Iklan
jurnalisme gonzo

Inilah Pengalamanku Dipijat Ahli Orgasme Khusus Perempuan

Setelah bertemu sendiri sang pakar di Singapura, sebagai perempuan Indonesia, aku harus menyingkirkan semua prasangka dan tabu tentang pijat macam ini. Hasilnya luar biasa.

oleh Alice .
15 November 2018, 8:49am

Foto oleh Nick Webb via Flickr

Aku tak sengaja bertemu seorang pakar orgasme khusus untuk membantu perempuan ketika berkunjung ke Singapura. Gini, aku pernah bergabung dengan Orgasmic Meditation community di Amerika Serikat (aku sempat kuliah di sana). Tetapi sesungguhnya, kali ini, aku pergi ke Singapura bukan untuk melakukan eksperimen seksual.

Semuanya bermula ketika ada laki-laki bernama Mike yang memberi superlike ke profil Tinder-ku. Profilnya bertuliskan "the founder of sensualmassageart.com—ask me about it!"

Biodatanya jelas bikin penasaran. Aku langsung swipe kanan, dan menanyakan apa itu pijat sensual kepada Mike. Di situs webnya, Sensual Massage Art digambarkan sebagai "situs untuk konsultasi" yang sering mengunggah panduan pijat sensual, orgasme perempuan, zona erotis, dan artikel lainnya yang berkaitan sama eksplorasi sensual maupun seksual.

Selain itu, situs web ini menawarkan jasa "pijat sensual meditatif untuk perempuan" dengan biaya SG$200 (setara Rp2,1 juta) per satu sesi, termasuk biaya sewa kamar hotel. Tak hanya itu, Sensual Massage Art menyelenggarakan seminar pijat sensual untuk perempuan dan laki-laki hingga dua kali dalam sebulan.

Dua laki-laki yang mengelola Sensual Massage Art menggunakan nama samaran Photos dan Mike. Foto-foto mereka di situs web sengaja dipotong, sehingga wajahnya tak terlihat. Mereka meyakinkanku kalau bisnis tersebut legal meskipun tidak biasa ditemukan di Singapura yang masyarakatnya serba taat aturan itu. Aku memutuskan makan siang bareng mereka. Setelah ketemu, mereka menyatakan bisnis pijat sensual ini sebetulnya belum menguntungkan. Balik modal juga belum. Namun, Mike dan Photos dari awal enggak terlalu berharap dapat untung besar dari jasa pijat sensual.

"Kami mempromosikannya dari mulut ke mulut saja. Teman kami memberi tahu teman-temannya soal jasa pijat ini," kata Mike yang sehari-harinya bekerja sebagai pengembang komputer. "Yang penting pemasukan dari pijat ini bisa menutup ongkos operasional dan selalu ada klien baru, itu sudah cukup buat kami."

Kedua laki-laki yang duduk di seberang mejaku ini mengaku cuma pengin membantu perempuan orgasme. Mulia sekali tujuannya. Benar begitu?

"Kami sadar apa yang orang pikirkan soal jasa pijat kami," lanjut Mike. "Kalau kami laki-laki mesum yang menawarkan pijat erotis ke perempuan supaya bisa berhubungan seks dengan mereka. Padahal, kami enggak pernah kepikiran sampai situ. Jasa pijat ini tujuannya menyampaikan pesan sex positivity, body positivity dan meningkatkan kesadaran. Kami menghargai batasan dan persetujuan dari klien. Karena itulah, kami selalu memastikan ke pelanggan kalau mereka telah mempelajari dan mengisi formulirnya sebelum pijat."


Hobi orang memang beda-beda, makanya VICE menyorot hobi cowok yang cosplay pakai lateks perempuan di Jerman dan Belanda:


Tak terasa kami sudah ngobrol berjam-jam. Sudah saatnya aku dipijat. Aku sebelumnya sudah mengirim formulir konsultasi secara online. Formulir itu menanyakan hal-hal seperti, “Apakah kamu sering orgasme?” disusul “Apakah Anda pernah mengalami orgasme dari g-spot sebelumnya?” dan “Apakah Anda sering squirt?"

Ada juga pertanyaan-pertanyaan menjurus fetish klien. Contohnya seperti pakai penutup mata dan bondage. Mereka juga menawarkan untuk berhubungan seks, “Apakah Anda bersedia berhubungan seks saat sedang pijat?” Kamu bisa menjawabnya dengan 'ya', 'tidak', atau 'tanyakan saat pijat'."

Aku akhirnya meminta mereka betulan memijat selepas makan bareng. Aku menunggu di lobi, sementara Mike memesan kamar di hotel bintang empat dari kawasan Katong. Aku gugup bukan kepalang menjelang pijat. Terlepas dari semua obrolan kami yang meyakinkan, aku tetap cemas membayangkan bakal seperti apa rasanya dipijat erotis oleh laki-laki yang enggak kukenal di sebuah kamar hotel. Aku mulai panik, tapi sadar kalau sudah terlambat untuk mundur.

Setelah Mike selesai memesan di front desk, kami masuk ke kamar berukuran sedang, isinya tempat tidur berukuran king size dan balkoni yang menghadap ke deretan ruko. Hari itu sangat cerah. Suasananya kuakui cukup nyaman dan menenangkan buat pijat.

Mike mulai mempersiapkan peralatan pijatnya. Ada tiga lampu diffuser memancarkan cahaya redup di kegelapan, beberapa minyak pijat aromaterapi, vibrator besar, kapas penutup mata, penutup mata sutra, ponsel dengan speaker portable untuk memutar lagu, dan peralatan kebersihan. Dia juga membawa sikat gigi, gunting kuku, deodoran, dan alat mandi. Mike memastikan kalau tubuhnya sudah bersih sebelum pijat.

1542258745604-46204890_269191623737392_2069675835782070272_n

Mike cuma pakai bokser saat keluar dari kamar mandi. Tubuhnya ramping dan enak dilihat. Tapi aku enggak yakin kalau dia menarik secara seksual. Dia terlalu klinis, dan ekspresi wajahnya datar banget. Aku suka orang yang humoris, dan Mike jauh dari itu. Meskipun begitu, ide dari sesi ini adalah aku seharusnya bisa merasakan kenikmatan sensual dan seksual saat dipijat oleh orang yang mungkin bahkan kita tidak anggap menarik.

Mike mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu meja kecil dan musik dengan suara burung dan hujan yang membuat rileks. Aku melepaskan bajuku dan berlanjut berbaring telungkup di ranjang dengan selimut kecil yang menutupi pantatku. Lalu Mike mulai memijat aku sembari dia menduduki aku.

Beberapa menit pertama rasanya kayak pijat biasa dengan minyak, dan ini adalah bagian yang aku paling nikmati. Mike menggunakan tekanan yang cukup sambil dia memijat punggungku, bahuku, dan leherku yang kaku. Kecepatannya agak kurang, tapi ini disengajakan. Pijat sensual yang baik biasanya memakan satu setengah sampai dua jam.

Tahap berikutnya merupakan bagian pengalaman ini yang lebih sensual. Mike mengumumkan kepadaku apa yang dia akan lakukan (“Aku akan memijat pantatmu” dan “Aku akan memegang bagian dalam pahamu”) dan sentuhannya menjadi lebih lembut. Dia membelai dan menyentuhku dengan kukunya yang baru saja dipotong, yang rasanya agak geli dan canggung. Ada beberapa saat ketika aku enggak tahu bagaimana aku seharusnya merasa atau berpikir, apalagi pas dia menyentuh bagian tubuhku yang sensitif, seperti pantatku, bagian belakang vaginaku, dan bagian dalam pahaku. Aku merasa ketegangan meningkat di perutku akibat ketidakpastian dan kecemasan, bukan karena gairah seksual. Tapi itu bukan bagian yang paling parah.

Momen yang paling canggung tiba dalam bentuk pijat "body-to-body" (tubuh ke tubuh). Mike membaringkan badannya di atas badanku, menjilat kupingku, menyentuh kepalaku dengan lembut, dan bernafas dalam-dalam di leherku dan kupingku. Jijik banget. Sekarang udah jelas aku enggak tertarik sama Mike secara seksual. Buat aku, bagian body-to-body ini terlalu intim untuk dialami dengan seseorang yang kamu enggak mau ajak bercinta.

Untungnya, tak lama kemudian, Mike kembali menggunakan tangannya. Sekarang waktunya berbalik badan dan berbaring telentang. Mike mulai menyentuh perutku dan putingku. Sekarang aku mulai merasa terangsang. Sadar, Mike terus membelai keseluruhan bagian depan tubuhku: putingku, bagian atas vaginaku, bagian dalam pahaku, dan kakiku juga. Aku menikmati itu semua.

Aku sadar kalau aku ingin pengalaman yang nyaman, aku harus menyingkirkan semua prasangka tentang Mike dan pijatnya. Aku harus berhenti memikirkan apakah dia aku anggap menarik atau apakah aku mau berhubungan seks sama dia. Aku harus berhenti memikirkan bagaimana aku bisa menulis artikel yang baik tentang pengalaman ini. Pokoknya aku harus berhenti memikirkan apapun. Aku harus berada pada momen itu dan mengalami setiap sensasi dan menjadi terbuka pada hal baru. Hanya setelah aku mengubah pola pikirku, aku bisa menikmati pengalamannya.

Akhirnya, Mike mulai bergerak ke arah vaginaku dan membuat gerakan melingkar pada mon pubisku dengan jarinya. Aku merasa gairahku meningkat, kayak sensasi berputar-putar yang bergerak dari vaginaku ke perutku. Mika bertanya, “Apakah kamu ingin merasakan komponen yoni (kata sanskrit yang artinya organ kelamin perempuan)?” Masuk akal sih, Mike bertanya dulu padaku daripada memanfaatkan tingkat gairahku dan langsung berlanjut dengan pijat yoni tersebut.

Tawaran itu menggoda, tapi aku memutuskan sudah cukup keluar dari zona nyaman hari itu. Tawarannya terpaksa kutolak. Merasa terangsang dan 'kencang', aku segera mandi air panas. Setelahnya, tubuhku terasa enteng, sekaligus sangat senang dan penuh energi. Mike mengantarku pulang. Kami saling berterima kasih atas pengalaman pijatnya dan aku berterima kasih pada Mike khususnya karena dia menepati janji tidak melakukan apapun yang bisa membuatku enggak nyaman.

Pas sampai rumah, aku menelusuri feedback anonim dari klien di website Mike. Ulasannya bukan main: "Pijat yoni enak banget, ada banyak bagian yang rasanya enak banget." tulis satu klien. "Mike membawaku ke tingkat ekstasi yang aku enggak pernah berpikir itu mungkin," ujar seorang pelanggan.

Aku jadi agak nyesel enggak berani mencoba pijat yoni. Apakah aku melewatkan kesempatan mengalami kenikmatan luar biasa dari seorang ahli pembangkit orgasme perempuan? Kayaknya aku bisa dapat jawabannya dengan mem-booking satu sesi lagi.