Iklan
The VICE Guide to Right Now

Ribuan Pelajar Jepang Masih Gunakan Sempoa Saat Belajar Matematika

Alat berhitung kuno ini justru bertambah populer di Negeri Matahari Terbit.

oleh Meera Navlakha; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
26 Agustus 2019, 6:15am

Ilustrasi sempoa via  Max Pixel

Belum lama ini, Jepang mengadakan lomba matematika yang pesertanya hanya boleh menghitung pakai soroban (sempoa).

Sementara negara lain mulai meninggalkan alat berhitung kuno ini, kursus sempoa masih sangat diminati dan dianggap pelajaran wajib di Jepang.

Surat kabar Amerika The New York Times menjelaskan sekolah-sekolah Jepang menerapkan kurikulum soroban hingga awal 1970-an. Beberapa masih berhitung dengannya, terutama pedagang toko sudah tua yang menggunakan sempoa untuk melacak total penjualan.

Meskipun pelajaran sempoa sudah tidak masuk kurikulum sekolah negeri, sekitar 43.000 siswa sekolah masih mengikuti kursus soroban di sekolah swasta. Banyak dari mereka yang belajar sempoa sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Murid kursus yang jago menghitung pakai sempoa bahkan sampai mengikuti kompetisi nasional. Pemilik kursus soroban, Yukako Kawaguchi, memberi tahu NY Times bahwa prestasi mereka akan lebih diakui jika sering mendapat nilai tinggi.

“Orang-orang bakalan memuji mereka anak cerdas, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka,” terangnya.

Beberapa murid Kawaguchi telah belajar soroban sejak TK. Setiap sesinya berlangsung hingga dua setengah jam.

Berdasarkan laporan Japan Times, minat akan soroban kembali meningkat pada 2013. Sejumlah orang yakin alat berupa papan kayu dan manik-manik ini dapat meningkatkan kemampuan berhitung dan menghafal. Pada 2011, lebih dari 210.000 orang mengikuti tes sertifikasi nasional soroban.

Pada Juli, kompetisi sempoa diadakan di Kyoto dan dihadiri tak kurang dari 800 orang. Pesaing termuda berusia 8, sementara yang tertua sudah 69 tahun. Dokumentasi foto selama acara menampilkan para orang tua, guru, dan saudara yang menyaksikan perlombaannya dengan saksama. Ada juga penonton yang menggunakan teropong supaya bisa melihat dari dekat.

Salah satu pemenangnya berhasil menambahkan 15 angka tiga digit dalam hitungan 1,64 detik. Lelaki 20 tahun itu meraih Guinness World Record karena kehebatannya. Kota Ginama juga memenangkan hadiah untuk kategori individu di antara siswa sekolah dasar. Dia masih 11 tahun.

Juara utamanya masih 16 tahun. Remaja bernama Daiki Kamino itu dengan benar menghitung jumlah 16 digit pakai sempoa. Dia mengaku latihan selama tiga jam setiap harinya sejak delapan tahun lalu.

“Saya mendengarkan dengan teliti, menggerakkan manik-manik dan mengulang angka-angkanya di otak. Saya langsung menggerakkan jari begitu mendengar unit seperti triliun atau milyar,” katanya kepada NY Times.

Follow Meera di Twitter dan Instagram .

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.