Perubahan Iklim Menggeser Perbatasan Antara Italia dan Austria

Perbatasan negara telah berubah secara dramatis. Pergeseran gletser merupakan hal yang normal, tapi dampak dari global warming telah menyebabkan proses pencairan es menjadi jauh lebih cepat dari yang diduga. Pada akhirnya, perbatasan geografis akan...

|
Jun 27 2016, 12:00pagi

Gletser Grafferner merupakan salah satu penegas perbatasan antara Italia dan Austria. Alat pelacak GPS digunakan untuk mengawasi proses pencairan gletser tersebut, yang nantinya akan berimbas terhadap pergeseran perbatasan. Foto-foto oleh Delfino Sisto Legnani.

Artikel ini muncul di majalah VICE edisi Juni.

Di tahun 1991, dua orang pendaki gunung asal Jerman menemukan sosok berwarna coklat yang telah mengerut; muka mayat itu terkubur di dalam salju, tergeletak di gunung perbatasan utara Italia dengan Austria. Keduanya mengira bahwa mayat ini adalah seorang pendaki yang kurang beruntung. Erika dan Helmut Simon pun lantas mengambil foto mayat ini dan meneruskan perjalanan mereka ke sebuah bed and breakfast di Öztal Alps. Mereka kemudian menceritakan penemuan ini ke pemilik tempat tersebut.

Empat hari lamanya tim ilmuwan forensik berusaha mengangkat tubuh misterius tersebut dari es. Ketika mereka berhasil mengangkatnya, sisa-sisa ikat pinggang, benang dan jerami muncul di permukaan air yang telah mencair. Para ilmuwan mengumpulkan sisa-sisa barang di lokasi, memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat dan membawanya ke Vent, Austria dengan menggunakan helikopter. Di sana, kantong mayat ini dimasukan ke sebuah peti mati kayu lalu dibawa oleh mobil jenazah ke Institute of Legal Medicine di Innsbruck.

Dua hari kemudian, arkeolog Konrad Spindler menemukan keganjilan pada beberapa barang-barang yang dikumpulkan dari lokasi penemuan mayat : sebatang kayu, yang diambil dari tangan kanan jenazah, dan sebuah pisau tembaga sepanjang sepuluh sentimeter. Mayat ini bukanlah seorang pendaki yang tersesat, melainkan seorang pria berumur 5.000 tahun! Kapak yang ditemukan mengindikasikan bahwa dua orang Simon ini telah menemukan salah satu mumi terbaik yang pernah diawetkan sepanjang sejarah.

Berita ini membanjiri media. Seorang jurnalis dari Vienna menamai mayat ini Ötzi, sesuai dengan nama lembah Austria tempat tubuh tersebut ditemukan. Namun pihak berwenang Italia bersikeras bahwa mayat tersebut ditemukan di wilayah mereka,dan menamakannya L'Uomo venuto dal ghiaccio ("Si Manusia Es"). Perbatasan kedua negara ini jatuh di gletser pegunungan Similaun. Lapisan es raksasa ini dapat bergeser lebih dari 9 meter setiap tahunnya. Ini yang menyebabkan permasalahan mengenai siapa yang lebih berhak atas mumi ini jadi lebih runyam. Satu bulan kemudian, perbatasan ini ditinjau ulang untuk pertama kalinya semenjak perang dunia I. Hasilnya: tubuh mayat ini ditemukan 91 meter di dalam wilayah Italia.

Sekarang, perbatasan kedua negara itu telah berubah secara dramatis. Pergeseran gletser merupakan hal yang normal, tapi pemanasan global telah melelehkan gletser lebih cepat dari yang diduga. Cepat atau lambat, garis perbatasan geografis ini akan pudar. Pada April 2016, 25 tahun semenjak penemuan Ötzi, sebuah tim berisikan ahli geologi, ahli geofisika dan pembuat model memulai ekspedisi untuk memasang sensor GPS guna merekam perbatasan di dalam real time dan mendapatkan informasi mengenai gletser Grafferner yang terletak di kaki pegunungan Similaun yang akan menjadi barometer akurat akan perubahan iklim. Saya memutuskan untuk mengikuti mereka.

Untuk membawa kami semua — 13 orang — ke Grafferner, dibutuhkan tiga perjalanan helikopter bolak-balik. Terbungkus dalam pakaian hangat yang melindungi kami dari suhu 14 derajat yang dingin, kami memanjat dengan susah payah menuju dataran tinggi yang terletak 3.352 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi ini berupa hamparan putih yang dibatasi oleh puncak-puncak pegunungan Dolomites yang lancip. Setelah sang pilot menjatuhkan semua peralatan kami seberat 300 kilogram, ia meninggalkan kami selama sembilan jam.

Tim dibagi dua untuk memasang memasang alat pemetaan-perbatasan dan menyeret peralatan kami menggunakan troli buatan yang meninggalkan jejak di salju. Setiap alat ini — sensor, baterai, dan sistem pemanas yang dapat bekerja dalam suhu bawah titik beku — harus ditempelkan ke es. Sementara itu, dua ahli geofisika, Roberto Francese dan Aldino Bondesan, mulai menggali lubang sedalam hampir satu meter agar mereka dapat melewati salju permukaan dan mengakses gletsernya. Di dalam sana, mereka akan menaruh seismometer (yang dapat membaca tingkat kedalaman melalui getaran) guna mengetahui seberapa banyak es Grafferner telah mencair dalam setahun terakhir. "Kalau keadaannya terus begini," keluh Francese, "gletser ini akan habis dalam dua puluh tahun."

"Bahkan objek-objek alam yang paling stabil, seperti gletser, gunung — objek-objek yang luar biasa besar ini dapat berubah hanya dalam beberapa tahun. Kita tinggal di sebuah planet yang terus berubah dan kita berusaha membuat aturan-aturan, yang akan memberi makna akan perubahan-perubahan ini, namun pada akhirnya aturan-aturan ini tidak akan ada artinya, karena alam tidak peduli dengan hal-hal tersebut." —Marco Ferrari

Adalah lazim ketika sebagian gletser mencair dan membeku kembali setiap musimnya dan mengakibatkan pergeseran kecil setiap tahun. Namun di dalam tiga dekade terakhir, suhu yang meningkat menyebabkan proses pencairan ini menjadi sangat cepat dan ini terutama sangat terlihat di gletser kecil seperti Grafferner. "Dalam satu abad saja, kita telah kehilangan tujuh puluh persen dari semua permukaan es," kata Bondesan, koordinator untuk Komite Glasiologi Italia. "Para ilmuwan tidak mempunyai informasi yang cukup untuk memahami apakah hal ini bersifat sementara — disebabkan oleh manusia, pastinya — atau sebuah fluktuasi yang akan pulih di dalam sepuluh atau seratus tahun, "kata dia. Kumis Bondesan penuh dengan es dan sisa-sisa makanan dari makan pagi kami tadi di Pension Leithof di Vernago, sebuah lokasi tujuan ski Eropa yang berada di lembah yang masuk wilayah Italia.

Leithof merupakan salah satu hotel kecil yang beroperasi di Dolomites. Meski Februari kemarin daerah ini mencapai rekor suhu terpanas yang pernah terjadi di sini, nampaknya bisnis mereka tidak terpengaruh. Namun manajer Rainer Alois mengutarakan bahwa perubahan ini jelas mengkhawatirkan. Pertengahan Januari biasanya merupakan waktu yang paling dingin, namun kemarin ini, serpihan-serpihan es buatan masih harus dipompa ke lereng-lereng gunung. "Anda bisa lihat sendiri jika dibandingkan tahun-tahun lalu, gletsernya telah mundur lumayan banyak," kata Alois. "Saya sudah tua. Ketika saya meninggal, gletsernya masih akan berdiri tegak. Namun buat generasi-generasi berikutnya, ini akan menjadi sebuah masalah besar."

Perubahan ini disesalkan oleh pemandu pendakian lokal, Robert Ciatti. "Saya kangen dengan gletser jaman dulu ketika saya baru mulai mendaki. Buat saya, gletser adalah segalanya. Sekarang ketika saya memandang gletser di musim panas, anda bisa melihat batu-batuan yang kotor di bawah lapisan es tersebut. Ini menyedihkan."

Sensor dari GPS berada di atas gletser, mengukur koordinat gletser ketika ia bergerak. Seorang anggota dari Komite Glasiologi Italia mengatakan "Dalam satu abad saja, kita telah kehilangan tujuh puluh persen dari semua permukaan es."

Bondesan juga menjelaskan bahwa yang perlu dikhawatirkan di sini bukanlah akhir dari semua aktivitas olah raga di pegunungan Alpine, namun fakta bahwa kita mungkin akan kehilangan waduk-waduk alam kita. Gletser menyimpan 69 persen dari air tawar di dunia — sumber kekayaan alam yang paling penting di bumi. Kehilangan waduk-waduk alam ini, ditambah dengan meningkatnya permukaan laut lebih dari 60 meter, akan berujung pada efek domino sebuah krisis global. "Hal yang paling menakutkan," tambah Stefano Picotti, dari Institut Nasional Oseanografi dan Geofisika Eksperimental (OGS), yang juga ikut dalam perjalanan ini, adalah bahwa "eksperimen ini belum pernah dicoba dilakukan di alam terbuka."

Marco Ferrari, kepala dari ekspedisi pemetaan mengatakan, "Perubahan iklim terjadi sangat cepat dan dalam skala yang besar sehingga kami terpaksa mengubah perbatasan-perbatasan negara." Biarpun perbatasan tengah kami berada terus diawasi semenjak perjanjian international St. Germain di tahun 1919, proyek Ferrari yang disebut Limes ("perbatasan" dalam bahasa Latin) merupakan proyek pertama yang memonitor sebuah perbatasan secara konsisten dan akurat.

Perbatasan-perbatasan sebuah negara adalah "sesuatu yang selalu kami anggap sebagai alat politik yang stabil, dan fondasi dari negara modern. Namun perubahan alam yang besar ini menegaskan betapa mengganggu dan mengkhawatirkannya perubahan-perubahan ini," katanya. "Bahkan objek-objek alam yang paling stabil, seperti gletser, gunung — objek-objek yang luar biasa besar ini dapat berubah hanya dalam beberapa tahun. Kita tinggal di sebuah planet yang terus berubah dan kita berusaha membuat aturan-aturan, yang akan memberi makna akan perubahan-perubahan ini, namun pada akhirnya aturan-aturan ini tidak akan ada artinya, karena alam tidak peduli dengan hal-hal tersebut."


Gletser pembatas kedua negera ini terletak lima setengah jam perjalanan kaki dari kota terdekat dan berada di daerah yang relatif damai di Eropa. Meski letaknya bergeser, perubahan letak perbatasan ini tak terlihat seperti masalah yang menyulut perseteruan politik. Meski nyatanya di wilayah Tyrol Selatan — yang dikembalikan ke tangan Italia setelah Perang Dunia II — selalu ada ketegangan antara pihak Austria dan Italia. Para pelaku vandalisme yang berbahasa Jerman beberapa kali mencuri papan rambu-rambu berbahasa Italia yang menandai jalur pendakian Similaun sebagai penyataan protes mereka.

Di perjalanan pulang, kami singgah di sebuah kota bernama Bolzano yang pintu gerbang Victory-nya, peninggalan era Mussolini, mengingatkan kami akan sejarah fasis kota ini. Gerbang tersebut masih menjadi pusat dari pergesekan antara komunitas Italia dan komunitas yang berbahasa Jerman. Akibatnya, pemerintah memagari monumen selebar 18 meter itu, untuk melindunginya dari aksi vandalisme.

Kita telah membunuh sepuluh persen dari terumbu karang dunia, hampir memusnahkan sepertiga dari spesies amfibi, menciptakan sampah laut selebar dua kali ukuran Amerika, dan beresiko kehilangan sumber utama air tawar kita: gletser.

Di acara makan malam yang penuh dengan alkohol, seorang penduduk Italia yang bekerja sebagai dosen desain di Free University of Bozen-Bolzano, Simone Simonell memberitahu saya bahwa ketegangan akibat perbedaan budaya dan sikap masih terpendam di bawah permukaan kota yang terlihat tenang tersebut. Hari itu, ketika sedang berjalan-jalan di Bolzano, Simonelli melewati sebuah demonstrasi protes anti-pendatang yang dilakukan oleh sebuah kelompok kecil sayap kanan. Sehari setelahnya, polisi Austria bentrok dengan 500 orang aktivis Italia yang menuntut agar pemerintah bersikap lebih ramah terhadap para pengungsi di perbatasan Brenner Pass — dalam beberapa bulan terakhir, ribuan pendatang berusaha masuk melalui Brenner Pass sesuai dengan Perjanjian Schengen Eropa tentang kebijakan perbatasan-terbuka. Namun pada akhir bulan tersebut, pemerintah Austria memulai pembangunan pagar kawat berduri untuk membatasi arus para pendatang.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa perbatasan yang terbengkalai telah menghasilkan serangkaian jaringan yang Ferrari sebut sebagai "kegilaan di abad dua-puluh-satu", terdiri dari : pemeriksaan polisi, prajurit, tembok-tembok, kamp pengungsian, dan orang-orang terlantar. "Kartografi digunakan sebagai alat politik untuk membenarkan keberadaan perbatasan, tapi sebetulnya perbatasan yang alami hanyalah perkara geometri semata — kitalah yang memberikan nilai politik terhadap perbatasan," kata dia. "Schengen, yang dianggap sebagai hasil dari Eropa modern, hanyalah sebuah perjanjian politik yang dapat berubah setiap saat. Perbatasan tidak lebih dari hasil buatan manusia. Kalau kita bisa menetapkan perbatasan, kita juga bisa mencabut mereka."

Helikopter terbang menjauh setelah menurunkan tim ilmuwan di glatser di kaki gunung Similaun. Tim tersebut memasang sensor GPS yang akan merekam pergerakan glatser di 'real time.'

Delapan belas tahun yang lalu, pihak Austria mengembalikan Ötzi ke pihak berwenang Italia setelah pemeriksaan selesai. Kini, Ötzi diletakkan di dalam kotak lembab di Museum Arkeologi di Tyrol Selatan. Di sana, anda bisa melihat badan dia yang kurus dan basah melalui kaca berlapis ganda. Tampaknya sesaat sebelum meninggal, si Manusia Es baru saja mengkonsumsi biji-bijian dan daging Ibex (kambing gunung). Kapak yang dia gunakan — dibuat menggunakan logam temuan baru di yang baru eksis pada Zaman Tembaga — menunjukkan bahwa Ötzi adalah seseorang yang berkasta tinggi. Hanya kaum hartawan yang bisa memiliki barang mewah seperti itu. Mereka juga membangun pemukiman dan benteng-benteng.

Dari beberapa sisi,kita bisa melihat bahwa selama 3.000 tahun ini, manusia belum banyak berubah — orang yang lebih beruntung berusaha memisahkan diri dari mereka yang kekurangan. Perbedaannya hanyalah apakah sekarang planet Bumi bisa menopang kita semua? Era kita sering disebut sebagai "Antroposen", jaman ketika untuk pertama kalinya manusia mengubah planet bumi untuk selamanya. Kita telah membunuh sepuluh persen dari terumbu karang dunia, hampir memusnahkan sepertiga dari spesies amfibi, menciptakan sampah laut selebar dua kali ukuran Amerika, dan beresiko kehilangan sumber utama air tawar kita: gletser. Kita telah mengubah jauh lebih banyak hal dari sekadar perbatasan negara.

"Ada beberapa mekanisme yang mencoba menjelaskan bagaimana Bumi akan bereaksi dan memulihkan dirinya sendiri," kata Bondesan. Namun, untuk sekarang, solusi yang paling baik untuk menghadapi pencairan gletser — dan ini adalah solusi yang mungkin dilakukan, menurut para ahli geofisika — adalah dengan menyelimuti es dengan semacam lembaran putih yang akan memantulkan sinar matahari. Solusi ini makin diperlukan ketika angin panas bertiup dari utara Gurun Sahara di Afrika, membentuk lapisan hitam di atas Pegunungan Alpen, dan mempercepat tingkat pencairan es di wilayah yang sudah sangat rapuh ini.

Di musim panas sebelum Ötzi ditemukan, badai debu ini membuat lapisan es surut, menyebabkan tubuh dari sang mumi terlihat. Di hari yang sama kami kembali ke Similaun, pasir kembali terlihat memenuhi lanskap putih terang ini. Tidak seperti orang-orang dari benua itu, pasir bisa bepergian sejauh beribu-ribu kilometer tanpa peduli akan perbatasan. Puncak gletser yang disapu angin tidak terlihat jauh berbeda dengan bukit pasir. Mungkin ini adalah suatu pertanda, karena "tanpa gletser," kata Francese, "Pegunungan Alpen mungkin sudah menjadi semacam gurun."

More VICE
Vice Channels