Dunia Kerja

Setelah Bertahun-tahun Jadi Anak Magang 'Abadi', Ini Pelajaran Hidup yang Kuperoleh

Aku pernah magang 11 kali, sebagian pengalaman itu akhirnya kusesali. Berikut hal-hal yang kupikir bisa menjadi pelajaran penting bagi kalian semua calon anak magang.

oleh Aziza Kasumov
31 Januari 2019, 12:21pm

Ilustrasi oleh Daniel Zender 

Saya pernah magang 11 kali selama delapan tahun terakhir, sebagian besar di industri media. Saya pernah menulis iklan dengan honor menyedihkan buat surat kabar lokal di Jerman, meliput isu-isu budaya seputar kampus untuk Huffington Post tanpa dibayar waktu saya umur 20-an. Pernah juga saya bantu-bantu menyunting di penerbitan milik teman, waktu saya umur 22 tahun, juga tanpa dibayar.

Dengan pengalaman sepanjang itu, saya bisa agak yakin untuk bilang: magang bisa bersifat merendahkan derajat manusia dan eksploitatif, sekaligus mengungkap ketidaksetaraan antara anak muda yang mapan secara finansial—sehingga mau bekerja tanpa dibayar atau dibayar rendah—dari mereka yang butuh banget uang untuk hidup mandiri karena ortunya enggak tajir.

Ketika tempat magang cuma memintamu menjalani hari melakukan tugas yang enggak mau dikerjain orang lain di kantor, kamu pasti jadi mempertanyakan nilaimu sebagai individu dan pencapaianmu selama ini. Dibayar sedikit atau enggak sama sekali sekadar memperparah perasaan rendah diri tersebut, sekaligus menyisihkan orang dari kelas pekerja yang enggak mungkin tertarik melakoni magang. Kebetulan sebagian besar tempat magang saya adalah bidang jurnalisme, sebuah industri yang punya reputasi buruk lantaran gaji karyawannya rendah dan jam kerjanya panjang.

Tapi tidak semua aspek dari kegiatan magang buruk kok. Banyak kegiatan magang juga merupakan pengalaman yang menambah pengetahuan, bahkan memberi kesempatan saya bekerjasama dengan sosok-sosok menginspirasi dengan honor lumayan.

Sebagai anak magang di Bloomberg News, saya dapat uang transport lebih tinggi daripada standar industri dan bekerjasama sama editor yang membantu memahami kenapa tulisan saya disunting. Saya belajar banyak soal jurnalisme sih di sana. Sewaktu magang buat Hollywood Reporter, saya malah dibayar lembur saat meliput pesta Oscar dan acara-acara karpet merah. Saya takkan pernah mau melakukan itu lagi, tapi untungnya saya bisa belajar cara menangani orang humas para artis Hollywood yang lagi ngomel-ngomel.

Saya juga belajar banyak hal yang enggak mungkin dipelajari di kampus. Misalnya cara menjaga diri ketika meliput unjuk rasa yang penuh kekerasan dan lepas kendali, yang mana polisi sampai tak berani campur tangan.


Tonton dokumenter VICE yang mewawancarai seluk beluk keseharian lelaki berprofesi sebagai badut pesta profesional di Indonesia:


Persoalannya, pengalaman belajar itu seringkali dinaungi perasaan ketidaknyamanan. Pas pertama kali magang ketika masih kuliah, saya sempat marah karena mikir 'kok gue mau sih kerja tanpa dibayar?' Apalagi saat itu saya masih mengandalkan uang saku dari orang tua. Giliran dapat pengalaman kerja, saya hanya bisa ikut menyumbang ketidaksetaraan dan eksploitatif yang dilanggengkan oleh praktik magang di industri ini. Sebaliknya, pas lulus kuliah, saya merasa sebaliknya, dan saya mulai gelisah pas mau selesai magang, karena artinya saya enggak dapat uang transport dan bakal menganggur.

Kalau kamu sekarang semester akhir kuliah, atau baru banget lulus, kemungkinan besar kamu bersiap melamar magang. Ada beberapa hal yang harus diingat dalam proses melamar pekerjaan. Buat yang sudah lulus, misalnya, jangan pernah menerima iming-iming posisi tetap di suatu pekerjaan tapi harus mau magang dulu tanpa dibayar; itu biasanya ilegal. (Saya pernah melakukannya, dan saya nyesel.) Saya akhirnya menyusun beberapa tips yang bisa membantu kita menjalani magang agar lebih bermanfaat.

Inilah pelajaran yang saya pelajari sebagai anak magang abadi:

Tidak Semua Magang Berguna, Ada yang Cuma Buang-Buang Waktumu

Kegiatan magang seharusnya bersifat mendidik. Setiap pekerjaan punya rutinitasnya sendiri, jadi kalian enggak akan belajar hal baru setiap saat. Tapi kalau kalian disuruh mengerjakan hal yang sama berulang kali, perusahaan seharusnya mempekerjakanmu sebagai karyawan tetap dan membayar jasamu. Mereka enggak bisa seenaknya memanfaatkan status magangmu yang cuma dikasih ganti transport (atau bahkan enggak digaji sama sekali), atau mempekerjakanmu sebagai karyawan kontrak tanpa dapat tunjangan atau jaminan pekerjaan stabil.

Tanyakan pada diri sendiri kenapa kamu mau magang. Apakah memang praktik kerja tersebut bermanfaat untuk masa depanmu? Apakah pengalaman magang di perusahaan itu bagus untuk peluang karier?

Jujur aja nih. Mau magang di perusahaan besar sekalipun, hasilnya percuma kalau kalian enggak dapat ilmu yang riil selama di sana. Kalian cuma buang-buang waktu saja apabila magang yang enggak sesuai dengan cita-cita sebenarnya. Misalnya, kalian pengin banget jadi jurnalis, tapi malah magang jadi admin media sosial atau PR. Enggak nyambung, kan? Jadi, jangan pernah kepikiran untuk magang di perusahaan besar hanya karena pengin memperbagus CV. Kalian sebaiknya mempertimbangkan apakah tawaran magangnya bisa membantu mengasah keterampilan yang berguna untuk mencari pekerjaan idaman nantinya.

Apabila saya bisa mengulang waktu ke masa muda dulu, saya bakalan minta perusahaan calon tempat magang menjelaskan secara spesifik apa saja yang akan saya kerjakan setiap hari dan keterampilan apa yang mereka cari untuk saya kembangkan.

Kalian juga bisa cari tahu lebih banyak tentang perusahaannya di situs kayak gini atau ini. Dari situs tersebut, kalian bisa mendapat gambaran tentang lingkungan kerjanya dari ulasan karyawan. Atau kalian juga dapat menanyakan langsung ke teman atau saudara yang pernah kerja di perusahaan incaran. Kalau ternyata pas magang kalian cuma disuruh transkrip wawancara, mending dipikir-pikir lagi deh apakah itu sepadan sama waktumu yang terbuang.

Jangan Kerja Berlebihan Bila Statusmu Cuma Anak Magang

Kalian mungkin pernah dengar atau malah melakukan hal ini: "Saya masuk sebelum bos datang dan baru pulang setelah semuanya pulang." CEO dan mantan anak magang yang sekarang menjadi karyawan tetap sering menyarankan ini kepada saya. Katanya, kita bakal lebih menonjol dibanding karyawan lain jika konsisten melakukannya. Tapi, untuk apa kalian diam saja di kantor kalau kerjaannya sudah selesai semua? Untuk apa lembur kalau enggak dikasih upah? Jika kalian enggak bisa membuktikan kelebihan saat jam kerja reguler, maka lembur juga enggak akan mengubah kondisi.

Tentunya, ada waktu ketika kerjaan sedang banyak-banyaknya. Jika kamu melihat kondisi seperti ini, please deh jangan seenaknya pulang ke rumah terus Netflix-an di kamar. Ikut lembur dong.

Begitu cara kamu menunjukkan dedikasi—bukannya dengan nongkrong lama-lama di kantor biar kelihatan sama bos. Pemikiran seperti inilah yang merugikan sebab ini menunjukan jika kamu rela dieksploitasi dari hari ke hari sebagai anak magang, dengan kerja lembur bagai kuda tanpa bayaran sepeserpun.

Jangan Magang Buat Nutupin Statusmu Sebagai Pengangguran

Saya pernah melakukan kesalahan macam ini. Maksudnya begini, saya sempat cuma mau magang terus selepas lulus kuliah walau bayaran enggak seberapa. Alasannya, cari pekerjaan tetap itu susah, dan kita takut mengalami penolakan. Saya takut dianggap menganggur selepas kuliah (padahal faktanya memang iya). Tapi dalam kondisi tertentu, misalnya sehabis lulus kuliah, terus-terusan jadi anak magang juga enggak baik. Hal ini pasti nantinya menyiksa keuanganmu.

Tiap tiga bulan, setelah kesempatan magang kelar, saya lagi-lagi harus berburu posisi magang di kantor lain. Kalau masih ada bekal tabungan sih gapapa. Tapi biasanya dari pengalaman yang sudah-sudah sih, kantong dan rekeningmu kosong sampai kamu menemukan kesempatan magang berikutnya.

Percayalah, mencari pekerjaan adalah aktivitas seumur hidup. Artinya, magang sambil mencari pekerjaan justru menambah dua kali lipat bebanmu. Sebab kamu harus nyambi ngirim lowongan, atau datang ke wawancara kerja, selagi kamu dihujani kerjaan magang. Artinya lagi, kamu bakal lebih stress dari biasanya. Sejujurnya, enggak ada solusi yang benar-benar jitu untuk masalah ini.

Cuma kalau boleh usul, coba deh cari pekerjaan sampingan yang ringan—ngajar bimbel pribadi, nerjemahin segala macam naskah, jadi pengasuh anak dadakan atau pekerjaan apapun yang bisa kamu temui di situs penyedia jasa freelance. Mending kayak gitu, karena lebih mudah dijalani ketimbang harus berburu kerjaan sambil jadi anak magang di perusahaan tertentu.

Sadari Efek Psikologis Kalau Kamu Magang Tanpa Kepastian Kerja Tetap

Kebanyakan dari kalian enggak akan sudi hidup kayak saya dulu. Maksudnya, magang sampai tujuh atau delapan kali, sebelum akhirnya punya pekerjaan tetap. Tapi, kadang, lantaran enggak ada pilihan yang lebih rasional, kita mesti menjabani hidup sebagai anak magang abadi. Kondisi kurang mengenakan macam inilah yang bikin kita bertanya pada diri kita seperti ini: Duh, jangan-jangan gue emang enggak layak punya kerjaan tetap?

Saya pernah di berada di posisi itu—begitu juga beberapa teman sekampus dulu. Lagi-lagi,solusi yang komprehensif untuk masalah ini belum ditemukan oleh umat manusia.

Setidaknya dua hal ini bisa kamu lakukan bilamana masa-masa bimbang ini datang: ingat lagi semua yang sudah kamu capai (meski cuma sebagai anak magang) dan sadarilah bahwa kamu enggak sendirian.


Follow Aziza Kasumov di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di FREE—situs VICE yang membicarakan karir dan pengelolaan keuangan