Iklan
Lingkungan

Jumlah Binatang Dibantai Meningkat Drastis di Seluruh Dunia Akibat Perburuan

Ilmuwan menghasilkan peta yang menunjukkan betapa mamalia menghadapi ancaman penurunan populasi, padahal habitatnya tak rusak. Tentu saja manusia biang keroknya.

oleh Becky Ferreira
31 Mei 2019, 4:23am

Contoh primata di hutan tropis. Sumber foto: Ruth Archer/Pixabay 

Penggundulan hutan memang mengancam keragaman spesies, tapi di kawasan belantara yang masih terlindungi sekalipun, hewan tak lagi bisa merasa aman. Penyebabnya adalah perburuan legal maupun gelap dilakukan manusia, menurut penelitian yang diterbitkan Jurnal PLOS Biology.

Ana Benítez-López, pakar ekologi di Radboud University Belanda, memperkirakan populasi mamalia besar di hutan-hutan tropis seluruh dunia menurun sebesar 40 persen. Penurunan ini tak terkait sama sekali dengan deforetasi. Sebab, mamalia itu banyak yang mati justru di hutan-hutan terpencil—daerah yang bahkan belum terpengaruhi pembalakan liar.

Namun, setelah ditelisik, kematian banyak satwa hutan itu akibat perburuan gencar selama empat puluh tahun terakhir. Jumlah mamalia berukuran sedang, seperti monyet atau kukang, berkurang sebanyak 27 persen, sedangkan angka penurunan semua spesies mamalia di dunia diperkirakan mencapai 13 persen.

Hewan mamalia besar, seperti macan tutul atau gajah, jadi yang paling menderita. Binatang ini sering dibantai manusia karena lebih menguntungkan secara ekonomi di mata pemburu.

"Mamalia besar tidak bisa berkembang biak secara cepat," kata Benítez-López kepada Motherboard. "Artinya ketika mereka nyaris habis diburu, populasinya sulit dipulihkan."

Selain itu, hewan predator besar biasanya mengontrol populasi mangsa di ekosistem. Apabila jumlah mamalia besar berkurang, keseimbangan alam terganggu. Hilangnya mamalia besar bahkan berpotensi memperparah perubahan iklim: kita harus ingat, beberapa pohon yang fotosintesisnya bisa mengontrol laju persebaran emisi karbon juga mengandalkan mamalia untuk membantu penyerbukan.

Untunglah saat ini mamalia kecil, seperti hewan pengerat, tidak begitu menarik bagi pemburu. Setidaknya bajing atau tikus hutan dapat berkembang biak secara cepat sehingga lebih tahan terhadap dampak ulah manusia menurut Benítez-López.

Berbeda dengan penggundulan atau penebangan liar yang dapat dipantau menggunakan satelit, perburuan amat sulit diawasi dampaknya.

Untuk menangkap pengaruh perburuan terhadap mamalia hutan, Benítez-López dan rekan-rekannya memanfaatkan database berisi 3.281 laporan komunitas lokal. Tim peneliti membandingkan data tersebut dengan peta hutan tropis global, lalu menghitung penurunan jumlah hewan di habitat utuh.

Peta ini menunjukkan bila Afrika Barat memiliki angka "defaunasi" (hilangnya hewan) terburuk sedunia, dengan pengurangan populasi hingga 70 persen. Mamalia hutan di Amerika Tengah dan Asia Tenggara—terutama Thailand, Malaysia, dan Tiongkok—juga mengalami risiko tinggi diburu manusia.

Penelitian ini sekaligus menyoroti perlunya kita mengubah taktik pelestarian hutan, agar melindungi mamalia dari perburuan.

"Dengan peta-peta ini, kami dapat menentukan daerah mana saja yang butuh upaya pemantauan ektra. Dengan begitu, kita bisa lebih cepat melihat perkembangan populasi mamalia di hotspot defaunasi," ujar Benítez-López.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:
Kerusakan Lingkungan
penelitian
Sains
Perubahan Iklim
Pemburu
Satwa Langka
Konservasi Alam
perburuan liar
Populasi Satwa