Nasionalisme

Memandang Indonesia dari Sepiring Nasi

Bangsa kita pecandu nasi, tapi kerap melupakan sejarah bagaimana olahan beras jadi makanan pokok kita. Kontributor VICE mengajak kita menelisik kembali perjalanan bangsa dari sepiring nasi.

oleh Bur Union Winos
16 Agustus 2019, 4:45pm

Nasi tumpeng lengkap, simbol masakan khas Indonesia. Foto ilustrasi via Shutterstock.

Ibuku adalah perempuan super. Dengan suami pegawai negeri sipil yang bergaji tak seberapa, beliau bisa memasak untuk penghuni rumah berjumlah 12 orang. Masakannya nyaris tak pernah gagal, kecuali satu waktu: pangsit yang kulitnya terlalu tebal dan nyaris tak bisa dimakan, membuat saya menggerutu karena saya "diperbudak" buat menguleni adonannya, merelakan waktu bermain sepakbola yang amat berharga.

Ibu selalu bangun subuh, ke pasar, lalu memasak untuk sarapan. Setelah suami dan anak-anaknya pergi beraktivitas, Ibu beristirahat sebentar, kemudian mengolah menu santap siang. Masakannya selalu lengkap. Nasi putih hangat, satu lauk utama yang biasanya bergantian antara daging putih atau merah atau ikan, satu lauk pendamping, dan satu jenis sayur. Untuk makan malam, biasanya Ibu memasak yang lebih simpel, misal nasi goreng.

Namun ibu juga manusia. Sesekali dia bangun terlalu siang, tak sempat memasak lengkap. Kalau sudah begitu, dia hanya mendinginkan nasi, mengambil Blue Band andalannya dan telur, lalu membuat masakan favorit kami semua: nasi goreng mentega.

Dengan sedikit tergopoh—sembari berteriak agar anak-anaknya segera mandi—Ibu pergi ke dapur. Dia memanaskan wajan, memecah tiga-empat cangkang telur, mengaduknya, lalu menuangnya ke minyak panas.

Sreeeeeng!

Ibu mengorak-arik telur, meminggirkannya, lantas memasukkan margarin banyak-banyak. Wuih, aroma wangi menguar di seluruh dapur. Setelah margarin sepenuhnya cair, Ibu memasukkan nasi dingin. Diaduk. Diamkan beberapa saat hingga aroma nasi goreng mulai tercium. Saatnya memasukkan garam, merica, dan cabai. Aduk lagi, goreng beberapa detik hingga nasi tak lagi basah. Ibu lantas membaginya ke belasan piring, yang segera ludes oleh anak-anaknya.

Nasi goreng mentega ini jadi favorit bagi kami karena selain lezat, juga membuat Ibu lebih santai karena resepnya amat mudah. Tak perlu bawang, tak usah rempah.

"Dulu, kakek sering masak nasi kayak gini. Bedanya, beliau pakai minyak samin," kata Ibu suatu ketika. “Kalau sudah makan nasi samin, Kaik gak perlu lauk lagi."

Keluarga kami bisa dibilang sebagai gambaran keluarga Indonesia pada umumnya: pecandu nasi. Nyaris semua perlu dikasih nasi, meski itu artinya dobel karbohidrat. Bikin mi goreng, tak lengkap kalau tak pakai nasi. Makan bakso? Pakai nasi. Martabak? Lebih enak dan mengenyangkan kalau pakai nasi ditambah kecap manis. Soto Banjar yang biasanya pakai lontong? Ah kurang kenyang, pakai nasi dong!

Ada kisah lucu betapa keluarga kami, dan tentu jutaan keluarga Indonesia lain, sangat tergantung pada nasi. Suatu ketika, di penghujung dekade 90-an, ayah-ibu saya naik haji. Yang beliau bawa bikin saya geleng-geleng kepala: lauk pauk, rice cooker, dan beras 20 kilogram yang dibagi ke beberapa koper.

1565972263089-nasi
Nasi dan sambal, hidangan yang sudah membahagiakan bagi penduduk Indonesia. Foto ilustrasi via Pixabay.

Pengalaman mirip saya alami di Paris. Saya tak sengaja bertemu tiga orang akademisi Indonesia yang baru saja mengikuti konferensi di Italia selama tiga hari. Agar hemat ongkos, kami memutuskan menyewa satu kamar bareng. Tengah malam, salah satu dari mereka membongkar koper. Mengeluarkan teri-tempe-kacang kering, rendang, kecap manis, sambal, dan… ini yang sebenarnya saya tak kaget, namun tak urung juga bikin ngikik: beras dan rice cooker!

"Ya kalau gak gini, pusing kami gak makan nasi," ujar mereka.

Tengah malam, dibarengi teriakan pemuda-pemuda Paris yang mabuk, semriwing aroma pesing di ujung jalan, dan 'La Vien Rose' yang diputar lewat laptop butut, kami makan nasi, rendang, kering tempe, dan sambal. Rasanya kami seperti berada di rumah.

Kami nambah nasi berkali-kali hingga tak lagi sanggup bergerak.

Jika kamu ingin menyebut satu makanan yang Indonesia banget, nasi memang jawabannya.

Kalau bersedia menyampingkan keburukan Orde Baru yang mendorong revolusi hijau dan swasembada beras, serta memaksa banyak orang Indonesia Timur menanam beras sampai meminggirkan pangan lokal mereka, maka jawabannya masih sama. Nasi adalah makanan terpenting di Indonesia.

Seberapa sering kamu merasa belum makan kalau belum menyantap nasi, walau sudah mengganyang roti, bahkan lontong atau ketupat? Seringkah kamu menyantap mie instan dengan nasi? Seenak apapun rendang atau gulai otak, tentu akan terasa ganjil jika disantap tanpa nasi.

Sepenting itu nasi bagi banyak orang Indonesia, mengutip Hayatinufus Tobing dan Cherry Hadibroto dalam Indonesian Kitchen: rice is a must!

Maka tak heran kalau pada 2018 orang Indonesia mengonsumsi sekitar 38,1 juta ton nasi, mendudukkan negara ini di peringkat ketiga dalam senarai negara dengan tingkat konsumsi nasi terbesar di dunia, hanya kalah oleh Cina dan India.

Menurut Fadly Rahman, sejarawan yang berkonsentrasi pada studi sejarah makanan, hidangan dengan bahan dasar beras sudah banyak dijumpai di Nusantara sejak abad 10. Konsumsinya di Nusantara tentu sudah terjadi sejak ratusan tahun sebelumnya, mengingat padi sudah dibudidayakan di Tiongkok sejak 5000 Sebelum Masehi. Di Nusantara sejak dulu, selain untuk makanan pokok, beras juga dipakai untuk bahan baku utama kudapan.

"Sebut saja naskah Ramayana dan Arjuna Wijaya yang menyebut kata ketan/ laketan; serta naskah Korawacraman menyebut kata lepet. Wajarlah bila ada varietas beras pulut (glutinous rice) yang bisa diolah menjadi beragam penganan macam ketan dan lepet, sebab dari abad ke abad, varietas padi memang kian berkembang menjadi bahan makanan yang disukai dan tumbuh di mana saja," tulis Fadly di buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia (2016).

1565971570819-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bas-relief_op_de_Borobudur_TMnr_10027564
Relief di Borobudur menunjukkan aktivitas membajak sawah untuk tanam padi pada Abad ke-8 di Jawa. Foto dari koleksi Tropen Museum/Wikimedia Commons/CC 3.0

Selain dipengaruhi oleh jejak kebudayaan lain, kebiasaan menyantap nasi juga berpengaruh terhadap khazanah kuliner bangsa lain. Fadly, kini lewat Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 (2011) menyebut bahwa budaya bumiputra menyantap nasi ditiru oleh orang-orang Belanda --hal yang ironis, mengingat mereka memaksa anaknya tetap memegang teguh budaya Eropa, termasuk selera makan.

"Pada kenyataannya, kebiasaan makan nasi di kalangan pribumi justru lebih mendominasi selera makan anak-anak mereka," catat Fadly.

Kebiasaan menyantap nasi itu yang kemudian melahirkan istilah rijsttafel, yang lahir dari kata rijst alias nasi, dan tafel yang merupakan kata kiasan dari hidangan. Istilah ini lantas dipakai untuk menjelaskan santapan berupa nasi dan pengiringnya. Menurut Fadly, nasi di rijsttafel biasa disantap dengan “kuah-kuahan (sausen), sayur-sauran (groentesausen), daging (ayam, sapi, dan babi), ikan laut dan ikan air tawar, udang, telur, serta sambal.”

"Keberadaan rijsttafel sendiri lebih ditekankan sebagai salah satu rangkaian proses akulturasi budaya makan Pribumi dan Belanda," tulis Fadly.

Proses akulturasi yang terjadi di Nusantara inilah yang kelak melahirkan ragam kuliner nasi di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia.

"Menurut pengamatan saya, hidangan nasi adalah hidangan yang sangat mudah untuk menjadi jembatan keberagaman dalam sebuah kultur," ujar Kevindra Soemantri. Salah satu pendiri situs boga Top Tables ini berpendapat bahwa nasi adalah hidangan sederhana tapi cocok disantap di segala suasana, pun bisa menjelma apa saja, baik hidangan utama atau kudapan. Hidangan nasi di Indonesia juga bersifat tengah, menjadi pusat perpaduan dan akulturasi budaya khazanah kuliner nusantara.

"Seperti nasi tumpeng yang sejatinya memusatkan diri pada nasi, tapi punya ragam kondimen yg simbolis mewakili laut, udara, darat, juga rempah," ujar penulis yang bersama Natasha Lucas menerbitkan buku Top Tables: A Food Traveller's Companion (2018).

Memang, jika menilik ragam hidangan nasi, Indonesia punya varian yang nyaris tak terhitung. Banyak pula yang merupakan hasil akulturasi dari kultur boga dari kebudayaan lain.

Mulai dari nasi kebuli yang merupakan modifikasi dari jazirah Arab. Mandhi yang datang dari India. Nasi goreng yang berpijak pada cara memasak Tiongkok. Belum lagi ragam semisal nasi Padang, nasi gandul, nasi jamblang, nasi liwet, juga nasi uduk.

"Atau nasi ulam Betawi yang menjadi paduan budaya Tionghoa, Arab, dan Melayu. Ada juga nasi kuning dan nasi minyak, atau nasi campur Bali yang bisa halal dan non halal, bahkan nasi campur Medan. Banyak sekali," tutur Kevindra.

1565972140848-nasi-uduk
Nasi uduk, salah satu menu sarapan lazim di Indonesia. Foto dari Wikimedia Commons/lisensi CC 3.0

Saking banyaknya ragam jenis nasi di Indonesia, tak mengherankan kalau pada 2012 silam, nasi tumpeng ditetapkan sebagai hidangan andalan dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia. Nasi tumpeng dipilih karena dianggap, "mempunyai dasar filosofi Indonesia yang kuat serta mempresentasikan budaya makan orang Indonesia, memiliki visualisasi yang atraktif, baik dari segi tampilan maupun rasa."

Pada akhirnya, nasi memang sudah kadung lekat dengan kultur bersantap di Indonesia. Lewat hidangan nasi pula, seharusnya orang Indonesia bisa kembali belajar satu hal: bahwa negara ini sejak awal memang beragam, dan bisa seperti sekarang lantaran menyerap pengaruh dari pelbagai kebudayaan.


Artikel ini adalah kolaborasi antara VICE X Blue Band dalam seri 'Nasionalisme', membahas berbagai kuliner berbasis nasi yang merefleksikan keberagaman bangsa kita