Cangkang Kepiting Bisa Menjadi Alternatif Pengganti Plastik yang Ramah Lingkungan

Peneliti menemukan bahwa cangkang kepiting bisa dimanfaatkan sebagai kemasan yang dapat didaur ulang.

|
Jul 27 2018, 6:09pagi

Photo via Flickr user mazaletel

Hidup kita di dunia modern ini sangat bergantung pada plastik. Sabun cuci muka? Pakai botol plastik. Kopi yang kita beli setiap pagi? Pakai gelas dan sedotan plastik. Furnitur rumah pun kebanyakan dari plastik. Penggunaan plastik memang terkesan lebih praktis, tapi sayangnya kemasan ini sangat buruk bagi lingkungan. Lebih dari sembilan miliar ton plastik yang dibuat, hanya ada 9 persen yang bisa didaur ulang. Sisanya? Menumpuk di tempat pembuangan sampah dan lautan. Plastik juga berbahaya bagi kesehatan, dan mengacaukan sistem hormon manusia.

Beruntung semakin banyak orang yang menyadari betapa pentingnya alternatif pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan dan tidak berdampak negatif terhadap kesehatan. Beberapa mulai melakukan terobosan, seperti membuat peralatan makan yang bisa dimakan atau sedotan besi dan kertas. Dan semoga saja, dalam waktu dekat ini, ilmuwan bisa menciptakan alternatif baru: kemasan nonplastik dari bangkai kepiting.

Para peneliti dari Georgia Institute of Technology sedang mengembangkan bahan kemasan fleksibel yang terdiri dari lapisan kitin, komponen utama cangkang krustasea, dan selulosa, serat utama tanaman hijau. Upayanya dijelaskan pekan ini dalam jurnal ilmiah ACS Sustainable Chemistry and Engineering.

Menurut J. Carson Meredith, peneliti yang berpartisipasi dalam proyek ini dan dosen di School of Chemical and Biomedical Engineering Georgia Tech, tekstur dan tampilan produk yang dibuat sangat mirip dengan plastik berbasis petroleum yang digunakan untuk botol soda dan kantong makanan ringan. Bahkan, alternatif ini bisa saja menjaga kesegaran makanan.

“Kami membandingkannya dengan PET, atau polyethylene terephthalate, salah satu bahan berbasis petroleum yang paling umum digunakan untuk kemasan transparan yang biasa kita lihat di mesin penjual otomatis dan botol minuman,” kata Meredith kepada Science Daily. “Bahan kami menunjukkan penurunan 67 persen permeabilitas oksigen seperti beberapa bentuk PET. Teorinya, bahan ini bisa lebih lama menjaga kesegaran makanan.”

Para ilmuwan dari Georgia Tech sudah menggunakan selulosa selama bertahun-tahun sebelum mereka mengamati kitin. Mereka ingin tahu apakah kombinasi dua bahan ini bisa menciptakan kemasan makanan yang bagus.

“Kami menyadari bahwa nanofiber kitin bermuatan positif, dan nanokristal selulosa bermuatan negatif. Harusnya dua bahan ini bisa berfungsi sebagai lapisan bolak-balik karena membentuk interface yang baik di antara keduanya,” ujar Meredith.


Untuk membuat kemasan nonplastik, peneliti merendam mikrofiber selulosa dan kitin secara masing-masing, lalu menyemprot campurannya ke permukaan lapisan bolak-balik. Bahannya fleksibel, kuat dan transparan layaknya plastik sungguhan setelah kering. Keunggulannya, bahan ini bisa menjadi kompos.

Kemasan nonplastik ini juga ramah lingkungan. Industri kerang menghasilkan sekitar enam hingga delapan juta ton limbah kitin setiap tahun. Setiap kali kamu membeli udang, kepiting atau tiram yang sudah dikupas, cangkangnya akan dibuang dan kembali ke lautan. Apabila kita menggunakan cangkang sebagai alternatif plastik, itu artinya kita bisa bantu mengurangi jejak industri kerang.

Akan tetapi, kemasan nonplastik dari cangkang kepiting ini belum bisa hadir dalam waktu dekat. Meskipun kita bisa memanfaatkan produk limbah, proses pembuatannya lebih mahal daripada plastik. Konsumen pastinya tidak mau bayar mahal untuk benda yang akhirnya bakalan dibuang juga. Tim Georgia Tech mengatakan bahwa mereka masih cari cara membuat kemasan nonplastik yang lebih ekonomis.

Yang bisa kita lakukan sekarang: membuat sandwich kepiting (sekalian cangkangnya) yang super enak ini.

More VICE
VICE Channels