Orang Sering Jerawatan Semasa Mudanya Kata Penelitian Cenderung Hidup Sukses

Jerawat rupanya enggak seburuk yang ada di pikiran remaja.

|
13 Juni 2019, 12:07pm

Foto ilustrasi oleh Lyndsay Russell / Alamy Stock Photo. 

Kita sepertinya bisa sepakat kalau jerawat—mau itu beruntusan atau enggak—sangat menyebalkan dan merusak hidup. Makanya, siapa sangka masalah kulit ini ada sisi positifnya juga.

Jerawatan ternyata dapat membantu kita memperoleh nilai lebih bagus, dan menghasilkan uang banyak. Seenggaknya, begitulah penjelasan Erik Nesson dan Hugo Mialon dalam penelitiannya “Do Pimples Pay? Acne, Human Capital and the Labour Market” yang terbit April lalu di Journal of Human Capital.

Dalam postingan blog, Mialon mengumumkan telah menemukan hubungan positif antara jerawat dan performa belajar seseorang. Mereka juga menemukan jerawatan berkaitan dengan pendapatan pasar tenaga kerja yang lebih tinggi untuk perempuan. Akan tetapi, studinya tak secara khusus mengamati perbedaan jenis kelamin, sehingga peneliti tak bisa berkomentar lebih jauh soal ini beserta alasannya.

Nesson mengaku kepadaku mereka cukup terkejut melihat hasilnya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah hubungannya kausal? Bisakah kita bilang orang bekerja lebih keras karena jerawatan? “Masuk akal kalau hasilnya menunjukkan sebab-akibat,” tuturnya, “kami juga berusaha memberikan bukti hasilnya tak hanya sekadar korelasi.”

Tapi ini spektrum yang sangat besar, bukan? Pasti ada saja orang yang jerawatnya parah banget sampai-sampai mereka lebih suka belajar daripada bersosialisasi. Sederhananya, mereka terlalu tertekan untuk melakukan hal produktif. “Benar sekali,” jawab Nesson. “Hasil penelitian kami mengamati perubahan rata-rata pendidikan dan pendapatan. Ada siswa yang performa belajarnya memburuk dan memperoleh pendapatan tak memuaskan karena jerawat, dan ada juga yang merasakan dampak positifnya.”

Lelaki 31 tahun bernama Bash Tayou menceritakan betapa jerawat merugikan masa-masa sekolahnya. “Saya enggak PD sama penampilan sendiri waktu masih sekolah,” kata lelaki Palestina tersebut. Dia menambahkan bakalan lebih berani bertanya ke guru, kerja kelompok, dan lebih sering membaca dan belajar kalau enggak jerawatan.

“Saya dulu suka pelajaran teater, tapi malu tampil di depan teman-teman. Saya enggak mau orang menyadari wajah jelekku,” lanjutnya. Menurutnya, jerawat menghalangi keinginannya berakting. “Sayangnya, saya terlalu mengkhawatirkan jerawat waktu itu. Sebagian besar hidup saya hancur karena dikendalikan jerawat.”

Sami Blackford, 35, justru beranggapan sebaliknya. Penulis sekaligus formulator produk kecantikan ini sukses mendirikan perusahaan skincare Freyaluna berkat jerawat. Dia sangat pemalu dan benci "diperhatikan" di sekolah. Dia merasa satu-satunya orang yang jerawatan. "Saya paling enggak suka jadi pusat perhatian," ungkapnya. Hasilnya, dia jadi rajin belajar.

"Saya malu bersosialisasi karena enggak PD dengan penampilan. Saya bukan tipe penyendiri, tapi saya jarang ngumpul-ngumpul dan sebagainya. Itu artinya saya punya lebih banyak waktu buat belajar."

Alasan Blackford mendirikan Freyaluna pada 2014 apalagi kalau bukan karena kulit wajahnya yang sering bermasalah. "Saya bersyukur sering jerawatan, karena sekarang saya jadi sukses."

Di sisi lain, Tayou mengurungkan niatnya bekerja di bidang marketing gara-gara beruntusan. "Jerawatnya muncul lagi setelah lulus kuliah. Malah lebih parah,” terangnya. “Profesi marketing mengharuskanku berhadapan langsung dengan orang lain. Mana berani saya melakukannya? Ujung-ujungnya, saya mengabaikan kesempatan.” Wajahnya tampak lebih mulus sekarang berkat accutane, tapi menurutnya, dia sudah terlambat mengejar impian. “Saya terlanjur menghabiskan empat tahun melakukan pekerjaan membosankan.” Dia enggak menyukai pekerjaannya sebagai administrator pendidikan, tapi sudah terlambat buat ganti profesi.

Nesson menjelaskan kalau jerawatan parah ada hubungannya dengan “nilai bagus, rendahnya harga diri, dan kurangnya sosialisasi dalam jangka pendek,” sementara jerawatan biasa bisa membawa hal positif dalam jangka panjang (yaitu seberapa besar kemungkinan seseorang memperoleh pendapatan tinggi). “Ini sesuai dengan jerawat parah membatasi sosialisasi, sehingga memengaruhi hasil jangka panjang yang mungkin tergantung pada belajar dan pada kemampuan bersosialisasi.”

Intinya, kalian enggak perlu terlalu mengkhawatirkan jerawat. Namun, temuan ini cukup kompleks. Kalian bisa saja jadi orang kaya karena jerawat membuatmu rajin belajar, tetapi bisa juga menghalangimu mengejar impian karena malu berhadapan dengan orang lain.

Nesson berharap penelitian mereka bisa menenangkan pikiran orang-orang yang sering jerawatan. Bagi Blackford, yang jerawatnya masih suka timbul, dia jadi lebih peduli dengan kesehatan tubuhnya.

"Inilah alasannya saya enggak bete pas jerawatan."

@OhHiRalphJones

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.