Musik

Memindai Kondisi Anak Emo Circa 2000-an yang Kini Dewasa

Sebagian besar dari mereka masih emo, tapi menyembunyikan jiwa emonya dan berubah jadi budak startup dan korporat.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
11 November 2019, 10:32am
Gambar ilustrasi bekas anak emo
Gambar ilustrasi oleh Esme Blegvad

Sekitar 15 tahun lalu, emo sedang pada masa berjayanya. Genre musik (dan gaya hidup) ini mendominasi arus utama, yang awalnya populer di Midwestern Amerika kemudian menjamur juga ke Indonesia. Teman atau mungkin dirimu sendiri mendadak jadi anak emo habis dengerin American Football, Eminem, atau Saosin. Baik cowok maupun cewek tiba-tiba punya poni lempar dan pakai eyeliner. Beberapa bahkan memasang piercing di ujung bibirnya. Stiker pasangan emo tertempel di mana-mana, dari binder sampai helm.

Emo sudah mati sekarang, atau seenggaknya begitulah yang orang-orang bilang. Lalu, apa kabarnya para anak emo ini? Mereka pastinya sudah berubah, dong? Enggak mungkin, kan, cowok-cowok yang dulu suka pakai celana jins pensil masih mengenakannya sekarang?

Emo gelombang kedua mencapai puncak ketenarannya pada pertengahan 2000-an, yang berarti para anak emo ini umurnya sudah menginjak akhir 20 atau awal 30. Mereka pasti bukan anak emo lagi sekarang, karena gaya subkultur ini cuma buat anak-anak. Atau mungkin saja mereka masih emo, tapi disembunyikan. Mereka melepas piercing-nya dan tumbuh dewasa menjadi budak startup dan korporat.

Kamu pasti pernah menemukan orang-orang seperti ini, mau di kereta, tempat kerja atau malah mereka pacarmu sendiri. Kalau kamu suka baca VICE atau berusia antara 25-35, kemungkinan besar kamu juga bekas anak emo. Aku sendiri kadang suka merasa dulu emo banget.

Anak emo yang sudah dewasa tak lagi mengenakan ikat pinggang tumpuk berpaku. Sekarang cukup satu sabuk saja. Mereka masih pakai Vans dan Converse, tapi modelnya lebih kasual enggak seperti dulu. Motif kotak-kotak sudah ketinggalan zaman buat mereka. Intinya, mereka menyamarkan ke-emo-annya tapi kamu bisa melihat sendiri jauh di dalam lubuk hati, mereka belum 100 persen berubah.

Seiring beranjak dewasa, “mantan” anak emo pindah aliran musik. Mereka lebih suka dengerin Klaxons, atau justru K-Pop. Tapi kalau kamu perhatikan lebih dekat, masih ada bekas tindikan di hidung dan bibirnya. Jiwa emo takkan bisa dimusnahkan sepenuhnya. Salah seorang rekan kerjaku di VICE masih memiliki tato “Hit or Miss” (lagu populer New Found Glory) di pergelangan kakinya.

Anak emo yang sudah dewasa mungkin malu mengakui masih suka musik emo. Setelah melewati usia 23, kamu bergidik tiap kali mengingat betapa dulu suka menyanyikan lirik “Your lungs have failed and they've both stopped breathing / My heart is dead, it's way past beating” keras-keras saat sedang emosi. Tapi coba sekali-kali putar Until the Day I Die atau In Too Deep saat party.

Kamu akan langsung melihat para anak emo ini. Muka mereka memerah kegirangan, satu tangan terangkat ke atas, dan lirik demi lirik dinyanyikan sepenuh hati seakan-akan balik ke 2000-an lagi. Untung-untung kalau kamu juga menemukan orang yang bikin tangannya mirip cakar atau "The Claw".

Subkultur emo enggak pandang bulu. Siapa pun bisa terjangkit virusnya. Perempuan yang dulunya emo sekarang lebih suka pakai winged eyeliner dan lipstik merah gelap, sedangkan laki-lakinya memadukan blazer dengan celana jins. “Bekas” anak emo cenderung naksir dan berkencan dengan satu sama lain, karena kita secara tanpa sadar mencari pasangan yang sejalan. Aku enggak punya data untuk membuktikannya, tapi kita semua tahu itu benar.

Enggak ada yang salah jadi bekas anak emo. Kita semua punya cara sendiri untuk bertahan. Begitu mencapai usia akhir 20-an, mau tak mau kamu meninggalkan jiwa emo agar lebih diterima dengan dunia mainstream. Aku enggak yakin bakalan seperti apa bekas anak emo saat sudah tua nanti, tapi kayaknya seru banget kalau sampai mereka bertengkar nentuin band mana yang lebih bagus—FOB atau MCR—di panti jompo.

@daisythejones / @esmerelduh

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.