Budaya Pop

Sejarawan Militer Bikin Analisis Soal Siapa Bakal Menang di Akhir 'Game of Thrones'

Pakar menebak sosok yang bakal menduduki Iron Throne pada season pamungkas serial HBO ini, pakai sudut pandang taktik perang dan diplomasi. Menarik banget...
02 April 2019, 11:30am
Sejarawan Militer Bikin Analisis Soal Siapa Bakal Menang di Akhir 'Game of Thrones'
Semua foto diunggah seizin HBO / Kolase oleh Noel Ransome 

Menjadi sejarawan militer sekaligus penggemar Game of Thrones rupanya bukan hal mudah. Sejarawan mempelajari konflik bersenjata sepanjang karir akademiknya. Menerapkan keahlian itu untuk mempelajari serial fantasi HBO sekilas terdengar keren, tapi seringkali bertentangan dengan analisis mereka. Contohnya seperti dialami sejarawan Michael Livingston. Dia merasa Jon Snow seharusnya sudah mati jauh sebelum season terakhir.

"Saya demen sama karakter Jon, tapi dia berperilaku seperti Leeroy Jenkins tanpa helm saat berperang," kata Livingston sambil tertawa, mengacu pada Battle of the Bastards. "Saya memfavoritkan Jon, tapi ayolah, seharusnya dia mati dipanah sejak sekian season lalu."

Saya juga setuju pak.

Sepanjang 67 episode Game of Thrones, kita sudah mengendal cara George R.R. Martin memadukan fantasi dan seni perang serta diplomasi. Pencipta GoT ini memang sering menarik inspirasi dari pertempuran sepanjang sejarah. Kini, setelah tinggal satu season tersisa, wajar kalau kita semua penasaran—siapa yang akan menduduki Iron Throne dan menguasai seluruh wilayah Seven Kingdoms?—mending kita merujuk pada pakar sejarah untuk memperoleh jawabannya. Itu yang saya lakukan.

Musim ketujuh berakhir dengan pasukan White Walkers melintasi tembok pembatas menuju Winterfell. The Night King kini mempunyai naga mati—seolah dia kurang berpikiran militer. Sebagai pertahanan, pasukan Cersei Lannister (yang kini menduduki Iron Throne), Daenerys Targaryen dan Jon Snow membuat pakta yang takkan bertahan lama—Cersei tidak dapat dipercaya, dan Jon sendiri, yang ternyata berdarah campuran Targaryen, meniduri Daenerys, yang menyinggung pada dinasti baru dan melanjutkan obsesi GoT dengan inses.

Berikut obrolan saya bersama beberapa pakar sejarah yang mencoba membuat perkiraan taktis GoT berdasarkan peristiwa peperangan manusia—dan sejarah diplomasi bangsa-bangsa—di masa lalu.

Michael Livingston

Sejarawan zaman abad pertengahan, dan dosen di Citadel College, Charleston, South Carolina, AS.

VICE: Seperti apa nasib pemimpin-pemimpin yang mampu menguasai dan mempertahankan wilayah sebesar Seven Kingdoms dalam sejarah umat manusia?
Livingston: Sejarah menceritakan banyak informasi yang bertentangan. Pada satu sisi, seorang pemimpin dapat menguasai negara hanya berkat karisma. Pada sisi lain, intimidasi fisik juga bisa sangat berguna. Pemimpin-pemimpin paling sukses memiliki kedua ciri-ciri tersebut, misalnya Genghis Khan dan Alexander the Great. Dua-duanya sangat karismatik juga mengerikan. Saya takkan pernah mau mendekati orang seperti itu. Hidup manusia tidak pernah menjadi prioritas Alexander the Great (tertawa). Karena itu dia bisa sukses, tapi itu bukan tipe orang yang cocok menjadi pemimpin untuk waktu lama.

Di masa modern, manusia punya birokrasi. Sebagai pemimpin, kamu wajib menjalankan tugasmu, asal semuanya tidak kacau. Tapi dalam Game of Thrones, itu tidak berlaku. Ada dinasti yang bersaing. Harus ada yang memimpin karena banyak orang terus mati, ada pasukan di lapangan—pokoknya harus ada yang menang. Itu semua membutuhkan karisma dan kekuasaan.

Berdasarkan kajian sejarah, menurutmu siapa yang paling berpeluang menduduki Iron Throne?
Saya melihatnya begini. George R.R. Martin mulai dengan meniru proses War of the Roses, sebuah rangkaian perang saudara di Inggris sepanjang kurun 1455 sampai 1487. Ada Henry VI, raja Inggris kala itu, yang juga disebut 'Si Raja Gila'. Ia lalu dijatuhkan Edward IV dari York, yang kemudian dijatuhkan takhtanya oleh Edward V. Lalu muncul Richard III, yang terkenal cacat secara tubuh dan jiwa. Ia dikalahkan saat perang saudaranya berakhir, dan Henry VII menyeberangi lautan dengan pasukannya. Dia memenangkan Pertempuran Bosworth . Dia menikahi putrinya Edward IV, Elizabeth Woodville. Dia lalu menduduki takhta dan mendirikan dinasti yang masih bertahan sampai sekarang.

Itu kira-kira dasarnya. Semuanya mulai dengan Henry IV, seperti Aerys, Targaryen kedua dalam GoT. Siapa yang menjatuhkannya? Robert Baratheon. Dia layaknya Edward IV, dan Cersei adalah istrinya. Pengalaman dan sifat Cersei cocok sekali dengan istrinya Edward IV, Elizabeth Woodville dan perempuan simpanannya, Jane Shore. Itu hubungan yang cukup keren. Edward V bisa dibandingkan dengan Tommen Baratheon, laki-laki muda yang cukup baik tapi bernasib sial (tertawa).

Jadi, menurutmu sendiri siapa sosok tersebut?
Dari sudut pandang seorang sejarawan, saya harus menentukan siapa yang mewakili Richard III. Siapa pula yang akan mengalahkan Richard, lalu mendirikan dinasti? Ada tiga calon kuat. Stannis Baratheon, yang masuk akal dalam hal silsilah karena ia seorang Baratheon. Dia bisa dibilang agak cacat karena punya banyak masalah (tertawa). Pasti banyak yang menganggap Tyrion Lannister setara dengan Richard karena penampilannya, dan Night King karena tidak manusiawi. Itulah ketiga calon penguasa potensialnya.

Dengan semua penjelasan tadi, tebakanmu siapa yang bakal bertahta?
Kita juga harus mempertimbangkan Henry VII itu siapa di GoT, si pendiri dinasti. Secara silsilah, pasti jawabannya para Lancaster atau para Targaryen di dunia GoT. Itu artinya antara Daenerys atau Jon Snow. Mereka berdua mempunyai hubungan darah, jadi klaimnya sah; itulah yang dibutuhkan pemimpin pada masa itu. Itu sama seperti Henry VII, yang diasingkan. Jon dan Daenerys juga diasingkan ke tempat jauh, dan setelah itu kembali lagi. Nah, sekarang konteksnya Richard III lebih jelas. Tyrion tidak bisa menantang Jon atau Daenerys. Itu tidak masuk akal. Stannis sudah meninggal. Jadi sebenarnya tinggal Night King, yang sosoknya cukup mirip dengan Richard III. Bisa jadi keduanya dibutuhkan untuk mengalahkan Winter King, dan mereka mempunyai kekuasaan militer yang cukup. Ini membuat mereka, atau setidaknya salah satu dari mereka, Henry VII di dunia GoT. Agar mereka stabil, mereka harus menikah.

Cuplikan adegan GoT dari HBO.

Sebenarnya saya ingin melihat Tyrion menjadi pemimpin, tapi Tyrion terlalu semangat mendukung Daenerys sebagai pemimpin. Ia berusaha mengendalikan kekuasaan dan karismanya. Daenerys memang orang yang paling layak dan berhak menjadi pemimpin, tapi ini kan ini cerita karangan George R.R. Martin. Menurut saya, Daenerys akan kalah ketika ia berusaha mengalahkan Richard III-nya GoT, dan hanya Jon yang tersisa jika ia tidak mati juga sampai episode terakhir.

Brian Pavlac

sejarawan dan guru besar di King's College, Wilkes-Barre. Penulis buku Game of Thrones versus History.

VICE: Orang tipe apa yang kemungkinan besar sanggup menguasai Seven Kingdoms?
Brian Pavlac: Apabila dilihat dari sisi sejarah, pemimpin yang mematuhi perjanjian tradisi dan pribadi akan berkuasa. Kesempatannya lebih bagus lagi kalau mereka tahu cara memuaskan keinginan teman dan musuh. Itu berarti Jon Snow jadi yang paling cocok mengambil peran itu. Tapi masalahnya, yang dibutuhkan bukan hanya itu saja.

Saya harus bilang Jon Snow adalah komandan yang buruk. Kita bisa lihat sendiri di Battle of the Bastards kalau dia selalu memihak satu sisi. Dia tidak bisa membuat pasukannya tetap tertib, dan cuma punya sifat kepahlawanan pribadi. Daenerys sendiri tidak punya pengalaman militer. Dia bisa menang berkat naga-naganya itu. Dia sekarang tak lagi seberuntung dulu karena satu naganya sudah mati dan jadi pasukan White Walkers. Cersei tampaknya siap mengkhianati siapa saja setiap kali dia melihat kesempatan. Kemampuannya mendapatkan sekutu yang tidak menganggapnya sebagai ancaman akan terus menguntungkannya. Sementara Tyrion, dia selalu dikalahkan orang lain, terutama oleh Jaime Lannister. Jaime tampaknya memiliki pola berpikir strategis dan militer terbaik dari semua tokoh ini, sebagian besar dibantu oleh ketidakmampuannya menjadi pahlawan. Jaime bukan lagi pemain pedang jago, tapi Cersei terlalu sulit diprediksi. Dari yang kita ketahui sejauh ini, kayaknya sih Jon Snow yang bakalan berkuasa.

Ken Mondschein

Dosen sejarah American Intentional College dan Westfield State University. Dia juga berprofesi sebagai sejarawan Abad Pertengahan dan Renaissance. Penulis buku 'Game of Thrones and the Medieval Art of War'

VICE: Menurut sejarah, orang yang seperti apa yang cocok menguasai Seven Kingdoms?
Ken Mondschein: Seven Kingdoms sebanding dengan periode abad pertengahan, karena kota besar yang berpusat ini agak statis. Kenapa saya bilang statis? Itu karena Aego the Conqueror datang bersama naga-naganya, dan mereka digunakan seperti senjata nuklir atau meriam di abad ke-15. Pada dasarnya, perang laut ada hubungannya dengan kastil, dan kastil yang menguasai wilayah. Segala penaklukan dan sejenisnya berjalan cukup lambat karena kamu bisa bertahan di kastil. Namun, senjata meriam bisa dengan mudah menghancurkan benteng sehingga kamu dipaksa untuk bertempur. Pemenangnya adalah mereka yang jumlah pasukannya lebih banyak. Bagaimana kamu bisa mendapat banyak pasukan? Ya, tentu saja dengan uang banyak. Inilah yang kita sebut sebagai revolusi militer. Ini mengarah pada pembentukan negara. Jika kita membicarakan siapa yang bakalan menguasai Westeros, pemenangnya harus mampu membangun dan memerintah negara.

Karakter mana yang menurutmu bisa melakukannya?
Genghis Khan gagal berkuasa karena mereka tidak bisa memusatkan diri dengan cara seperti itu. Mereka hanyalah koalisi, dan pada akhirnya hancur berantakan. Dari sudut pandangku, kamu tidak bisa memerintah kerajaan sebesar Seven Kingdoms hanya dengan berperang. Kamu bisa melakukannya dengan bercinta. Kamu harus menikahi orang-orang yang kamu taklukkan. Hernan Cortes contohnya. Dia datang dan menaklukkan kekaisaran Aztec, tapi bagaimana selanjutnya? Mereka menikah. Itu adalah bentuk penaklukan dan penyebaran kekuasaan pra-modern; kekuatan dua ras yang bisa berbicara dua bahasa. Siapa yang paling mewakili ini? Daenerys dan Jon. Jon bagaikan William Wallace kita, dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa menghamili Daenerys karena darah Targaryennya. Night King adalah pesaing terbaik Daenerys. Tapi, saya bilang Daenerys bakalan duduk di Iron Throne karena hubungannya itu. Dia juga punya naga yang setara dengan meriam pada abad ke-12.


Tonton dokumenter VICE tentang komunitas yang masih menyembah Zeus dan dewa-dewi Yunani di masa modern ini:


Beberapa penonton mungkin bilang kalau Cersei bakal menang. Dia bukan tipe orang yang mau tidur sama siapa saja, baik itu sekutu atau musuh. Dia cuma mau Jaime. Dia melakukan inses makanya dia tidak bisa menang. Bahkan jika dia duduk di Iron Throne, itu tidak akan bertahan lama. Kedengarannya jahat, tapi Cersei sepertinya steril meskipun sedang hamil. Tak ada yang tahu bagaimana anaknya nanti kalau dia tidak keguguran.

Kelly DeVries

Sejarawan Amerika yang mendalami perang pada Abad Pertengahan. Dia berpartisipasi dalam dokumenter HBO, “Historical Connections”.

VICE: Saya paham kamu tidak mungkin membahas detail, karena sudah membaca akhir skenarionya. Tapi, bisakah kamu ceritakan siapa yang bakalan menang kalau dilihat dari sudut pandang sejarah?
Kelly DeVries: Ada kerajaan yang mampu berkuasa selama lebih dari 400 tahun. Saya membayangkan Bangsa Franks, contohnya. Sekalipun birokrasinya busuk, mereka bisa terus berkuasa karena tidak ada yang sehebat mereka. Itulah yang paling penting dalam menaklukkan dan menjaga perdamaian di zaman manapun. Siapa yang kuat untuk bertahan hidup tidak bisa menentukan siapa yang akan menduduki Iron Throne. Di Game of Thrones, Daenerys jauh dari sebagian besar bahaya dan punya waktu mengalahkan lawan yang lemah. Sedangkan Jon Snow, dia bisa selamat karena keberuntungan dan kebangkitan kembali.

Yang ingin saya tanyakan, dalam gaya Mark Twain, adalah apakah saya mau menjadi anggota dari kelompok-kelompok ini sebagai pemimpin? Seorang perempuan berusia 62 pernah menanyakan itu kepada saya. Dan satu-satunya tokoh yang menurut saya hebat adalah Tyrion, tapi dia tidak punya kesempatan. Dia diutus sebagai penasihat kerajaan, dan dia akan terus menjadi penasihat bagi siapa pun yang melawan kakaknya karena Cersei selalu menyalahkan Tyrion atas kematian ibu mereka setelah melahirkannya.

Lalu ada Jon. Dia contoh bagus dari para pemimpin yang bisa bangkit dari awal sepanjang sejarah. Jon dan Danny setidaknya akan menghadapi hal terburuk yang sudah disiapkan oleh Cersei. Saya tidak bisa bilang siapa yang akan menang, tapi Jon dan Danny adalah pilihan paling ideal.


Follow Noel Ransome di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada