Iklan
Film

Hollywood Terus Nge-Remake Film Klasik, Padahal Penelitian Bilang Penonton Tak Minat

Lebih parahnya lagi dari sisi kualitas versi remake ini juga gagal mengungguli versi aslinya. Lah, ngapain terus dibikin?

oleh Bettina Makalintal; Diterjemahkan oleh Jade Poa
14 Juli 2019, 3:00am

Screenshot via YouTube

Versi live-action film klasik Aladdin tayang sebulan lalu. Dua bulan sebelumnya, versi remake Dumbo tayang di bioskop. Berikutnya penghinaan terbaru terhadap masa kecil kita segera tayang: versi CGI Lion King. Kita semua pasti akrab dengan judul setiap film yang segera tayang, dari Child’s Play hingga Men in Black, dan pembuatan ulang The Grudge, Charlie's Angels, Little Women, dan Dune yang dijadwalkan akan tayang tahun ini.

Banyak studio raksasa Hollywood serius berinvestasi membuat ulang film lama. Harapannya penonton suka bernostalgia dan bakal mau nonton versi daur ulang tersebut.

Tragisnya, versi baru film klasik tersebut cenderung tidak sepopuler versi aslinya. Demikian kesimpulan dari situs web Casumo. Penelitian berjudul Remake My Day ini, yang dilakukan bersama perusahaan SEO Verve Search, menstandardisasikan nilai-nilai IMDB dan Metacritic demi membandingkan ulasan dan penghasilan remake baru.

Sebanyak 91 persen film remake memperoleh skor review lebih rendah dibandingkan versi aslinya, seperti dilaporkan Washington Post. Hanya 21 persen dari remake film klasik yang berhasil meraih untung. Film orisinil Dumbo memperoleh skor 96 di Metacritic, sementara versi barunya diberi nilai 51. (Perlu dicatat bahwa memang beberapa film remake—misalnya A Star is Born—justru mengungguli versi-versi sebelumnya).

Kalau di mata kritikus jelek, ngapain studio-studio film terus membuat ulang film-film klasik? Ternyata, film-film remake tetap membawa untung, bahkan kalau tidak mengungguli versi aslinya.

Kendati sudah bejibun keluhan banyak pihak tentang jin mengerikan dan remix-remix soundtrack norak di dalanya, versi baru Aladdin sukses di bioskop. Film tersebut berhasil meraup US$900 juta (setara Rp 12,6 triliun) di seluruh dunia, membuatnya jadi film terlaris tahun ini di luar dunia Marvel.

Fenomena ini juga membuktikan keakraban membawa kebahagiaan. Seperti yang dilaporkan Washington Post, ini kemungkinan menimbulkan bias konfirmasi: Nostalgia membuat kita menilai film orisinal sebagai versi lebih unggul, tetapi versi barunya tetap ditonton secara massal.

Nostalgia memang menarik perhatian penonton. Lihat saja betapa suksesnya Stranger Things, yang membuktikan konten sentimental seru ditonton dan merupakan cara mudah memasarkan produk (selamat datang kembali, New Coke). Rasa keakraban juga menjelaskan mengapa The Office dan Friends sering banget ditonton ulang, sehingga masing-masing menyumbang 7 dan 4 persen seluruh streaming Netflix pada 2018.

Serial baru sering mengangkat nostalgia karena mengingatkan penonton akan masa-masa lebih bahagia, kata Norman Lear selaku penulis naskah serial TV kepada NPR setelah pengumuman remake film One Day At A Time. "Ingatan penonton tertawa bersama orang-tua ketika keluarga masih sangatlah lekat dan bertahan," imbuh Lear.

Walaupun bukan karena ingatan akan keluarga, pembuatan ulang tetap membuat kita mengingatkan hari-hari ketika semuanya lebih simpel dan mudah, saat kita tidak memiliki kekhawatiran seperti sekarang. Euphoria, serial HBO tentang drama remaja yang penuh skandal memang menghebohkan, tetapi tetap saja tidak memperbaiki pandangan terhadap kondisi remaja.

Melihat keadaan streaming pada 2019—saat setiap platform tidak hanya menyediakan konten berlisensi, tetapi juga konten orisinil—sekarang semakin sulit menentukan apa yang ingin ditonton dan film apa saja yang bagus. Oleh karena itu, remake-remake ini menjadi pilihan “aman”. Bahkan kalau para penonton tidak menyukainya, remakenya pasti ditonton sebagai bahan perbandingan—atau buat ditertawakan.

Buat kalian yang sudah malas nonton remake, jangan berharap fenomena ini akan berakhir. Untungnya, film superhero Marvel baru akan terus tayang untuk selama-lamanya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.