Menerabas Tabu

Sering Bikin Keluarga Berantem, Kami Minta Opini Anak Muda Soal Harta Warisan

Di Indonesia beberapa kali muncul berita anak gugat ortu gara-gara warisan. Meski sensitif, tiap orang pasti akan berurusan sama warisan. Gimana anak muda memandang dilema ini? Berikut jawaban mereka.
14 Agustus 2020, 12:19pm
Pembagian harta warisan di Indonesia sering bikin keluarga saling gugat di pengadilan
Ilustrasi rumah warisan ortu via Pexels

Berkali-kali kita membaca berita soal anak yang menuntut orang tuanya gara-gara perkara warisan di Indonesia. Kasus terbaru menimpa Praya Tiningsih, perempuan 52 tahun di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Praya digugat anak kandungnya, Rully Wijayanto, gara-gara minta kejelasan warisan tanah yang ditinggalkan almarhum suaminya. Sang anak merasa ada hak miliknya yang tidak diberikan kepadanya dari tanah seluas 4,2 are tersebut. Sengketa hukum ini diprediksi bakal panjang karena kedua pihak enggak mau berdamai.

“Dia [Rully] tetap ngotot agar tanah itu tetap dibagi. Padahal, wasiat bapaknya tidak boleh untuk dibagi. Jadi, dia tidak ingin berdamai, saya pun tidak ingin berdamai, biar deh lanjut perkaranya,” kata Ningsih saat sidang keempat di Pengadilan Agama Lombok Tengah, dilansir Kompas. “Pokoknya saya tidak maafkan dia. Pokoknya dia harus bayar air susu saya. Saya sudah capek jadi ibu, saya sudah bosan.”

Kejadian serupa terjadi di Probolinggo, Jawa Timur, pada 2019. Annete Sugiharto (40) menggugat ibu kandungnya, Meliana Anggraeni (68), ke Pengadilan Negeri Kota Probolinggo. Anne melayangkan gugatan setelah namanya tidak masuk dalam hak waris sebuah rumah dan tanah seluas 984 meter persegi atas nama sang ayah.

Dalam daftar hak waris, hanya nama ibu dan dua saudara kandungnya yang tercantum. Kuasa hukum tergugat mengatakan tidak tercantumnya nama Annete disebabkan karena ia sudah 15 tahun tidak berkumpul dan berkomunikasi bersama ibunya.

Mariamsyah Boru Siahaan (74) bernasib serupa. Dia dituntut oleh tiga anaknya di PN Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Alasannya, tiga anak Mariamsyah tidak sepakat atas tindakannya menjual satu unit rumah di Kota Medan seharga Rp800 juta. Si anak sulung, Bontor Panjaitan, mengungkap alasan dia menggugat karena tidak mendapatkan bagian atas penjualan rumah tersebut.

Harta warisan berulang kali bikin masalah internal keluarga di berbagai daerah. Kadang sampai masuk berita, seringkali jadi kasak-kusuk keluarga besar dan tetangga.

Meski begitu, enggak dimungkiri bila kekayaan serta aset yang diturunkan ini membantu ekonomi banyak orang.

VICE kemudian bertanya kepada beberapa anak muda Indonesia tentang pandangan mereka melihat warisan. Terutama soal, tradisi ini perlu dilanjutkan enggak sih? Atau sudahkah mereka berdiskusi dengan orang tua soal pewarisan harta kelak? Berikut jawaban beberapa anak muda yang kami hubungi. 


Abie Zaidannas, 27 tahun. Sudah menikah dan memiliki tiga adik. Tinggal di Yogyakarta, dia bekerja di LSM sembari merintis usaha kreatif.

VICE: Halo Abie. Menurutmu tradisi warisan penting untuk dilanjutkan atau enggak sih?
Abie: Harus dong. Warisan itu kan bentuk dari wealth generation. 

Gimana tuh maksudnya?
Kesejahteraan yang diturunkan. Aku membayangkan kalau banyak orang Indonesia enggak bisa akses warisan, generasi milenial bisa broke semua. Beli rumah dan menabung sekarang lebih susah.

Tapi banyak juga yang ribut gara-gara warisan….
Menurutku, yang harus diperbaiki adalah mindset terhadap warisan. Biasanya orang tabu bicara warisan sebelum meninggal. Kita nganggepnya enggak sopan. Jadi ditunda-tunda atau dihindari pembahasannya. Jadi pas kejadian [pewaris meninggal], ada potensi konflik. Pengalamanku sih yang penting dibahas sama yang ngasih warisan.

Menurutmu gimana cara normalisasi diskusi kematian dan harta sama keluarga?
Yang muda harus inisiasi. Segera ajak ngomong orang tua soal warisan kalau melihat ada potensi konflik. Kumpulin semua anak atau saudara untuk membahas mumpung orang tua masih sehat. Kalau nunggu yang tua inisiatif, enggak akan kejadian kayaknya.

Ada pengalaman soal ini kah?
Warisan kakekku baru dibagi setelah bapakku meninggal. Itu sempat agak ribut karena udah beda dua generasi. Karena ahli waris meninggal, warisannya jadi turun ke ahli warisnya ahli waris. Bingung kan? Hahaha….

Enggak kebahas karena tabu?
Tabu dan diulur-ulur aja. 


Jyestha, 27 tahun. Tinggal di Jakarta bersama suaminya. Ia memiliki seorang anak dan tiga saudara kandung. Sehari-hari, ia adalah pekerja swasta dan mahasiswa pascasarjana.

VICE: Halo Jyestha. Apa pandanganmu soal warisan?
Jyestha: Secara pribadi gue enggak pernah fokus ke warisan atau harta orang tua. Udah dewasa, hidup dengan pilihannya sendiri sehingga bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kalau ada rezeki, harta, atau apa pun yang diturunkan dari orang tua ke anak, gue ngeliat itu sebagai hadiah dari mereka ke gue. Dan lo enggak bisa mengandalkan hadiah sebagai salah satu sumber penghidupan dan penghasilan lo.

Apa pendapatmu melihat kasus banyak yang gugat-menggugat gara-gara warisan?
Secara agama gue tahu gue berhak [atas warisan]. Tapi, hak itu kan bisa gue peroleh, bisa juga enggak gue peroleh. Dan karena gue enggak bergantung sama harta atau warisan, makanya enggak bisa relate kenapa ada yang sampai gugat-menggugat.

Lo tipe yang segera membicarakan harta ke keluarga atau tipe yang “Ya udahlah nanti aja”?
Udah sempat bahas soal aset-aset yang bokap-nyokap gue punya dan ekspektasi mereka terhadap aset-aset tersebut ketika diturunkan. Gue mikirnya cukup tahu aja soal ekspektasi itu dan berusaha memenuhinya. Jadi bisa dibilang gue tipe yang “Ya udahlah nanti aja” atau enggak usah diobrolin sekalian terima jadi pembagiannya gimana terserah deh. Hahaha.

Banyak yang enggak ngomongin warisan dari awal karena tabu….
Menurut gue enggak tabu sih karena meninggal itu enggak bisa dihindari. Uang juga udah enggak tabu selama jelas tujuan ngomongin warisannya bukan yang rebutan.

Kalau disuruh milih, warisan sebaiknya dilanjutkan atau tidak?
Tergantung. Kalau kondisi ada anggota keluarga punya kebutuhan khusus dan mendesak, bisa dialokasikan dalam wealth management dengan konsensus bersama. Tapi secara umum, sebaiknya dijadiin charity buat pihak yang lebih membutuhkan. Kalau meyakini konsep agama kan itu semua bisa jadi pahala buat orang tua kita.


Gesit dan Intan, suami-istri, 33 tahun. Memiliki tiga anak dan tinggal di Bekasi, mereka bersama-sama merintis usaha kafe dan wadah kreatif.

VICE: Konsep tradisi warisan di Indonesia menurut kalian gimana?
Gesit (G): Warisan kan beragam. Ada yang bisa diukur kayak uang, utang, dan aset. Ada yang enggak bisa diukur kayak pengetahuan dan nilai-nilai keluarga. Nah, menurutku, warisan yang enggak bisa diukur ini yang perlu untuk diturunkan. Kayaknya generasi saat ini udah merasa kalau warisan uang dan aset itu bonus aja. Kalau dalam konteksnya penumpukan materi semata yang kerap menimbulkan keributan dalam keluarga, saya sih anggap tidak perlu. Perselisihan kan tidak dekat dengan kesejahteraan.

Intan (I): Menurutku itu bukan tradisi ya. Secara hukum agama memang warisan harta dan utang itu hak atau kewajiban anak dari orang tua yang sudah meninggal. Dua-duanya menurut pandanganku wajib diselesaikan. 

Udah ngobrol sama keluarga masing-masing soal ini? Perlu enggak sih cepat-cepat?
G: Sempat diobrolin tapi belum detail. Biasanya tiap Lebaran kami berenam (Gesit adalah anak sulung dari enam bersaudara) ngumpul buat ngomongin visi-misi keluarga dan masing-masing orang. Biar klop satu sama lain sekaligus update kehidupan. Nah, warisan biasanya salah satu bahasan juga. Karena emang Bapak bukan tipe yang suka numpuk aset, jadi selama bisa adil buat bareng-bareng, ya semua sepakat aja.

I: Pembahasan secara serius, enggak. Sekelebat aja.

Rencana pendekatan ke anak nanti gimana soal warisan? Nunggu mereka ngomong atau inisiatif sendiri?
G: Disampaikan aja sendiri. Aku sama Intan punya apa aja, entar dibagi rata sesuai kebutuhan. Walaupun ada hukum agama, tapi tetep disampein kalau kudu adil dan demokratis. Yang kayak gini sensitif dan perlu sih. Bakal aku yang [inisiatif] ngomong, atau nanti diingetin Intan kalau lupa.