dokumenter

Manuver Benjamin Netanyahu Ancam Jalur Gaza Demi Menang Pemilu Israel

"Netanyahu sedang menghadapi buah simalakama—diam saja salah melihat serangan roket di Gaza. Tapi bertindak melayani Hamas juga sama salahnya," kata pengamat politik.

oleh Julia Lindau
02 April 2019, 4:00am

Kamis (3/11 pekan lalu), dalam kunjungan ke perbatasan jalur Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji negaranya siap menggelar operasi militer jangka panjang jika diserang oleh 'militan' Palestina. Dia buru-buru menegaskan bahwa kemungkinan tersebut adalah opsi terakhir.

Dalam waktu dekat, sepertinya tekad Netanyahu akan benar-benar diuji.

Militer Israel dalam kondisi siaga sepekan terakhir, setelah terlibat saling serang roket dengan Hamas, partai politik sekaligus kelompok bersenjata yang menguasi Jalur Gaza sejak 2007. Akhir pekan lalu, ribuan penduduk Gaza bergerak berbondong-bondong menuju wilayah perbatasan guna merayakan Hari Tanah Air, memperingati dimulainya penjajahan pasukan Zionis.

Sementara itu, Israel memperkuat posisi di kawasan perbatasan dengan mengerahkan sejumlah tank dan menambah pasukan yang ditugaskan di sana.

Netanyahu, yang selama ini mengesankand diri tak pernah gentar melakukan konfrontasi dengan Hamas, secara mengejutkan tampak ebih menahan diri. Dia tidak bicara ceplas-ceplos meremehkan Palestina, seperti biasanya. Pengamat menduga sikap Netanyahu erat hubungannya dengan pemilihan umum yang akan segera digelar di Israel.

"Saya rasa Netanyahu mendapatkan sedikit tekanan politik karena pemilu akan digelar dalam dua minggu mendatang," ujar Lahav Harkov, jurnalis dan analis politik asal Israel, kepada VICE News. "Sangat mungkin respons Netanyahu terhadap situasi terkini di Gaza bisa sangat memengaruhi hasil pemilu."

Jelang pemilu, Netanyahu memang harus berhati-hati dengan Gaza. Posisinya serba salah. Di satu sisi, dia harus menunjukkan sikap tegasnya kepada Hamas (untuk meraih simpati komunitas Yahudi sayap kanan di negaranya). Sementara, di sisi lain, jika Netanyahu memutuskan mengekskalasi konflik di Gaza dan sejumlah penduduk jatuh menjadi korban, perolehan suaranya dalam pemilu mendatang akan terpangkas karena mayoritas penduduk Israel sudah muak dengan perang.

"Sekarang adalah situasi yang serba salah bagi Netanyantu," kata Harkov. "Sesuai teori politik, Netanyahu semestinya mengambil tindakan yang secara strategis menguntungkan Israel. Namun, secara politis. Netanyahu bak sedang menghadapi buah simalakama—diam saja salah, bertindak melayani provokasi Hamas juga sama salahnya."

Tonton wawancara khusus VICE dengan Benjamin Netanyahu di tautan awal artikel ini

Artikel dan video ini pertama kali tayang di VICE News