Kerusakan Lingkungan

Penelitian Anyar Memastikan Ciliwung Termasuk Sungai Paling Kotor Sedunia

Selain menghancurkan ekosistem di aliran sungai, peneliti asal Belanda menyimpulkan sampah yang memenuhi Ciliwung berdampak pada rutinnya banjir menggenangi Ibu Kota saat musim hujan.
24 Februari 2020, 6:35am
Peneliti Belanda Sebut Sungai Ciliwung Termasuk Sungai Paling Kotor Sedunia
Seorang lelaki melintasi salah satu ruas Sungai Ciliwung yang dipenuhi sampah. Foto oleh Adek Berry/AFP

Artikel ini diterbitkan untuk Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari lalu.


Disebut sebagai negara terbesar kedua penyumbang sampah plastik lautan di dunia, Indonesia memiliki target ambisius untuk mengurangi sampah plastik lautan hingga 70 persen pada 2025.

Pemerintah Indonesia mungkin harus mempertimbangkan beberapa hal untuk mencapai target tersebut. Penelitian kami di tahun 2018 mengindikasikan bahwa sungai Ciliwung, yang membelah ibu kota negara Jakarta, berada dalam daftar sungai terkotor di dunia.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari Indonesia dan Belanda, serta bekerja sama dengan Waste4Change tersebut menemukan bahwa sampel yang diambil dari sungai Ciliwung tercemar lebih parah ketimbang dari setidaknya 20 sungai di Eropa dan Asia Tenggara yang juga menjadi subyek penelitian kami.

Kami melakukan pengawasan terhadap makroplastik, atau plastik dengan ukuran lebih dari lima milimeter, di lima lokasi di sepanjang sungai Ciliwung di bulan Mei 2018. Hasilnya, sebanyak 20.000 barang berbahan plastik mengalir ke Laut Jawa setiap jam.

Angka ini jauh lebih tinggi daripada sungai Chao Phraya di Thailand sebanyak 5.000 barang per jam, sungai Seine di Prancis sebanyak 700 per jam and sungai Rhine di Belanda dengan 80 per jam. Selain itu, studi ini juga menghitung berat total sampah plastik dari seluruh kali di Jakarta mencapai 2,1 juta kilogram. Ini setara dengan 1.000 mobil Tesla Model S.

Dari lima lokasi yang kami survei, kami lebih banyak menemukan kantong plastik dan bungkusan makanan plastik. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat banyak membuang sampah rumah tangga mereka langsung ke sistem air.

Penemuan lainnya adalah jumlah sampah plastik lebih tinggi saat lebih banyak air. Hal ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa sampah plastik akan lebih banyak dialirkan pada musim hujan, yang menjadi puncak aliran air. Apabila Jakarta ingin berkontribusi dalam penurunan polusi plastik global, maka perlu menurunkan sampah plastik sebelum memasuki musim puncak, yaitu musim hujan.

Dari perspektif sains, saya mengusulkan agar kota-kota dan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia untuk melakukan monitoring sampah plastik di sungai dan kanal mereka. Walau terbilang baru, penelitian yang dinamakan sebagai riverine plastic pollution atau sampah plastik dari sungai, memiliki kunci untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke lautan.

Perlu ada titik ukur (benchmark) dalam melihat polusi plastik di sungai di seluruh dunia. Hal ini akan membantu pemerintah menentukan prioritas sungai yang harus dibersihkan terlebih dahulu dan menjamin efisiensi teknologi yang dipilih.

Wageningen University and Research di Belanda sedang berkolaborasi dengan universitas-universitas di Indonesia, seperti ITB, ITS, IPB, LIPI, dan Kementerian Maritim dan Perikanan, untuk melakukan studi terhadap 20 sungai terkotor di pulau Jawa, pulau terpadat penduduk di Indonesia.

Studi ini bertujuan untuk menyediakan rekomendasi berbasis data terkait dengan penurunan sampah plastik di Indonesia.

Mengetahui asal sampah plastik, cara mereka memasuki sistem air dan perbedaan setiap tahun penting bagi para pemangku kepentingan untuk mencegah agar tidak banyak sampah yang akhirnya terbuang ke laut.


Tim van Emmerik adalah Guru Besar kajian Hydrologic Sensing dari [Wageningen University_](https://theconversation.com/institutions/wageningen-university-943)_

Artikel ini dipublikasi ulang dari The Conversation berdasarkan lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya di sini.

Iklan