Iklan
Keliling Indonesia

Kenapa Sih Banyak Orang Keliling Indonesia dengan Cara yang Merepotkan?

Kayak 19 tahun keliling Indonesia dengan jalan kaki. Ini dia makna 'bermodal dengkul' dan ‘tua di jalan’ yang sesungguhnya.

oleh Ikhwan Hastanto
20 Juni 2019, 10:02am

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut

Keputusan yang dibuat Sutiyo Suyatno 19 tahun lalu betul-betul mengubah jalan hidupnya. Satu hari di tahun 2000, ia menemukan rumah tangga yang baru dibangunnya kandas. Ia baru berumur 34 tahun kala itu. Masih terlampau muda untuk memahami sakit hati. Frustrasi, ia lantas memutuskan jalan kaki keliling Indonesia demi melupakan kehidupan lampaunya. Modalnya? Cuma sandal jepit, ransel usang, dan matras.

Setelah menghabiskan masa mudanya di jalan, Sutiyo kembali ke kampungnya di Pekalongan, Jawa Tengah pekan lalu. Tujuan terakhir Sutiyo adalah tugu 0 kilometer di Sabang, Aceh. Dia menghabiskan 3 tahun 6 bulan 3 hari untuk mengelilingi Sumatera sebelum kembali ke kampung halamannya. Tak kurang 30 sandal jepit habis dilumat kaki beradu aspal selama di Sumatera.

Kisah Sutiyo mungkin bikin tercengang. Ketika orang dengan mudah keliling Indonesia pakai moda transportasi komersial, ia memilih jalan kaki. Mungkin karena masalah uang, mungkin juga ia ingin berlama-lama menikmati alam sembari mencari ketenangan, tanpa khawatir harus beli tiket transportasi ke kota selanjutnya.

Orang Indonesia sepertinya suka sekali jalan-jalan sambil sedikit mencicipi “rasa susah”. Entah mengapa. Toh nyatanya, Sutiyo bukanlah satu-satunya orang yang nekat keliling Indonesia bermodal dengkul. Ada Amirudin, warga Medan berusia 44 tahun, yang sempat jadi perbincangan Internet karena mengaku berjalan kaki dari Medan ke Banyuwangi untuk bertemu ibu kandungnya. Meskipun orang ini agak brengsek sih, karena kemudian ketahuan bahwa ia ngibul.

Ia memang betulan jalan kaki, tapi bukan untuk ketemu ibunya. Dia jalan kaki untuk menyelesaikan nazar yang dibuat saat sakit beberapa waktu sebelumnya. Yaelah, padahal dia sudah dapat Rp74 juta uang donasi dari orang-orang yang terharu mendengar kisahnya. Ngepet!

Selain itu, ada petani asal Cilacap, Watimin. Ia memutuskan berjalan kaki dengan rute Cilacap-Jakarta-Aceh-Kalimantan-Sulawesi demi menumbuhkan semangat nasionalisme.

“Saya melihat Indonesia sekarang sedang sakit. Sakit karena perilaku generasinya yang belum bisa menerima perbedaan,” tuturnya kepada Jawa Pos. Dalam perjalanannya Watimin memakai pakaian serba putih ala pasukan pengibar bendera, lengkap dengan peci dan tongkat berbendera merah putih.

Selain jalan kaki, naik motor termasuk cara favorit untuk keliling-keliling. Ekspedisi Indonesia Biru dan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa adalah dua contoh populer. Menggunakan sepeda motor, dua perjalanan ini berusaha melihat kehidupan masyarakat Indonesia yang heterogen banget lalu diabadikan dalam bentuk video dokumenter dan buku. Saya langsung curiga perjalanan model begini inspirasinya datang dari Motorcycle Diaries Che Guevara.

Kalau mau lebih go green, Muhammad Mahiir Abdullah dan Ismail sudah membuktikan sepedaan keliling Indonesia bisa dilakukan. Misi Mahiir terhitung mulia: Dia mengayuh sepeda untuk bikin taman bacaan di tempat-tempat tujuannya. Total, dia sudah bikin taman baca di 10 desa di 10 provinsi Indonesia.

Sedangkan Ismail, warga Indramayu yang tiga puluh tahun keliling Indonesia dengan sepeda ontel melakukannya karena memang ingin jadi petualang. Dari perjalanannya tersebut ia mengumpulkan 3,9 juta tanda tangan tokoh setempat yang terbagi di 154 buku catatan. Ia bahkan mengaku pernah terperangkap di tengah konflik Pasukan Pembebasan Timor Timur (sekarang Timor Leste) versus tentara Indonesia gara-gara terlalu asyik bersepeda.

Namun, jalan-jalan ala Sun Go Kong yang mencari kitab suci ke Barat memang belum bisa dilakukan semua orang. Menyoal keamanan, jalan-jalan model begini memang masih sulit dilakukan perempuan, misalnya. Ada banyak daerah yang masih belum ramah gender tertentu atau ras tertentu. Soalnya pengalaman cowok-cowok yang keliling Indonesia jauh beda dibandingkan dengan cewek-cewek yang mencoba melakukan hal yang sama. Mau nggak mau perempuan mesti punya usaha ekstra dalam melindungi dirinya dari bahaya selama perjalanan.

Nggak ada salahnya bertualang dengan versi manapun. Buat yang memilih ala Sun Go Kong jelas kultur masyarakat setempat penting banget untuk dipelajari. Karena lagi-lagi, jalan-jalan modal dengkul begini dan sendirian belum ramah bagi semua orang. Amit-amit deh kalau niatan introspeksi diri sekaligus membuat misi sosial malah berubah jadi sial.