Kejahatan

Sepertinya Ini Rumah Terbaik Untuk Belajar Olah TKP Pembunuhan

Berbeda dari akuntan yang langsung mempraktikkan pelajaran di kelas saat bekerja, petugas forensik butuh latihan sebelum turun ke lapangan—makanya rumah penuh darah adalah lab keren buat anak ilmu forensik.

oleh Caitrin Pilkington
19 Februari 2018, 12:42pm

Semua foto oleh Curtis Rothney.

“Ini rumah pertanian dan ada banyak cipratan darah...jadi enggak aneh kalau ada banyak lalat di sini,” ujar Adrian Borlestean.

Mereka bergerombol dan merangkak di luar jendela lantai dua, berusaha mencapai cipratan darah di dinding dan langit-langit. Di luar jendela, yang tampak hanyalah hamparan salju dan tumbu jerami. Rumah terletak di daerah terpencil. Tak ada satupun tetangga di kanan atau di kiri rumah itu. Suasananya teramat sunyi. Kami tengah berdiri di sebuah kamar berdebu dengan cipratan darah di sana-sini. Sebuah palu tergeletak di lantai kamar.

Sepintas, kondisi kamar ini mirip salah satu setting adegan film of Silence of the Lambs. Padahal, sejatinya kamar tersebut sebuah laboratorium forensik.

Percikan darah, botol-botol dan senjatanya pembunuh yang digeletakkan begitu saja—semua ini adalah hasil kerja Borlestean. Pria ini sehari-hari berprofesi sebagai fasilitator laboratorium di Trent University di Peterborough, Ontario.

“Kami sebenarnya pakai darah kambing buat bikin cipratan darah,” kata Borlestean. “Makanya, dindingnya jangan disentuh. Tak baik bagi kesehatan.”

Rumah yang dijadikan sebagai tempat kejadian perkara bohongan ini terletak di ujung kampus. Saking jauhnya, untuk sampai ke sana, kita harus naik bus khusus. Interior rumah seakan terperangkap selamanya di tahun 1995. Lantaran terkesan tua, ganjil serta dikelilingi hamparan ladang pertanian dan barisan pepohonan, tak banyak yang menyangka kalau rumah adalah bagian sebuah universitas.

Sejatinya, bagi jurusan forensik memiliki peran yang seperti laboratorium bagi jurusan sastra Inggris. Di sini, mahasiswa mempraktekan apa yang mereka pelajari di kelas secara langsung.

Tak seperti akuntan dan marketing yang bisa langsung mengamalkan apa yang mereka pelajari di kelas dari hari pertama mereka pekerja, petugas forensik—yang sehari-hari dihadapkan dengan mayat, darah dan diharuskan mengambil sampel rambut dari senjata pembunuh—butuh latihan sebelum benar-benar turun ke lapangan.

Rumah simulasi olah TKP macam ini tak cuma ditemukan di Trent University. Belakangan, sejumlah universitas membangun fasilitas serupa. Hanya saja, rumah milik Trent University ini adalah yang paling tua. Laboratorium ini nyaris berusia satu dekade.

Segera setelah sampai di rumah ini, mahasiswa jurusan forensik akan segera mengganti pakaian mereka dan bersiap menyaksikan sisi “gore” dari rumah ini. Bukannya merinding, mood mahasiswa kelihatan ceria ketika mereka mulai mengenakan baju pelindung berwarna putih-putih yang sering kita tonton di serial CSI.

“Saya harus pakai lakban,” kata asisten dosen Sumiko Polacco, sambil menarik celana baju pelindungnya. “Ukurannya cuma satu. Jadi, kami kadang menarik bagian celananya dan melakbannya di sekitar dengkul. Sebab kalau enggak, pas analisis lab kamu bakal berlumuran…” dia menyebut darah tapi pelan sekali lalu tertawa.

Polacco dan beberapa asisten lab lainnya mengajakku berkeliling rumah, mulai dari ruang bawah tanah dari semen yang dilengkapi kamera video, sebuah kursi dan gergaji karatan, bekas peluru di dinding ruang makan, beberapa helai rambut dan genangan darah di ruang tamu, cetakan telapak tangan dari darah di dinding dekat tanggal, pisau dan palu yang tergeletak di lantai dan cipratan darah di kamar.

Semua TKP buatan ini dirancang sedemikian rupa untuk menyuguhkan realita pekerjaan petugas forensik sesungguhnya.

Masalahnya, apakah kamar bawah tanah tempat penyiksaan itu begitu sering ditemukan di kehidupan nyata sampai Trent University punya TKP buatan di rumah ini?

“Petugas forensik enggak berhadapan dengan pembunuh berantai tiap hari sih,” kata mantan mahasiswa forensik Jill Barclay. “Tapi ini jenis TKP yang bisa saja kita temukan, karena ada beberapa orang sinting di luar sana.”

Itu dia. Kuncinya adalah mempersiapkan segala macam kegilaan di luar sana. Mahasiswa Trent, jika memang akhirnya benar-benar bekerja sebagai petugas forensik, bakal berhadapan dengan kasus seperti pembunuhan yang dilakukan Bruce MacArthur—seorang tersangka pembunuh berantai dan mantan Santa Claus sebuah mal yang dituduh menyembunyikan bagian tubuh pria di poy bunga saat bekerja sebagai tukang kebun.

Dr. Mike Iles adalah seorang profesor kajian Forensik di Trent dan mantan manajer regional layanan forensik Kepolisian Provinsi Ontaria. Iles pernah pernah menangani kasus pembunuhan sekelas MacArthur, termasuk sebuah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kolonel angkatan udara Russell Williams.

“Sepanjang pengalaman saya, ada kalanya pekerjaan ini berimbas pada kesehatan emosional..saya pernah menyaksikan kalau orang-orang yang sukses di dalam dunia forensik adalah mereka yang bisa melihat sebuah TKP secara ilmiah dan mengesampingkan emosi mereka. kita toh ada di TKP untuk bekerja dan kita memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam pekerjaannya. Hal ini sangat membantu ketika kamu terus menerus mengurusi TKP yang kacau balau dan menyaksikan banyak mayat,” kata Dr. Iles.

The Crime Scene House.

akhir dekade ’60, Trent University berhasil mendapatkan lahan luas yang mencakup sebuah rumah pertanian yang tak lagi ditinggali. Rumah itu sebelumnya dikontrakan pada sebuah keluarga selama beberapa dekade. Pada 2008, jurusan forensik mendapat ide untuk memanfaatkan rumah tersebut. Dr. Iles dan beberapa profesor lainnya bergegas mendekorasi ulang rumah tersebut dengan barang-barang milik mereka dan beberapa furnitur rumah yang mereka pungut dari rumah sekitar kampus.

Melalui sebuah penelitian pada 2016, Trent University menemukan bahwa setelah belajar di rumah TKP buatan itu, lebih dari setengah mahasiswa yang mengaku bahwa pengalaman mereka di rumah itu “berperan besar dalam pemahaman mereka terhadap pekerjaan forensik.” Lebih dari itu, nilai rata-rata yang diperoleh mahasiswa forensik naik dari C+ menjadi B-.

“Alih-alih menyediakan sebuah laboratorium yang bersih, kami malah menyediakan kesempatan untuk mengalami TKP secara langsung,” kata Dr. Theresa Stotesbury, seorang profesor di Trent yang dikenal karena darah sintetik buatannya mirip banget dengan darah asli. “Mahasiswa benar-benar berhadapan dengan debu, kotoran dan elemen-elemen lainnya..itulah kenapa rumah ini keren sekali.”

Mahasiswa diajarkan membentuk hipotesis—seperti misalnya dengan menyimpulkan bahwa cipratan darah sebagai sebuah pola—dan mengolah bukti untuk membuat probabilitas. Intinya, mereka belajar untuk memperlakukan ruangan sebagai sebuah teka-teki.

“Kamu bisa saja masuk sebuah TKP dan menemukan beberapa puntung rokok di lantai, beberapa cangkir, seutas tali, beberapa bekas cipratab darah dan jendela yang terbuka..itu saja,” kata Dr. Christopher Kyle, Ketua Jurusan Forensik

Spesialisasi Dr. Kyle adalah laboratorium forensik. Dia menjelaskan tak semua pekerjaan forensik berhubungan dengan kasus kriminal. keahlian di bidang forensik bisa dimanfaatkan dalam bidang kesehatan dan kependudukan, seperti laporan toksikologi dan tes bakteri e-coli. Mahasiswa forensik juga diajarkan untuk mengenalisa DNA non-manusia untuk mempersiapkan mereka jika menangani kasus pembunuhan binatang langka atau dalam kasus pembunuhan yang melibatkan seekor banteng. Ada juga yang namanya entomologi: cabang forensik yang memelajari serangga yang ditemukan dalam mayat.

kembali ke rumah pertanian Trent, asisten dosen Samantha Grant, Amanda Orr dan Sumiko Polacco tengah mengulas botol bir, mengumpulkan rambut dengan penjepit, mengukur lebar lubang peluru dan mengambil foto cipratan darah.

“Terdapat banyak cabang forensik yang bisa kamu dalami,” kata Grant lewat maskernya.

Menurut Dr. Iles, mereka yang sangat bersemangat mendalami forensik umumnya sensitif dengan masalah keadilan sosial, “Mereka ada di TKP untuk menolong korban dan membantu keluarga korban melalui masa-masa sulit—mereka menolong lewat ilmu pengetahuan.”

Semua laboratorium pada akhirnya adalah tempat untuk melakukan percobaan dalam kondisi yang terkontrol. rumah TKP buatan membawa kondisi terkontrol tersebut di tempat di mana sisi paling tak terduga manusia biasanya muncul. ujung-ujungnya, mahasiswa forensik bisa melihat sebuah kasus kriminal sebagai sebuah teka-teki—atau hanya sekumpulan kemungkinan untuk mempraktekan skill yang mereka pelajari di bangku kuliah.