Pengalaman Mistis

Mengikuti Aksi Paranormal Berkomunikasi Sama 'Penghuni' Kantor VICE Indonesia

Kami sering bikin artikel nyinyir soal hal-hal mistis dan sekarang kena batunya sesudah pindah kantor baru. Inilah catatan dari manusia skeptis dan sok rasional saat berhadapan sama "mahluk gaib."

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
24 Agustus 2018, 9:38am

Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng.

Kantor VICE Indonesia ternyata selalu berhantu. Seriusan.

Kantor kami yang lama dikenal menyeramkan, setidaknya buat sebagian kecil rekan kerja yang saban hari rajin lembur sampai malam. Sekali aja menginap sampai agak larut, pasti bakal mengalami sensasi aneh. Mulai dari ada yang iseng mematikan lampu, main-main keyboard komputer, sampai menyaksikan anak-anak kecil ramai lari-larian. Sebenarnya dari dulu kaum minoritas ini sering curhat soal pengalaman yang aneh-aneh, tapi diabaikan rekan kantor lainnya.

Mau gimana lagi ya, mayoritas punggawa VICE adalah anak-anak sekuler, skeptis, dan tak sempat takut sama yang enggak kelihatan: kami lebih takut masuk penjara karena kebebasan beropini terancam dikebiri bermacam rancangan undang-undang; atau seumur hidup enggak mampu beli rumah lalu dicap 'generasi pemalas' oleh baby boomers dan Gen X yang demen banget memiskinkan kami dengan menghapus status karyawan tetap dan memperkenalkan sistem "kerja fleksibel."

Dua bulan lalu, kami pindah ke gedung baru. Eits, sekali lagi bukan karena gedung kantor lama terlalu seram. Sori-sori aja nih ya, kami enggak sepenakut itu kok. Kantor lama sudah terlalu kecil buat pegawai kami yang makin banyak. Bayangin aja, kantor jam makan siang kami udah kipas-kipas, belum lagi kursi dan meja makin terbatas.

Nah kantor baru kami ini letaknya hanya 100 meter jauhnya dari kantor lama. Ruko berlantai lima dengan rooftop dan furnitur baru. Yang jelas situasi seharusnya lebih kondusif dan menyenangkan. Sayangnya pengalaman mistis, khususnya buat lebih banyak karyawan, jadi terasa makin nyata saja.

Di bulan pertama kepindahan kami, saat belum semua urusan pertukangan selesai, renovasi masih berlangsung siang malam. Beberapa tukang secara terbuka mengeluh mereka sempat dikerjai "penunggu." Office Boy Hendrik Yansyah, atau biasa kami panggil Hendrik Lamar, juga mengaku bolak-balik menyaksikan kehadiran sosok perempuan di lantai paling atas dan bawah kami. Dua lantai yang saling berjauhan ini sejak awal emang terasa paling aneh. Nuansa lampu yang remang-remang menambah kesan seram. Lalu semua kegelisahan tadi tumpah di grup komunikasi internal. Seruan-seruan agar kami mendatangkan pembersih gangguan mahluk halus semakin gencar saja.


Tonton dokumenter VICE Indonesia mengenai masa kejayaan film horor dan laga kelas B di Tanah Air sepanjang dekade 1980'an:


Atas dasar kehebohan mistis itu dan gunjingan karyawan yang bertambah ramai, Pemimpin Redaksi VICE Indonesia Jonathan Vit—sama sekali tidak percaya ada makhluk halus—memintaku menelisik di area kantor mana saja terjadi gangguan mahluk halus.

Ah aku sudah hapal gerak-gerik Jonathan ketika hendak "mengerjaiku." Ujung-ujungnya aku diminta menulis soal para hantu penghuni kantor. "Elo kan sering bikin cerita soal hantu, kenapa enggak dibikin aja cerita hantu di kantor kita sendiri?"

VICE Indonesia berulang kali menulis, kadang dengan nuansa nyinyir, soal paranormal, santet, pawang hujan, tempat "berhantu" warisan keluarga Suharto, hingga acara TV mistis dari dalam maupun luar negeri. Tapi baru sekarang kami "kena batunya", mengulik soal yang halus-halus di kantor sendiri.

Baru datang Pak Iwan langsung lama banget melihat spot satu ini. Langsung degdegan. Duh, semoga saja mahluk halus mendukung ideologi kami. Foto oleh penulis.


Aku menghubungi kawan-kawanku yang kenal baik dengan praktisi supranatural. Akhirnya aku memperoleh rekomendasi nama ini: Iwan Setiawan, 50 tahun. Dia sering menjadi konsultan spiritual di balik layar program-program misteri televisi. Iwan sudah melakoni dunia supernatural sejak berusia 10 tahun. Kini Ia terlibat dalam beberapa program misteri di beberapa stasiun TV swasta. Kamis 16 Agustus lalu, akhirnya Iwan bersedia berkunjung ke gedung baru VICE di dekat Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Aku menemuinya di depan gedung, dan mengajaknya langsung menuju ke ruang redaksi VICE, di lantai tiga gedung. Saat masuk Ia tak henti senyam-senyum. Ucapan pertamanya setelah berkenalan segera membuatku tercenung.

"Kalau di kantor yang ini tuh enggak terlalu mengganggu. Justru yang lebih mengganggu itu yang di kantor lama," kata Iwan. "Kalau di kantor lama itu interaktif. Kalau di sini hanya interaksi."

Apa bedanya ya pak? Apakah kalau interaktif mirip game PUBG pakai VR sementara di kantor baru upaya interaksi ini lebih mirip main PES di PS4 bareng teman-teman gitu? Auk ah. Pusing.

Oh iya, kebetulan lainnya, selalu ada kesimpulan yang sama dari tiap narasumber ketika aku menulis soal perkara mistis macam ini: aku punya bakat jadi indigo.

Iwan menjelaskan 'apa' saja penghuni kantor baru kami.

Salah satu indikatornya, baru 10 menit ngobrol dengan Iwan, badanku langsung mual dan punggungku terasa panas. Narasumberku sebelumnya di Jakarta Utara, satu lagi seorang paranormal di Singapura, sekarang ditambah Iwan, mengatakan hal yang sama. Rasa panas tadi tanda aku dilindungi leluhur dan punya bakat mendalami ilmu-ilmu gaib. Pak Iwan bilang sih, aku tinggal menunggu saja kapan "kemampuan" itu datang padaku—cepat atau lambat. Haduh. Mau geer tapi kok serem...

Oh iya, bosku yang bernama Jonathan tadi sesumbar awalnya ingin membuktikan keberadaan hantu kalau paranormal betulan datang. Giliran Iwan sudah siap keliling dan menerawang kantor, eh bosku mangkir. Dia banyak ngeles untuk tidak dibuka mata batinnya, alasannya sih lagi sibuk wawancara calon karyawan baru. Bilang aja deh Jon kalau takut... LOL

Tiba-tiba di tengah obrolan kami, ada kawan bercerita desainer grafis kami, Ilyas Rivani, bersinggungan sama hal supernatural di toilet lantai dasar. Ilyas sedang mencuci tangan di wastafel lantai dasar sesaat setelah Ia mencuci gelas miliknya. Di depan matanya, Ia melihat gelas itu digeser sesuatu yang tak nampak. Ilyas mengaku tidak takut, dan malah sengaja menggeser kembali gelasnya ke tempat semula.

"Tadi setelah gue geser lagi gelasnya balikin ke tempat semula gue tungguin lagi [reaksi dari makhluk itu]," kata Ilyas padaku dan Iwan. Nihil. Tak ada respons balik.

Iwan langsung mengajak Ilyas melakukan pembuktian di toilet lantai bawah agar Ilyas merasakan langsung. Iwan bilang Ilyas adalah salah satu orang yang paling sering "diajak main" di kantor, karena mentalnya yang paling kuat. Namun Ilyas seringkali tak menggubris.

"Saya coba buka komunikasi. Coba kamu tanya namanya. Dia akan menjawab dalam (hati) diri kamu sendiri," kata Iwan kepada Ilyas yang saat itu diminta memejamkan tangan dan mengangkat tangannya untuk merasakan sentuhan.

Ilyas coba dibuka mata batinnya supaya bisa berkomunikasi sama 'bocah' usil di toilet lantai bawah.

Sayangnya setelah beberapa menit upaya pembukaan mata batin, Ilyas tak merasakan jawaban apapun. "Enggak kelihatan [visualisasinya], tapi memang tadi ngerasain ada sesuatu yang dipindahkan kayak dari atas ke bawah ada sesuatu."

Menurut Iwan, Ilyas terlampau gugup, sehingga cenderung resisten dan sulit merasakan kehadiran mereka. Iwan pun membuka komunikasi dengan meletakan sehelai tisu toilet. Iwan meminta pada penghuninya untuk menyentuh tissue tersebut. Iwan menunggu, eh "mereka" masih tak bereaksi.

"Makhluk ini perempuan, dia takut sama yang baju merah katanya. Makanya dia ingin coba bicara," kata Iwan padaku. Iya hari itu aku mengenakan baju berwarna merah, dan dia takut padaku? Lah ini yang hantu siapa sih? Aku apa dia?

Untuk pertama kalinya, aku diminta memejamkan mata dan mencoba memvisualisasikan dirinya. Aku diminta langsung bertanya pada makhluk itu dan jawabannya langsung muncul di hatiku. Entah kenapa, dalam visualisasiku terlihat rambut panjang ikal yang lama tak disisir, ada baju dengan kain warna hijau tua yang dipadukan dengan warna putih. Pada saat yang sama, satu nama yang tak pernah melintas di otakku muncul. Aku langsung memanggilnya.

"Kamu Anna Maria?" aku bertanya pada makhluk itu. Nama itu mendadak saja terlintas. Barangkali memang itulah caranya mengiyakan pertanyaanku sebelumnya. Sayang, komunikasi kami berhenti setelahnya.

Iwan mengatakan, makhluk bernama Anna Maria sudah lama berada di tempat itu, berabad-abad yang lalu. Ia seorang perempuan keturunan Belanda-Cina. Anna Maria memang yang paling mendominasi di kantor ini, tapi menurut Iwan, Ia tak mengganggu. Ia hanya ingin berdiam diri di sana. Lagipula, bukan Anna Maria yang mengganggu Ilyas tadi pagi. Melainkan… anak-anak kecil di pos keamanan yang sering iseng lalu lalang pintu otomatis.

Kami pun putuskan naik ke lantai atas. Di lantai dua yang merupakan ruangan tempat Managing Director, Art Director, dan tim marketing kami, disebut Iwan sebagai lantai yang aman. Begitu pula dengan lantai tiga tempat anak-anak Editorial bersarang. Naik satu lantai lagi, adalah ruangan tempat Video Editor dan studio tempat alat-alat shooting disimpan. Di ruangan inilah menurut Iwan banyak "anak-anak kecil" usil main-main dengan alat-alat di studio. Sayangnya, tim editor video VICE terlalu cuek. Tak ada yang peduli sama lingkungan sekitar. Kasihan, ada mahluk halus ngajak main enggak ditanggapin. Huft.

Kami pun menuju ke lantai lima, konon di lantai ini orang paling sering diganggu. Misalnya saja cerita soal beberapa teman sesama tim redaksi yang pernah merokok di rooftop malam hari sambil ditemani sosok perempuan pas awal-awal kami pindah gedung baru.

"Nah gedung ini termasuk jalur perlintasan kalau mereka dari utara ke selatan, timur ke barat, dan sebaliknya," ungkap Iwan. "[Gedung ini] cuma jadi tempat main, enggak menetap."

Wah udah kayak terminal kampung melayu.

Pak Iwan memantau situasi di rooftop yang masih dipugar. Cocok kali ya pak buat ajep-ajep boiler room versi demit.

Intinya kunjungan Pak Iwan sepanjang hari berakhir dengan kesimpulan membahagiakan: kantor VICE yang baru adalah tempat yang aman secara spiritual. Makhluk halus memang ada dan sebagian bersarang, tapi mereka tidak mengganggu kami. Kalau kata Iwan sih, ada yang agak usil dikit sekadar penasaran sama manusia di kantor ini, karena sedikit sekali orang yang peduli dengan keberadaan mereka.

"Mereka penasarannya, 'apakah di antara orang-orang di [kantor] sini enggak ada yang memahami keberadaan mereka?'" kata Iwan. "Enggak ada satu pun di sini yang bapak lihat negatif. Positif semua [makhluknya] di sini."

Sayang sekali. Begitulah hasilnya. Seperti liputan VICE soal hantu sebelumnya, semua terpaksa berakhir jadi sekadar opsi percaya enggak percaya.

Kalau info Iwan akurat, sifat dasar penghuni kantor baru ini baik. Mahluk-mahluk tadi penasaran doang, bahkan takut terlalu usil. Membuktikan keberadaan hantu pada manusia-manusia rasional dan kafir yang kerja di VICE butuh usaha lebih keras, bahkan bagi para mahluk halus malang tersebut.

Seharusnya semua selesai. Tapi rupanya sepulang dari kantor aku merasa mual-mual. Aku muntah dua kali. Di rumah pun aku tidak nyenyak tidur dan tiba-tiba terbangun jam 4 pagi. Saat aku mencoba tidur kembali, dalam fase transisi antara sadar dan tidak, ada empat anak seakan-akan berdiri depan pos satpam kantor, muncul di kepalaku. Mereka mengajak bermain. Aku bilang pada mereka aku capek, aku mau tidur dan jangan pernah ajak aku main saat aku sudah pulang. Akhirnya mereka diam. Sialan. Ini tadinya mau jadi artikel lucu-lucuan, kok malah serem gini.

Aku buru-buru menghubungi kembali Pak Iwan. Ia membenarkan bahwa yang datang padaku pukul empat pagi adalah mereka. Padahal sih aku cuma mikir kalau itu mimpi saja. "Iya itu mereka dan benar adanya, mereka mohon izin ada di sana dan mbak yang mereka percaya untuk berkomunikasi."

Iwan pun kembali mengulang pernyataan soal kemampuan lebihku dalam perkara gaib-gaiban. "Saya melihat ada sesuatu yang lebih dibandingkan yang lain di diri mbak," ujar Iwan. "Kalau mau mendalami seperti kami [bisa], tapi pertanyaannya apa enggak sayang kerjaannya ditinggalin?" Iwan bertanya balik.

Jujur aku kaget. Melatih bakat indigo dan jadi dukun, paranormal, pengamat mahluk astral, atau apalah sebutannya itu, tidak pernah masuk daftar hal yang aku cita-citakan.


Tonton wawancara kami bersama Tara Basro, mengulik feminisme sampai pengalaman gaib, di tengah kuburan. Biar greget:


Aku tidak membalas tawaran Pak Iwan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, opsi menjadi praktisi paranormal ide yang bagus juga. Apalagi di Indonesia, profesi ini bisa membuatmu hidup sejahtera. Minimal terkenal dan masuk TV lah. Asal enggak kepeleset bikin sekte penyembah ubur-ubur atau bikin konser metal rasis, kayaknya hidup jadi paranormal lumayan enak lah.

Duh bikin bimbang nih. Apa mending aku pensiun aja ya, enggak usah jadi jurnalis?

Mungkin enggak deh. Maaf dunia paranormal. Aku kayaknya lebih bahagia ngejar narasumber ketimbang tiap hari harus ngobrol sama arwah dari era Kolonial Belanda dan nemenin main bocah-bocah gaib.