Iklan
Bujukan Iklan

Alasan Kita Jangan Mudah Percaya Klaim Ramuan Penumbuh Rambut (dan Bulu)

Dulu saya pengin gondrong, mencoba berbagai obat dan ramuan herbal. Hasilnya nihil. Pakar kesehatan menjelaskan penyebab rambut saya tak tumbuh jua setelah semua usaha tersebut.

oleh Adi Renaldi
27 Oktober 2017, 8:58am

Ilustrasi oleh Diedra Cavina.

Ada banyak alasan kenapa iklan produk sulit menggugah minat saya. Salah satunya tentu saja karena iklan sejak dulu sekadar strategi pemasaran. Khasiat produknya kadang jauh dari iming-iming iklan. Khususnya obat ataupun ramuan penumbuh rambut. Eits, ini saya bukannya sentimen lho. Kesimpulan saya didasarkan pengalaman menjajal sendiri berbagai jenis produk yang berjanji bisa membuat rambut (dan bulu) jadi lebat.

Beberapa tahun lalu saya memutuskan memanjangkan rambut. Sejak kecil sampai dewasa, panjang rambut saya paling mentok cuma 5 cm, sebelum dibabat habis oleh tukang cukur dua bulan sekali. Saya pikir tak apalah punya rambut panjang barang sekali seumur hidup, toh kantor tempat kerja saya nyantai banget, alias enggak peduli sama penampilan luar. Alasan lain memanjangkan rambut mungkin karena bosan dengan tren rambut cepak klimis berpomade.

Memelihara sesuatu memang membutuhkan kesabaran, tak terkecuali rambut. Dalam usaha mejadi gondrong itulah, saya tergoda kepengin cepat punya rambut panjang tergerai.

Ketidaksabaran tersebut pada akhirnya memicu serangkaian eksperimen yang amat tidak profesional dan sampai sekarang saya sesali. Saya terbujuk mencari produk perawatan yang sanggup menumbuhkan rambut dengan cepat. Mulai dari shampoo kuda, tonik, hingga produk-produk yang katanya punya serangkaian kandungan bahan alami supaya bikin kita jadi gondrong dan berbulu di banyak anggota tubuh.

Termakan tips alakadarnya dari internet serta bermodalkan rekomendasi teman, saya nekat membeli shampoo kuda impor seharga ratusan ribu di gerai apotek ternama. Harapannya, saya bisa segera melihat kepala ini bermahkotakan rambut panjang saat bercermin.

Sebulan pemakaian tak ada perubahan. Jika pun rambut tumbuh, saya pikir itu terjadi secara alami, bukan karena shampoo tadi. Setelah botol pertama habis (dan karena mahalnya harga shampoo juga) saya tak melanjutkan pemakaian. Saya terlanjur kecewa.

Singkat cerita setelah menjajal sekian bahan kimia ke rambut dan tak ada hasil, saya tergerak mencoba ramuan alami. Minyak dari jenis rempah-rempah tertentu seperti kemiri konon bisa menyuburkan dan menumbuhkan rambut. Kemiri yang memiliki banyak manfaat buat bumbu masakan hingga untuk bahan bakar, punya kandungan asam lemak oleic, linoleic dan linolenic yang dibutuhkan tubuh untuk perkembangan dan pertumbuhan.

Minyak kemiri sebenarnya banyak digunakan sebagai bahan dasar produk kecantikan kulit dan rambut. Namun apakah minyak kemiri efektif untuk memicu percepatan pertumbuhan rambut tentu perlu uji saintifik yang mumpuni. Tak ingin kegagalan sampo kuda terulang, saya menghubungi dokter yang mengelola klinik perawatan rambut di Jakarta.

"Minyak kemiri memang dipercaya turun temurun," ujar dokter spesialis kulit dan kelamin Amaranila Lalita Drijono. "Namun sampai saat ini memang belum ada bukti ilmiah minyak kemiri mampu menumbuhkan rambut secara cepat."

Menurut Amaranila, minyak kemiri memiliki nutrisi dan anti-oksidan yang bisa membersihkan rambut. Namun karena Indonesia memiliki iklim lembap dan kering, minyak kemiri tidak boleh dipakai berlama-lama dan harus diikuti dengan ritual mencuci kepala alias berkeramas.

"Fungsi minyak itu untuk membersihkan kulit kepala," kata Amaranila. "Karena sel kulit mata yang bertumpuk itu bisa menghambat pertumbuhan. Tapi minyak tersebut juga harus langsung dibersihkan karena jika kelamaan justru menutup pori-pori kepala."

Nila mengingatkan konsumen agar tak gampang percaya klaim khasiat berbagai jenis minyak yang beredar di pasaran saat ini. Terutama yang menjanjikan tumbuhnya cambang, jenggot, atau kumis secara instan dalam hitungan bulan. Menurut Nila, setiap negara memiliki iklim yang berbeda yang menyebabkan perawatan, serta kemampuan tumbuhnya rambut maupun bulu, di kulit setiap orang menjadi berbeda-beda.

"Itu yang sering salah kaprah diadopsi anak muda kita," ucap Nila. "Mereka pengin menumbuhkan berewok, tapi yang perlu diingat, iklim negara kita berbeda. Salah-salah malah orang Indonesia kena masalah kulit karena minyak-minyak penumbuh tersebut."

Kata-kata Nila langsung menjelaskan pertanyaan dan pengalaman saya. Hingga saat ini belum ada produk yang secara ilmiah terbukti menumbuhkan rambut secara cepat. Pertumbuhan rambut selain dipengaruhi iklim, juga tergantung dari faktor genetik dan gaya hidup.

Secara normal, rambut manusia normal tumbuh sepanjang 1,25 cm per bulan. Dalam setahun rambut kepala manusia bisa tumbuh hingga 15 cm.

Kesabaran menanti rambut gondrong ternyata jauh lebih efektif dibanding ramuan-ramuan tadi. Meski saya tidak memakai serum atau vitamin apapun di kepala (cuma tonik dan shampoo agar rambut tidak rontok, itu pun juga gagal karena mungkin saya kebanyakan stres), dalam dua tahun rambut saya tumbuh sekira 30-an cm. Dua tahun...

Satu yang saya pelajari dari pengalaman eksperimen obat penumbuh rambut: enggak ada produk yang sanggup memastikan pertumbuhan instan. Kunci dari pertumbuhan rambut hanyalah kesabaran. Sori. Tapi memang enggak ada cara lain.