Iklan
Geng Pelajar

Kisah Gadis Gangster Brutal Paling Diburu Polisi di Tangerang

Panggilannya Dea Imut, usia masih 16. Sepak terjangnya tak imut sama sekali. Dia jadi buronan polisi karena memimpin geng remaja dan rutin mengorganisir tawuran yang makan korban jiwa.

oleh Ikhwan Hastanto
14 Juni 2019, 12:13pm

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut.

Namanya Dea Imut. Ia berusia 16 tahun, domisili di Tangerang, dan disebut-sebut putus sekolah. Berkebalikan dengan embel-embel “Imut” pada namanya, prestasinya akhir-akhir ini tidak imut sama sekali. Ia jadi buronan polisi karena memimpin geng remaja dan mengorganisir tawuran yang makan korban jiwa. Dia gadis gangster dalam arti harfiah, bukan perempuan cadas yang menarik perhatian di lantai dansa seperti lagu klasik The Upstairs.

Minggu (9/6) dini hari, Geng Syaraf 34 yang juga berjuluk “Kutabumi” pimpinan Dea, bentrok melawan geng Tangerang lainnya bernama Cadas. Tawuran ini membuat seorang anak laki-laki berusia 16 tahun anggota Geng Cadas tewas.

Polisi sudah menangkap 15 pemuda dari kedua geng, namun Dea dan lima orang pengikutnya masih dalam pelarian. Dea tidak ikut hadir di lapangan untuk bertawur, karena sebagai ketua geng perannya ada di balik layar.

Tugas Dea sebagai pemimpin ialah mencari lawan, mengumpulkan teman, dan menentukan tempat tawuran. Semua dilakukan lewat Instagram. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono bilang, Dea menentukan calon lawan gengnya secara acak. Syaratnya hanya satu, geng yang disasar berdomisili di Tangerang.

Dea sudah lama menjadi buronan polisi karena gengnya sudah berkali-kali berusuh.

"Selama ini kalau mau tarung, dia [Dea] yang cari musuhnya melalui IG. Dia yang tulis dan kirim [pesan tantangan kepada geng lawan]. Dia harus cari personel, siapa saja yang mau ikut. Kalau korban yang meninggal ini cabutan," kata Kapolsek Sepatan AKP I Gusti M.S, dikutip dari Sindonews.

Pada aksi tawuran terakhir sebelum kabur, Dea berhasil memobilisasi 20 pemuda terlibat tawuran membela panji Geng Syaraf 34. Sepak terjang remaja perempuan berusia 16 tahun itu cukup mumpuni. Dea didaulat menjadi pemimpin geng yang diisi para lelaki.

"Dia yang mengendalikan sosmednya [Syaraf 34]. Dia yang mengatur dan membuat janji tarung," Kata Kabid Humas Polda Metro JayaKombe Pol Argo Yuwono, dilansir Sindonews.

Setelah mencari musuh, Dea kemudian berdiskusi dengan lawan soal tempat tawuran. Argo juga membacakan percakapan antar Dea dan R, pemimpin geng Cadas, terkait perencanaan tawuran. Di percakapan tersebut, terjadi diskusi antar keduanya mengenai lokasi mana yang dianggap netral. Akhirnya, dua pemimpin geng ini sepakat agar tawuran dilakukan di depan sebuah sekolah dasar di Kampung Teriti, Kecamatan Sepatan, Tangerang.

Kejadian ini menambah daftar kekerasan remaja yang dipicu dari media sosial. Tahun lalu, juga di Kota Tangerang, sempat terjadi tawuran antar pelajar SMK Sasmita dengan SMK Bhipuri. Tawuran ini berawal dari saling ejek di media sosial yang berujung kelahi langsung. Sementara itu di Magelang, tawuran pelajar bentrok menewaskan Nasrul Aziz juga berawal dari saling tantang di media sosial.

Menurut pengamat media sosial Agus Sudibyo, saling ejek di internet mempunyai pengaruh besar untuk berujung pada kelahi langsung. "Media sosial menipiskan empati kita dengan lawan bicara. Maka kita cenderung berbicara semaunya sendiri," ujar Agus kepada Kumparan.

Agus menyarankan, pemerintah perlu mengadakan lebih banyak seminar menyasar remaja, tentang cara menggunakan media sosial yang bijak. Menurutnya, penggunaan media sosial tidak bertanggung jawab akan mempermudah pelajar merencanakan tawuran secara lebih terstruktur, sistematif, dan masif.

Gagasan tersebut diamini Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listiyarti. Kini, menurut Retno, perencanaan tawuran sering dilakukan dini hari ketika jalanan masih sepi dan melibatkan tidak hanya teman satu sekolah.

Dalam kenyataannya, pertengkaran di media sosial berlanjut ke dunia nyata tidak pantas disebut sebagai ketidakbijakan remaja saja. Baku hantam di Istora Senayan antara dua pengguna Twitter @Redinparis dan @panca66, gara-gara sebelumnya mereka twitwar (soal Jokowi pula, masya Allah) bisa jadi preseden tuh.

Netizen pun lebih puas jika para keyboard warrior pukul-pukulan beneran pakai tangan. Kecenderungan itu bisa diukur dengan meluasnya komentar generik “gitu dong, kelahi” atau "tangan diciptakan untuk baku hantam".

Pengamat boleh mengusulkan seminar sebagai solusi, namun yang jelas-jelas sudah berkontribusi meredam tawuran justru ojek online. Selain selalu siaga di jalanan selama 24 jam, kemampuan driver ojol mengurai tawuran sudah terbukti di Bogor. Segarang-garangnya Dea Imut sang gadis gangster, jelas tak ada apa-apanya dibanding driver ojol yang bersatu padu.