Iklan
Opini

Pindah Agama Urusan Privat, Media Tak Berhak Menghakimi Pesohor Lewat Berita Tendensius

Pemberitaan pesohor pindah agama di Tanah Air diwarnai logika penghakiman kelompok mayoritas. Padahal KPI sebenarnya melarang framing macam itu. Udahlah, yuk ga usah kepo sama urusan privat!

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
15 Juli 2019, 11:05am

Ilustrasi via Shutterstock

Orang Indonesia kayaknya lumayan familiar dengan kegiatan ini: mengetik nama lengkap seorang pesohor di kolom pencarian Google, lalu ditambahi kata kunci "agamanya apa?"

Saking seringnya “agama” seorang tokoh publik dicari di laman pencarian, fasilitas Google autocomplete otomatis menyediakan opsi pencarian tersebut. Agama senantiasa jadi faktor penting untuk dibahas ataupun dikepoin sama orang-orang di Indonesia. Apakah agama berpengaruh terhadap kesukaan orang-orang Indonesia pada sosok pesohor? Tampaknya memang begitu. Buktinya, berita tentang selebriti pindah agama adalah hal yang paling menjadi sorotan: kalau tidak panen puja-puji hasilnya caci maki.

Berita soal selebriti yang pindah agama sedang ramai di media sebulan belakangan. Berbagai infotainment gigih Juni lalu gigih mengabarkan keputusan pesulap sekaligus pembawa acara Deddy Corbuzier yang baru saja pindah agama jadi muslim. Selang beberapa hari, giliran selebriti Salmafina Sunan disorot karena ganti memeluk agama Kristen. Keputusan pribadi dua pesohor itu sama-sama memicu sorotan. Namun cara media menampilkan sentimen atas sikap Deddy dan Salmafina relatif berbeda.

Deddy digambarkan sebagai orang yang pindah agama karena dirinya mendapatkan “hidayah” dan bukan karena pengaruh orang lain. Deddy digambarkan sebagai sosok orang yang merdeka dan berhak menentukan pilihannya sendiri. Mari kita periksa tajuk berita soal kepindahan agama Deddy Corbuzier. Beberapa media online memberitakannya dengan judul seperti ini: “Ungkap Alasan Masuk Islam, Deddy Corbuzier: Saya Pindah Karena Hidayah”, “Keputusan Mualaf Deddy Corbuzier: Ini Jalan Tuhan, Bukan karena Perempuan”, atau “Video Detik-detik Deddy Corbuzier Masuk Islam Ucapkan Kalimat Syahadat”.

Sebaliknya, sosok Salmafina yang pindah agama cenderung digambarkan negatif lewat headline tendensius macam: “Lepas Hijab dan Pindah Agama, Ini Gaya Salmafina Sunan yang Curi Perhatian”, “Terbongkar Sudah, Salmafina Pakai Kalung Salib Sambil Mengaku Pindah Agama, Ini Video Pengakuannya”, dan "4 Kesalahan Fatal Salmafina Hingga Dicerai Taqy Malik Terungkap, Sunan Kalijaga Sempat Ungkap Ini."

Keputusan pribadi Salmafina digambarkan dengan pilihan kata macam “terbongkar sudah” dan “pengakuan”, seakan-akan tindakannya keliru sejak awal. Tidak sampai situ saja, media terang-terangan menelanjangi masa lalu Salmafina dalam headline “4 Kesalahan Fatal Salmafina Hingga Dicerai Taqy Malik Terungkap, Sunan Kalijaga Sempat Ungkap Ini” yang bernuansa misoginistik. Perubahan penampilan Salma pun menjadi sorotan, termasuk saat dia melepas hijab.

Sebenarnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) sudah mengatur agar media tidak menyiarkan berita soal alasan kepindahan agama seseorang.

Wakil Ketua KPI Pusat, Sujarwanto Rahmat Arifin menyatakan berita yang terlalu detail mengungkap perpindahan agama seseorang berpotensi mendiskreditkan agama sebelumnya. Alhasil, pemberitaan macam itu mengganggu kerukunan agama. Sebab ketika media berlebihan menyorot keputusan seseorang pindah agama, muncul risiko sikap membandingkan antara agama satu dan lainnya dari pemirsa. "Larangan ini berlaku untuk semua perpindahan agama," kata Rahmat.

Roy Thaniago, Direktur lembaga pengawasan media independen, Remotivi, menilai pemberitaan media saat menulis perpindahan agama Salmafina menunjukkan biasnya sikap jurnalis dan media-media di Tanah Air. Roy mendapati keputusan Salmafina konsisten digambarkan "salah" oleh beberapa media.

"Dari sana kita bisa paham bahwa paradigma ini adalah paradigma mayoritas," kata Roy. "Mungkin menarik membandingkan [pemberitaan] perpindahan agama mayoritas ke minoritas, tapi yang menarik lagi bandingkan [berita] perpindahan agama seorang sosok perempuan dan laki-laki."

Beban sorotan terhadap Salmafina jelas sangat berat dibanding Deddy. Selain sebagai orang yang memutuskan untuk pindah dari agama mayoritas yang narasinya dominan di negara mayoritas muslim ini, Salmafina juga seorang perempuan yang dianggap punya beban ganda menjaga 'auratnya'.

Menurut Roy, perlakuan media yang negatif pada beberapa pesohor amat terkait dengan kegagapan banyak ruang redaksi menghindari narasi dominan saat menyorot isu agama. Lihat saja ada banyak media menggambarkan agama lain, termasuk agama lokal di Tanah Air, sebagai hal yang eksotis, mistis, gaib, terkadang konyol dan layak ditertawakan?

Pemberitaan media akhirnya tak mendukung semangat kebebasan beragama individu yang dijamin Undang-Undang Dasar. Mayoritas redaksi malah lebih tertarik sering menghakimi perkara privat yang tak ada hubungannya dengan kepentingan publik. Kecenderungan ini pun tambah disulut oleh semangat berlebihan masyarakat kepo sama agama orang.

"Sangat jelas media sedang melayani hasrat kesalihan [masyarakat]," kata Roy. "Sejauh apa kemudian melayani hasrat kesalihan itu tidak menabrak prinsip pemberitaan dan jurnalisme. Seberapa mampu pemberitaan itu menjadi alat edukasi, ketimbang alat untuk menghakimi?"