibat terjangan tsunami. Berbekal sedikit dana dari salah satu LSM, ia membeli gerobak dan menggunakan pendapatannya membeli bahan kue.

Setiap pagi, Adriah bangun pukul 3 pagi, lalu sibuk membuat kue sampai matahari terbit. Dia akan membangunkan tetangganya dengan teriakan “Kue! Kue!” sampai sore. Hasil jualan kue sekitar Rp30 ribu per hari.

Selama kami ngobrol, Adriah tak bersedia membicarakan suaminya, yang hingga kini nasibnya tak diketahui.

"Tidak usah dipikir. Kami harus menatap ke depan," katanya.