Iklan
Tanggap Bencana

Susahnya Indonesia Mitigasi Bencana, Detektor Gempa Sesar Palu Saja Bisa Dicuri Remaja

Pelaku tak tahu fungsi ataupun harga alat milik BMKG Palu itu. Sensor pemantau sesar koro tadi lantas dijual ke penadah setengah juta, buat main ke warnet. Kalau kesadaran warga rendah, suram juga...

oleh Ikhwan Hastanto
30 Juli 2019, 4:48am

Kolase oleh staf VICE. Ilustrasi seismometer dan pencurian via Shutterstock. 

Remaja berinisial AP, 14 tahun, ditangkap polisi setelah ketahuan mencuri alat pendeteksi gempa milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palu, Sulawesi Tengah. Pencurian ini dilakukan bertahap sejak Juni 2019 oleh AP dan dua orang temannya yang sampai sekarang masih buron, A dan S.

Awalnya mereka sekadar ngembat 1 unit sensor broadband Nanometics. Tapi gerombolan pencuri ingusan ini keterusan, lanjut memboyong tiga baterai merk Haze, satu panel surya merk BP Solar BP 38OJ, dan satu unit solar regulator dengan total harga Rp700 juta.

Kepala Seksi Observasi BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Palu Bambang Haryono mengatakan, alat dicuri dari stasiun mini Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Dugaan pencurian bermula saat awal Mei 2019, petugas kantor BMKG tidak menerima rekaman dari alat pendeteksi di Stasiun Pombewe sehingga langsung dilakukan pengecekan ke stasiun, 500 meter dari pemukiman padat penduduk Desa Pombewe. Sesampainya di stasiun, ternyata sensor sudah tidak ada di tempatnya.

"Setelah kami cek kembali pada Juli sudah hilang lagi alat lainnya. Ini berarti dicuri," kata Bambang, dilansir Media Indonesia. Setelah kehilangan sensor awal Mei, alat yang raib berturut-turut adalah panel surya, aki, dan terakhir solar regulator dicuri 16 Juli 2019.

Pelaku ditangkap setelah polisi berhasil melacak AP yang menjual barang curiannya di grup Facebook Info Kota Palu (IKP). Berpura-pura menjadi konsumen yang ingin membeli, polisi meringkus AP pada 23 Juli lalu. Saat itu barulah diketahui bahwa pelaku adalah remaja-remaja berumur 14 tahun. Dari penangkapan tersebut juga diketahui satu panel surya sudah jatuh ke tangan penadah bernama Opan, 43 tahun, dengan dihargai Rp480 ribu saja. Opan kini ikut ditahan namun masih dengan status saksi.

"Dua orang lainnya masih [masuk] Daftar Pencarian Orang," ujar Kapolres Sigi AKBP Wawan Sumantri, dikutip Detik.

Wawan menjelaskan, uang hasil pencurian digunakan tersangka berfoya-foya main ke warnet dan membeli sabu. Sungguh perpaduan foya-foya yang unik. Karena kasus ini, pelaku dijerat ancaman 7 tahun penjara, sedangkan penadah berisiko dihukum 4 tahun penjara.

Saat diinterogasi, AP mengaku tidak mengetahui alat yang dicurinya adalah alat pendeteksi gempa. Sedangkan Opan mengaku tidak mengetahui barang tersebut milik BMKG. "AP mengaku butuh uang untuk beli makanan dan mengakui barang tersebut adalah sisa-sisa dari tsunami dan likuifaksi," ujar Opan, dikutip Detik.

Pencurian alat senilai Rp700 juta oleh tiga orang remaja menimbulkan pertanyaan serius: Ini pencurinya yang jago banget atau memang keamanan dari BMKG yang nggak niat? Twit akun resmi BMKG soal kasus di atas tidak menjawab kedua pertanyaan itu.

Yang jelas, mitigasi bencana di Indonesia susah banget berjalan serius. Sudah berulang kali kejadian macam ini terjadi. Sebelumnya kita tentu ingat nasib tragis 22 buoy yang mendeteksi kenaikan gelombang laut, alias detektor tsunami, di lautan sebagian hilang dicuri.

Lebih parahnya lagi, pemerintah, dalam hal ini mengaku belum bisa memprioritaskan pengadaan ulang alat pendeteksi tsunami yang dirancang ilmuwan dalam negeri bersama kolega akademisi Amerika Serikat, akibat keterbatasan anggaran.

Kalau kesadaran warga rendah, dan pemerintah juga tidak serius mengamankan aset-aset teknologi pendeteksi bencana, mau gimana lagi. Bangsa ini mampunya cuma bersedih, bersimpati, lalu memutar lagu Ebiet G. Ade terus-terusan. Klise...