Cowok India Gugat Ortu ke Pengadilan, Alasannya Dia Tak Pernah Setuju Dilahirkan

Ibu si cowok dari Kota Mumbai ini santai banget setelah tahu digugat buah hatinya sendiri. Dia cuma bilang: "Jangan harap aku bersikap lembut, aku akan menghancurkanmu di pengadilan."

|
12 Februari 2019, 9:14am

Foto Raphael Samuel, anak di India yang gugat ortunya sendiri via YouTube/Nihil Anand

 

Lelaki berusia 27 tahun asal India menggugat kedua orang tuanya ke pengadilan agar membayar ganti rugi jutaan Rupee. Dia merasa tidak pernah menyetujui dilahirkan ke dunia. Raphael Samuel, nama si penggugat, berprofesi sebagai pengusaha di Kota Mumbai.

Samuel mengadopsi ideologi "antinatalis", yang berarti dia percaya kelahiran bayi ke dunia mempunyai nilai negatif. Dia juga meyakini prokreasi manusia dewasa keliru secara moral, karena tidak mungkin bagi manusia bertanya pada anak yang belum lahir, apakah si bayi ingin hidup di ke dunia ini.

Samuel berpendapat semua ortu yang memutuskan punya anak sudah melanggar hak anak tersebut, dan otomatis, melanggar hukum pidana India secara tidak langsung. "Saya sebagai anak tidak pernah dapat kesempatan memutuskan mau atau tidak untuk dilahirkan," katanya kepada BBC. Jadi menurut dia, meminta ganti rugi materiil pada kedua ortunya adalah hal yang wajar.

Dia percaya seharusnya ortu 'membayar' keberadaannya di dunia. "Karena kita lahir tanpa dimintai persetujuan, kita seharusnya dapat kompensasi seumur hidup," kata Samuel saat muncul di sebuah video YouTube—mengenakan janggut palsu dan kacamata hitam, dipakai dengan alasan melindungi identitasnya. "Kita seharusnya dibayar orang tua kita karena hidup di dunia, dan bayaran itu tidak mencakup biaya pendidikan, makan, dan perawatan kita selama ini. Kenapa tidak?!"

Menurut Samuel, melahirkan seseorang ke dunia ini—apalagi memaksa si anak menjalankan pendidikan dan karir tertentu—setara dengan "penculikan dan perbudakan." Lelaki ini juga menganggap keputusan lelaki-perempuan terus berkembang biak tidak etis bagi diri mereka sendiri maupun planet Bumi.

"Kemanusiaan tuh enggak ada tujuannya. Tak terhitung lagi orang yang menderita karena manusia ada banyak banget," ujarnya. "Kalau manusia punah, bumi dan semua hewan bakal lebih senang. Keberadaan manusia buatku enggak ada gunanya."

Sampai sekarang Samuel belum berhasil menemukan pengacara yang bersedia mewakilinya dalam persidangan. Jadwal sidang sedang diatur oleh panitera Pengadilan Mumbai. Orang tuanya—dua-duanya berprofesi sebagai pengacara—sudah siap melawan anaknya sendiri di pengadilan. Saat Samuel memberitahu ibunya enam bulan lalu kalau berencana menggugatnya, tanggapan si ibu sederhana saja. "Oke, tidak masalah, tapi jangan berharap aku akan bersikap lembut denganmu. Aku akan menghancurkanmu di pengadilan."


Tonton dokumenter VICE soal gadis cilik asal Nepal yang dianggap titisan dewi di Bumi dan tak pernah menjejak tanah:


Ayah-ibu Samuel sebetulnya memahami argumen utama gugatan tersebut. "Ibu bilang, dia pun sebenarnya ingin bertemu denganku sebelum aku lahir. Kalau dia bisa bertemu denganku, dan aku memang menolak, dia pasti takkan melahirkanku."

Saat Samuel sibuk menjelaskan rencana gugatannya kepada medsos dan media massa, sang ibu membuat kampanye balasan di Facebook. Dia menuntut Samuel bisa menjelaskan secara logis bagaimana cara manusia meminta izin pada si jabang bayi untuk dilahirkan. Kalau di pengadilan Samuel sukses melakukannya, "barulah saya akan mengakui kesalahan telah melahirkannya tanpa izin," tulis sang ibu di postingan tersebut.

Oke, kasus gugatan anak melawan ortu ini memang sedikit mencurigakan. Si anak ngapain pakai janggut palsu dan kacamata hitam, terus ceramah soal antinatalisme di sebuah vlog channel YouTube populer India. Hmm, jangan-jangan semua ini cuma kasus hoax untuk mempromosikan merek kondom terbaru. Atau mungkin Samuel hanya ingin mencari perhatian di internet. Atas kecurigaan yang sama, surat kabar Hindustan Times bertanya langsung kepada Samuel.

Lewat video call, jurnalis Amrita Kohli bertanya kepada Samuel: gugatanmu tuh beneran, atau cuma cari sensasi? Dia ngotot mengaku tidak sedang bercanda. Alasan Samuel di vlog mengenakan janggut palsu hanya karena dia belum menginginkan wajahnya masuk ke ruang publik. Namun, dia juga mengaku sikapnya ini bertujuan untuk mencari perhatian masyarakat. Dia "benar-benar kepengin ideologi antinatalisme dibicarakan… sehingga makin banyak orang mendukung ide sederhana untuk tidak lagi mempunyai anak."

Perkembangan gagasan/gerakan antinatalis (sederhananya: menolak aktivitas melahirkan) dapat dilacak hingga abad pertama dan kedua setelah masehi, seperti dilaporkan ABC. Sebagian tafsir ajaran Gnostisisme dan Buddhisme di masa lalu juga punya nuansa serupa: melahirkan anak ke dunia adalah kesalahan, sebab alam yang kita hidupi ini penuh penderitaan dan kejahatan. Ide tersebut lantas dipopulerkan di Barat oleh filsuf David Benatar, yang pada 2006 menerbitkan buku berjudul Better Never to Have Been: The Harm of Coming Into Existence ('Lebih Baik Tidak Pernah Ada: Kerusakan Yang Ditimbulkan Kelahiran Manusia').

Dalam bukunya, Benatar menyajikan postulat bahwa pengalaman apapun yang terkait rasa sakit tidak akan menyiksa, jika manusia tidak mengenal keberadaan rasa sakit sama sekali. Dengan begitu, hidup akan selalu terasa lebih buruk daripada tidak hidup. Dalam alur logika demikian, melahirkan seseorang secara otomatis adalah keputusan buruk.

"Kelahiran tidak pernah menghasilkan keuntungan bagi manusia di manapun. Yang terjadi justru selalu kerugian," kata Benatar dalam bukunya. "Setiap kehidupan mengandung banyak keburukan—jauh lebih banyak ketimbang yang biasanya diyakini. Satu-satunya cara menjamin seseorang tak lagi menderita adalah memastikan si manusia itu tidak pernah menjadi orang yang terlahirkan."

Perspektif Samuel atau Benatar masih dianggap kontroversial oleh masyarakat India. Gimana enggak, di Negeri Sungai Gangga itu, 1,5 juta anak dilahirkan setiap bulan.

Follow Gavin di Twitter dan Instagram