Fotografi

Seorang Fotografer Merekam Identitas Penduduk Asia Selatan yang Sering Terlupakan

Fotografer Amerika-Pakistan menggambarkan betapa mengagumkannya budaya Asia Selatan.

oleh Meera Navlakha; foto oleh Simrah Farrukh
07 Maret 2020, 5:19am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia

Simrah Farrukh memastikan karya fotografinya selalu memasukkan budaya Asia Selatan. Kita bisa melihat sendiri dari subjek dan pakaian pilihan Simrah dalam setiap proyeknya. Walaupun berkuliah di Los Angeles, perhatiannya tak pernah lepas dari wilayah ini.

Selain menekankan pada budayanya, Simrah juga menyoroti masalah-masalah yang dihadapi perempuan Asia Selatan. Contohnya seperti seri foto yang mengangkat kekerasan dalam rumah tangga. Proyek ini mengisahkan pengantin yang melarikan diri dari calon suami abusif. Menurut Simrah, dia mendedikasikannya kepada semua perempuan “yang terpaksa menderita secara diam-diam” dalam budaya yang melanggengkan KDRT.

Proyek Simrah lainnya menyoroti pasangan queer dari California, hubungan ibu dan kedua putrinya, dan para individu yang kurang diperhatikan media Asia Selatan dan Barat. Diskriminasi yang sering dialami orang kulit berwarna tak hanya menginspirasi karya Simrah, tetapi juga memberdayakan mereka yang tak terwakili.

VICE berbincang dengan Simrah soal proyeknya ini, bagaimana dia menghargai dan memanfaatkan identitasnya sebagai orang Asia Selatan untuk menciptakan karya foto yang sangat luar biasa.

VICE: Apa yang membuatmu tertarik berkecimpung di dunia fotografi?
Sewaktu SMA dulu, saya sering hunting foto dengan kamera ayah. Enggak tahu hasilnya kayak bagaimana karena enggak pernah dicetak. Tapi sejak itu, saya jadi hobi memotret. Awalnya cuma iseng memfoto teman-teman di taman, tapi banyak yang menyuruh saya menyeriusinya. Setelah lulus SMA, saya mulai mendalami pemberdayaan perempuan dan budaya Asia Selatan. Dari situ, kedua hal ini menjadi elemen terpenting dalam karyaku.

south asian women

Isu apa saja yang menginspirasi karyamu?

Pemberdayaan perempuan. Saya dulu fokus pada colorism dan KDRT, yang semuanya berkaitan dengan perempuan.

LGBT south asian

Kamu pernah bikin seri foto hubungan ibu dan anak perempuan. Seperti apa rasanya tumbuh besar di keluarga Asia Selatan, dan bagaimana pengalaman ini menginspirasi karyamu?

Saya besar di lingkungan orang kulit putih kaya, jadi identitasku sebagai orang kulit berwarna sangat sakral dan istimewa. Meski saya lahir dan besar di Amerika, saya selalu menjunjung tinggi budaya Pakistan. Kedua orang tua juga selalu ngomong bahasa Urdu denganku. Koneksi seperti itulah yang membantuku mengangkat identitas sebagai orang Pakistan. Saya sadar saya berbeda dari mereka. Saya besar dalam keluarga seniman, tapi kebanyakan hanya menekuninya sebagai hobi. Saya mengisahkan sejarah keluarga dalam foto-fotoku. Saya terinspirasi oleh keluarga besarku, dan melihat mereka sebagai pahlawan. Saya mencatat baik-baik setiap kali diceritakan tentang masa muda orang tua dan kakek-nenek. Orang tua awalnya ragu saat tahu saya mau menjadi seniman, tapi sekarang mereka sangat mendukung.

mother daughters south asia

Dari semua karyamu, mana yang paling kamu banggakan?

Seri foto ‘Daughters’ karena saya merasa terhubung dengannya. Dari proyek ini, saya menyadari banyak sekali orang yang memiliki hubungan serupa dengan sang ibu. Foto-fotonya membuat mereka bernostalgia. Emosi yang terpancar di antara subjek sangat murni, dan terpampang jelas dalam foto. Walaupun sebenarnya sudah settingan, tapi hubungan mereka enggak dibuat-buat.

women south asia

Pernahkah kamu mengalami diskriminasi saat beranjak dewasa?

Saya merasa banyak orang di sekitarku yang rasis, meski enggak terang-terangan. Saya sadar akan warna kulitku, dan terkadang merasa terlalu gelap di antara teman sekolah yang berkulit putih. Tapi saat saya menyadari perbedaan ini, saya mulai merangkul warisan budayaku sebagai sesuatu yang sakral. Saya menyadarinya kira-kira saat Trump terpilih menjadi presiden AS pada 2016. Saya marah melihat komunitas marginal semakin terpinggirkan. Buktinya bisa kita saksikan sendiri selama musim pemilu. Fotografiku menanggapi komentar-komentar mereka.

women south asia black and white

Apa yang menginspirasi proyek colorism kamu?

Ada temanku yang minder dengan kulit gelapnya. Gebetannya bilang enggak suka dengan dia karena kulitnya terlalu gelap. Saya kesal mendengarnya. Proyek ini enggak cuma mengangkat pengalaman temanku, tetapi juga memperkenalkan perempuan berkulit gelap ke publik. Karena selama ini, media selalu memprioritaskan perempuan berkulit terang. Saya berusaha membalikkannya.

LGBT south asia women

Bagaimana dengan seri foto LGBTQ?

Saya ingin menormalkan hubungan LGBTQ pada orang Asia Selatan, yang masih sulit menerimanya. Setelah menonton Ek Ladki Ko Dekha Toh Aisa Laga ( How I Felt When I Saw that Girl), saya ingin mewakili lebih banyak komunitas dari diaspora India. Saya menganggapnya proyek kolaborasi antara diriku dan para perempuan dalam foto. Saya ingin menceritakan momen pertama Sufi dan Anjali bertemu. Kami memasukkan detail kecil dari awal hubungan mereka — seperti bunga ketika mereka kencan di taman. Detail-detail ini membentuk kisah yang mereka bagikan sebagai pasangan kekasih.

Apakah budaya dan identitas Asia Selatan bagian paling integral dalam karyamu?

Ya. Meski foto-fotonya enggak spesifik menampilkan perempuan dalam balutan pakaian tradisional, mereka masih mewakili perempuan berkulit gelap. Terlepas apa yang dikenakan, warna kulit mereka adalah unsur utama.

mother daughter south asia

Isu apa yang ingin kamu angkat dalam proyek selanjutnya?

Saya ingin menyentuh sisi agama. Saya mau memasukkan Islam ke dalam karyaku, sebagaimana saya menceritakan pengalaman menjadi orang Asia Selatan.

Follow Meera di Twitter dan Instagram.