Iklan
Budaya

Plot Film 'Jojo Rabbit' Mengingatkanku pada Tren Intoleransi di Pendidikan Indonesia

Satir perang sutradara Taika Waititi ini menyadarkanku, sekalipun Eropa dan Indonesia punya sejarah berbeda, dampak indoktrinasi orang dewasa pada anak selalu berujung pada ketidakmampuan menerima perbedaan.

oleh Adelia Rahma Santoso
09 Januari 2020, 6:00am

Foto cuplikan adegan film Jojo Rabbit dari arsip 20th Century Fox/via imdb

Melalui gambaran fiktif dari mereka yang mengalami Perang Dunia II, film Jojo Rabbit menyoroti isu bigotry dari perspektif anak-anak dan kepolosannya. Sekalipun berakar pada sejarah kelam Eropa, ceritanya rupanya bisa menjadi bahan refleksi penting saat kita melihat problem intoleransi, yang semakin menguat selama beberapa tahun terakhir dalam dunia pendidikan Indonesia.

"Aku bersumpah akan membaktikan seluruh tenaga dan kekuatanku untuk sang penolong negeri ini, Adolf Hitler. Aku bersedia dan siap menyerahkan hidupku untuknya, jadi tolong penuhi keinginanku Tuhan."

Monolog di atas membuka film Jojo Rabbit. Kalimat itu mungkin akan terasa lebih pas jika diucapkan oleh karakter pria dewasa berotot yang punya latar belakang sebagai petinggi Nazi atau semacamnya. Nyatanya, di film Jojo Rabbit, kalimat yang sarat dengan fanatisme itu terdengar janggal, lantaran diucapkan oleh seorang bocah laki-laki imut berusia sepuluh tahun bernama Jojo Betzler.

Jojo mengucapkan monolog itu sembari berdiri di depan kaca untuk memotivasi dirinya sendiri sebelum berangkat menuju perkemahan Hitler Youth, yang diselenggarakan pada masa Perang Dunia II dengan tujuan untuk menanamkan ideologi Nazi pada anak-anak berusia 10 hingga 14 tahun.

Tak lama berselang, penonton diperkenalkan pada sosok Hitler, meski dalam bentuk parodinya yang diperankan oleh sutradara film itu sendiri, Taika Waititi. “Hitler” versi Waititi ini sebenarnya cuma teman khayalan dari Jojo yang dalam film ini digambarkan sangat mengidolakan sosok diktator Jerman itu.

Jojo Rabbit adalah film satire anti-perang yang menceritakan rangkaian peristiwa dalam kehidupan seorang anak laki-laki bernama Jojo Betzler menjelang berakhirnya Perang Dunia II. Jojo, yang punya fanatisme tinggi terhadap Nazi, suatu hari tanpa sengaja mendapati ibunya ternyata menyembunyikan seorang gadis Yahudi bernama Elsa di balik dinding rumah mereka. Perkenalannya dengan Elsa, dan beragam peristiwa lain yang ia alami, pada akhirnya mendorong Jojo mempertanyakan kembali berbagai dogma nasionalisme Nazi yang diajarkan padanya selama ini.

Film yang diangkat dari novel Caging Skies karya Christine Leunens ini memenangkan People’s Choice Award dalam Toronto International Film Festival (TIFF) 2019. Sebagai catatan, film pemenang People’s Choice Award di TIFF umumnya selalu melenggang ke jajaran nominasi Oscars. Pada gelaran Golden Globes tahun ini, Jojo Rabbit juga menjadi salah satu nominasi Best Picture dalam kategori film musikal/komedi.

Di balik temanya yang bersentral pada kejadian semasa perang, Jojo Rabbit sesungguhnya justru berusaha menampilkan bagaimana bigotry dalam diri seseorang seringkali dampak dari indoktrinasi yang ia pelajari dari lingkungan sosial seiring proses bertumbuh dewasa.

Pada salah satu adegan, Fraulein Rahm (diperankan dengan kocak oleh Rebel Wilson), pembina di perkemahan Hitler Youth, menggebu-gebu saat menjelaskan pada Jojo dan kawan-kawannya mengenai kaum Yahudi dengan deskripsi yang absurd dan menggelikan. Meski dibungkus dengan humor, apa yang dilakukan Fraulein Rahm adalah gambaran dari proses indoktrinasi untuk menumbuhkan fanatisme dalam diri anak-anak itu.

Adegan itu jadi mengingatkanku dengan salah satu pengalamanku saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat itu, aku dan beberapa teman mengadakan program mengajar di sekolah dasar setempat. Suatu hari, untuk mengisi jeda antar pelajaran, para siswa diminta oleh guru mereka untuk melakukan "tepuk anak saleh."

Tepuk itu mulanya berisi ragam pesan religius seperti pada umumnya. Namun, aku jadi terkejut ketika mereka sampai pada bagian akhir lagu dan tiba-tiba menyerukan "Islam, Islam, Yes! Kafir, kafir, No!" (Cukup ironis juga, sebab mereka menggunakan Bahasa Inggris alih-alih Bahasa Arab di bagian akhir sorakan).

Saat mengamati ekspresi tiap anak, yang bisa aku lihat hanyalah semangat ketika menyorakkan kalimat itu, seakan mereka tak benar-benar memahami maknanya. Mereka begitu terfokus dengan guru yang memandu di depan. Sementara itu, satu-satunya anak yang beragama lain di ruangan itu hanya duduk terdiam di sudut kelas. Di kemudian hari, aku mendengar cerita yang sama dari sejumlah teman yang menjalani KKN di berbagai wilayah lain.

Nyatanya, "tepuk anak saleh”" itu pada 2017 pernah memicu polemik di Banyumas, Jawa Tengah. Saat itu, Ketua Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi) wilayah Banyumas, Khasanatul Mufidah, menyoroti bagian akhir dari tepuk itu yang berpotensi menanamkan intoleransi dalam benak para siswa.

Berbagai statistik menunjukkan bila isu intoleransi merupakan krisis serius dalam sistem pendidikan Indonesia beberapa tahun terakhir. Pada 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melansir hasil survei dari sejumlah wilayah Indonesia yang menyatakan bahwa 8,2 persen pelajar menolak Ketua OSIS dari agama berbeda, sedangkan 23 persen responden merasa lebih nyaman dipimpin oleh siswa yang seagama.

Sementara itu, survei dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2017 menunjukkan bahwa 34,3 persen dari responden mahasiswa dan pelajar yang beragama Islam memiliki pandangan intoleran terhadap pelajar pemeluk agama lain. Sebanyak 48,95 persen dari mereka merasa pendidikan agama mempengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan mereka yang berbeda iman.

Lebih lanjut, 58,5 persen responden menunjukkan pandangan keagamaan yang cenderung mengarah pada radikalisme. Pada 2018, hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah menggambarkan bahwa kecenderungan terhadap intoleransi dan radikalisme juga ditunjukkan oleh para guru di Indonesia, mulai dari tingkat TK hingga SMA.

Menanggapi realitas kelam ini, aku kembali ingin mengutip salah satu adegan berkesan dalam film Jojo Rabbit yang menampilkan momen saat Jojo dan ibunya, Rosie, sedang mengobrol di pinggir sebuah sungai yang indah.

Rosie mengatakan seorang anak sepuluh tahun seperti Jojo seharusnya sibuk memanjat pohon serta bersenang-senang, bukannya ikut merayakan perang atau terseret dalam politik. Jojo berkilah, bahwa ketika Jerman menang, maka para pemuda lah yang akan memimpin dunia.

Di akhir adu argumen mereka, Rosie memberi jawaban yang akan selalu relevan bagi penonton di manapun:

"Kekaisaran baru Jerman seperti diimpikan Nazi sudah tamat. Kita akan kalah perang ini, jadi apa yang bakal kau lakukan? Menurutku, akui saja hidup ini anugrah, dan sebaiknya kita rayakan. Kita hargai kehidupan. Kita harus berdansa sebagai wujud syukur pada Tuhan, bahwa kita masih diberi kehidupan."

Sekalipun Jojo Rabbit adalah kisah satir berbungkus komedi, selesai menontonnya yang aku rasakan adalah rasa khawatir, membayangkan berapa banyak anak-anak di dunia ini tumbuh dengan didikan fanatisme sejak dini. Dan ketika dewasa, mereka tak lagi menerima perbedaan sebagai fitrah kehidupan.

Tagged:
indonesia
Hitler
Nazi
Views My Own
Taika Waititi
Intoleransi
Budaya Pop
Opini
Kritik Film