Iklan
The VICE Guide to Right Now

Rencana Pembangunan Restoran di Bekas Lokasi Bom Bali Memicu Polemik Libatkan Australia

Pemilik lahan melunak, tapi tetap minta kompensasi tinggi kepada komite pembangunan monumen mengenang korban aksi teror terburuk Indonesia itu.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
08 Mei 2019, 10:41am

Keluarga korban Bom Bali 2002 asal Australia menangis di depan tugu peringatan saat mengenang 10 tahun aksi teror tersebut. Foto oleh Murdani Usman/Reuters

Ledakan bom beruntun pada malam 12 Oktober 2002, yang menimpa Sari Club dan Paddy's Irish Pub di kawasan Kuta, merupakan aksi teror terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Berselang 17 tahun kemudian, apakah bangsa ini beserta keluarga korban sudah move on dan mengizinkan pengusaha membangun restoran di atas lahan yang memicu kenangan pahit itu?

Ternyata belum. Setelah ramai diberitakan media, kecaman bermunculan terhadap rencana pembangunan di atas lahan bekas Sari Club. Penyintas dan keluarga bom Bom Bali memprotes keras. Kecaman turut datang dari Perdana Menteri Australia Scott Morrison, mengingat mayoritas korban jiwa aksi teror keji itu, tepatnya mencapai 88 orang, adalah warga Negeri Kanguru. Morrison menyebut rencana pembangunan tersebut "sangat mengganggu bagi khalayak Australia."

Sejak April 2019, muncul kabar Pemkab Badung mengeluarkan izin pembangunan "restoran dan monumen" lima lantai di lokasi utama ledakan bom Bali, yang kini akrab dijuluki 'ground zero'.

Morrison bilang Australia siap memberikan sokongan dana mendirikan Peace Park di situs bekas Sari Club, asal tidak untuk hiburan dan bisnis. Konsulat Jenderal Australia di Bali turut terlibat menggagalkan rencana pembangunan restoran tersebut.

Rencananya bangunan tersebut akan digarap oleh pengembang properti di Bali dan konstruksi pertamanya dimulai pada 9 Mei mendatang. Pemilik lahan situs bekas Sari Club saat ini adalah PT Putra Pangestu Jaya Lestari, dengan direktur dijabat Lila Tania. Awalnya perusahaan ini berkukuh akan tetap membangun restoran tersebut sesuai jadwal.

Setelah ramai kecaman dan dilakukan beberapa kali lobi, pemilik lahan membatalkan rencana pembangunan restoran. Mereka bersedia menjual tanah bekas Sari Club itu ke Bali Peace Park Association (BPPA), komite yang menangani pembangnunan monumen mengenang korban Bom Bali. Hanya saja, harga jual yang diminta cukup tinggi, mencapai Rp7 miliar per are, dan itu belum mencakup kompensasi untuk pemilik lahan sebagai ganti rugi ongkos mengurus perizinan dan lain-lain.

Untuk diingat, Sari Club dan Paddy's Irish Pub jadi sasaran aksi pemboman beruntun kelompok teror yang terafiliasi dengan Al Qaeda pimpinan mendiang Imam Samudra. Total korban tewas mencapai 202 jiwa, sementara 209 lainnya luka-luka.

Satu dekade lalu, Imam Samudra dieksekusi mati di Lapas Nusakambangan. Aksi Bom Bali 2002 menurut para pelaku masih termasuk rangkaian serangan teror yang bermula pada 11 September 2001 menyasar Gedung World Trade Center dan Pentagon, di Amerika Serikat. Otak jaringan teror internasional itu, Hambali, sampai sekarnag masih dipenjara di Guantanamo—penjara khusus kasus terorisme milik pemerintah AS.

Salah satu perwakilan penyintas korban Bom Bali asal Australia, Gary Nash termasuk yang tidak terima jika bekas Sari Club dibangun kembali jadi restoran serta pusat hiburan. "Ini penghinaan bagi semua orang. Tak hanya warga Australia yang terbunuh di sana, tetapi semuanya... semua negara lain yang warganya terbunuh di sana ... lahan itu harus sakral, harus dikosongkan," kata Nash kepada ABC Australia.

Saat ini di lokasi bekas Paddy’s Irish Pub berdiri Tugu Peringatan Bom Bali atau Monumen Ground Zero. Lokasi Paddy’s Pub sudah lama buka kembali berjarak 100 meter ke utara Ground Zero, namun tidak dengan Sari Club. Lokasi ini sejak 2002 didiamkan menjadi lahan kosong tempat parkir kendaraan.

BPPA, sembari terus menegosiasikan harga dengan pemilik Sari Club, berharap segera tercapai kesepakatan. Harapannya lokasi bekas Sari Club bisa sepenuhnya dipakai untuk mengenang korban.

"Beberapa orang yang kehilangan orang terkasih mereka di sana. Banyak orang meninggal di lokasi tersebut," ujar Antony Svilicich manajer komunikasi BPPA saat dihubungi terpisah oleh The New York Times. "Bahkan ada korban yang tidak pernah ditemukan."