new neighbours

Daftar Buku yang Membantuku Melewati Kengerian Perang

Ini adalah catatan pengungsi asal Suriah yang lari ke Eropa. "Setiap kali aku membaca, seketika teriakan manusia dan suara sirene mulai memudar dan makin terdengar sayup."

oleh Mia Z.
02 Juni 2017, 6:30am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Artikel ini adalah bagian seri New Neighbors. Dalam seri tulisan ini, kami membuka kesempatan kepada para pengungsi yang tersebar di seluruh benua Eropa menjadi penulis tamu untuk VICE.com. Klik di sini jika ingin membaca pengantar redaksi untuk New Neigbors.

Mia Z.* adalah gadis berumur 18 tahun dari wilayah Homs di Suriah. Kini, dia bermukim di Barcelona bersama dua saudarinya.


Hidupku berubah selama pada salah satu Senin pagi tahun 2011. Usiaku baru 11 tahun. Bersama seorang kawan, kami sedang berjalan menuju sekolah ketika pemboman dimulai. Kami berlarian pontang-panting menyelamatkan diri. Aku terpisah dari temanku dan memutuskan kembali pulang ke rumah. Sesampai di rumah, aku cuma seorang diri dan masih shock—Ibu masih di kantor dan kedua kakak perempuanku masih di sekolah. Aku panik dan kebingungan berusaha melupakan apa yang tengah terjadi di sekitarku. Alhasil, demi bisa meredam semua kepanikan ini, aku memutuskan membaca buku.

Aku menjelajahi internet beberapa saat, mengklik berbagai link di beragam website sebelum akhirnya menemukan buku berjudul Unbroken. Aku enggak doyan-doyan banget baca, tapi segera setelah aku mulai membaca, aku jadi lebih tenangan. Suara-suara, jeritan dan sirene seakan redup, lalu mundur jadi musik latar belaka. Aku makin khusyuk membaca. Mulai saat itu, membaca jadi caraku bebas sekaligus memahami kengerian yang terjadi di sekitarku.

Unbroken adalah buku non fiksi yang berkisah tentang Letnan pasukan Perang Dunia II Amerika Serikat, Louis Zamperini. Pesawat yang dikemudikan Zamperini jatuh di Samudra Pasifik. Berminggu-minggu lamanya, dia terombang-ambing di lautan luas, hidup menangkap ikan dan burung. Membaca bagian yang mengenaskan ini memaksaku kembali memikirkan kota kelahiranku, Homs, yang tengah dikepung dan semua orang yang kukenal tengah berjuang mencari makanan. Sepupuku, misalnya, tinggal di bagian paling berbahaya kota kami. Dia harus menyambung nyawa dengan memakan dedaunan dan serangga. Aku kepikiran ibu dan kakak-kakakku—terus bagaimana kalau kami nanti kehabisan bahan makanan suatu hari nanti?

Dari jendela, aku bisa melihat polisi menangkapi orang-orang di kotaku. Aku tak bisa melakukan apa-apa.

Ketika akhirnya sampai di daratan, di hari ke-47, Zamperini ditangkap dan dibawa ke penjara Jepang. Di kamp tahanan, dia dipukuli dan disiksa tanpa ampun selama dua tahun lamanya. Bagian ini bikin saya teringat akan nasib para tahanan di Suriah, mereka pun dipukuli dan disiksa. Aku punya beberapa teman dan anggota keluarga yang dipenjara—beberapa di antaranya berhasil kabur, tapi yang lainnya tewas dalam tahanan. Beruntung, kisah Louis berakhir bahagia—Amerika Serikat menang Perang Dunia II dan Louis mempersunting kekasihnya. Dari buku ke buku berikutnya yang aku lahap, aku selalu mendambakan akhir bahagia.

Buku lainnya yang aku baca selama di Suriah adalah Love in the Time of Cholera karangan Gabriel García Márquez. Novel ini bercerita tentang kisah sepasangan kekasih muda belia Florentino and Fermina, yang terpisah ketika Ayah Fermina tak merestui hubungan keduanya dan mengirim Fermina ke negeri yang jauh. Bagiku, nasib Fermina mirip pohon yang dicabut paksa dan dikapalkan sebagai kayu olahan. Kelak, inilah yang kurasakan ketika aku terpaksa angkat kaki dari ibu pertiwiku, Suriah. Buku ini juga mengingatkan aku pada sebuah momen menyedihkan di Suriah ketika aku tak lagi bertegur sapa dengan salah satu sahabat karibku. Dia dan keluarganya mendukung presiden Bashar Al Assad, sebaliknya keluarga kami menentang kepemimpinan sang presiden. Hubungan kami runyam gara-gara perbedaan pilihan ini. Akhrnya, kami memutuskan untuk saling bicara,

Jujur saja, aku enggak sanggup menyelesaikan Love in the Time of Cholera. Aku enggak tahan membaca kisah dua manusia yang dipisahkan paksa.

Setiba di Barcelona, aku tak berhenti membaca—meski yang kubaca tak harus berbentuk buku. Suatu hari ketika sedang berselancar di internet dengan bantuan Google, aku tak sengaja menemukan skenario film Colonia, yang dibintangi Emma Watson dan Daniel Brühl. Aku belum pernah menonton filmnya, tapi aku langsung membaca habis skenario. Ternyata, film itu bercerita tentang dua pasangan kekasih fiktif Lena and Daniel, sebuah sekte legendaris di selatan Chili bernama Colonia Dignidad.

Dalam sebuah adegan film itu, polisi digambarkan tengah berusaha membubarkan demonstrasi dan mulai menembaki para pengunjuk rasa—mirip sekali seperti peristiwa yang menyulut perang saudara di Suriah, ketika polisi Suriah membunuh serta menahan para pengunjuk rasa. Daniel ditangkap polisi di depan kawan-kawan yang tahu mesti berbuat apa. Mereka tak kekuatan barang sedikiput, sama malangnya seperti warga Suriah. Dari jendela rumahku, aku pernag melihat polisi mencokok orang dan aku cuma bisa menonton. Tatkala orang-orang itu dimasukan ke mobuil polisi, aku tahu banget apa yang bakal terjadi pada mereka. Kami tumbuh dengan dalam ketakutan—takut menampakkan diri, takut akan segala sesuatu.

Karya Sara Nović, Girl at War, adalah buku tentang perang yang pertama kali aku baca. Ceritanya tentang seorang gadis dari Kroasia. Ana Jurić, nama gadis itu, baru berumur sepuluh tahun saat perang berkecamuk di Yugoslavia. Aku mudah bersimpati dengan semua kengerian yang disaksikan Ana serta segala hal yang dilakukannya untuk bertahan hidup dan tetap waras. Termasuk ketika dia menulis: "Di Kroasia, hidup di masa perang berarti kehilangan kontrol, perang mengambil kendali atas semua pikiran dan gerakan, bahkan ketika kamu sedang terlelap tidur."

Penduduk di Suriah juga kehilangan kendali. Ana berumur 10 tahun ketika perang meletus; aku berumur 12 ketika peperangan mulai melanda Suriah. Ana kabur ke Amerika Serikat dan harus kembali memulai kehidupan normal. Dia harus berpura-pura berlaku normal di depan semua orang—bahan setelah apa yang dia alami di Kroasia. Aku harus melakukan hal serupa di Spanyol, dan itu adalah pekerja paling berat yang pernah aku lakukan. Aku kadang merasa seperti seorang aktor, berpura-pura menyakinkan pada orang lain kalau aku baik-baik saja—seperti ketika aku bilang "Enggak apa-apa kok. Aku enggak mikir apa-apa. Aku cuma sedang mengerjakan PR." Aku pura-pura kalem ketika kudengar suara pesawat terbang di langit ketika aku sedang belajar di kelas. Aku sok-sok kuat padahal biarpun gemeteran di dalam sana.

Pada kenyataannya, pesawat terbang bikin aku jeri. Aku teringat pesawat terbang lalu lalang di langit Homs, membom rumah dan menembaki orang. Aku masih kalut tiap kali aku lihat polisi di Barcelona karena aku ingat polisi yang memukuli tetanggaku. Aku ingat suara-suara dan bunyi-bunyi itu—di rumah, di sekolah, di jalan dan di mana-mana. Sadar bahwa aku mirip dengan Ana tak lantas bikin semua itu hilang begitus aja. Tapi, membaca kisah tentang Ana setidaknya bikin aku tenang, aku tak sendirian.

*Nama penulis diganti guna melindungi keselamatannya

Tanda tangangi petisi UNHCR yang mendesak pemerintah seluruh negara-negara dunia agar memastikan masa depan yang aman bagi pengungsi di sini.

Illustrasi oleh Ana Jaks