Militerisasi

Militer AS Melatih Binatang Laut Jadi Mata-Mata Kapal Musuh

Program DARPA sudah melibatkan mamalia seperti lumba-lumba, serta beberapa ikan lainnya. Publik mengecamnya karena dianggap tidak bermoral.
24 Februari 2018, 3:00am
Prajurit Angkatan Laut AS melatih lumba-lumba untuk mencari obyek di dasar laut. Foto dari arsip US Navy.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Baru-baru ini tentara Amerika Serikat berencana memanfaatkan ikan, mamalia, dan hewan laut lainnya untuk membantu melacak kapal selam negara musuh di samudra. Program Persistent Aquatic Living Sensors (PALS) bakal memodifikasi spesies menjadi mata-mata alamiah bawah laut yang efisien. Upaya militer AS tentu saja menghadapi penolakan keras dari aktivis lingkungan hidup.

Defense Advanced Research Projects Agency, alias DARPA, yang merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan Pentagon, mengumumkan program terbarunya PALS awal bulan ini. Program ini “akan mempelajari organisme alami dan termodifikasi untuk menentukan mana yang terbaik dalam mendeteksi kapal selam berawak dan tidak,” demikian dikutip dari keterangan DARPA di situsnya.

Makhluk laut—mulai dari bakteri, plankton, terumbu karang sampai ikan, dan mamalia—bisa merasakan dan bereaksi apabila ada kapal di dekatnya. Bagi DARPA, reaksi tersebut bisa sangat berguna bagi militer. “Program ini berencana untuk mengamati perilaku alami dan unik dari organisme laut di hadapan target. Setelah itu, mereka akan memproses data untuk memberi peringatan,” kata Jared Adams, juru bicara DARPA, saat dihubungi Motherboard lewat email.

Apabila militer dapat mengembangkan sistem yang mampu mendeteksi reaksi makhluk laut terhadap kapal yang lewat, maka mereka bisa memantau seluruh kondisi lautan di dunia untuk mengetahui aktivitas lawan. Cara ini dianggap lebih terjangkau dan efektif daripada sensor buatan manusia. “Sistem sensor yang diciptakan di sekitar makhluk laut memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan dengan perangkat keras yang ada selama ini,” demikian pernyataan tertulis DARPA.

Mekanisme PALS seperti dalam gambar presentasi DARPA.

Makhluk laut dapat berkembang biak alami, jadi militer tidak perlu merawat perangkat keras yang mudah rusak, berkarat, atau kehabisan baterai. Selain itu, makhluk laut dapat merasakan lingkungan di sekitarnya dengan berbagai cara. Ini bisa memberi pandangan kondisi laut yang lebih lengkap bagi analis militer.

“Karena evolusi, makhluk laut mampu merasakan rangsangan taktil, listrik, akustik, magnetik, kimia dan optik. Bahkan bagi beberapa spesies, mereka tidak mengalami kesulitan pada intensitas cahaya rendah saat berburu dan dapat bersembunyi dalam kegelapan,” DARPA menjelaskan.

Kami tidak tahu pasti bagaimana cara kerja PALS. Saat ini, DARPA menganggap program tersebut baru sampai “tahap penelitian mendasar,” kata Adams. Ilmuwan militer harus mencari cara untuk merekam reaksi makhluk laut terhadap kapal-kapal di dekatnya dalam skala besar dan pada jarak jauh. Mereka perlu menulis kode komputer untuk memproses data mentah dari makhluk laut menjadi informasi yang berguna bagi militer.

Selain itu, ada rintangan lain yang menghadang program. Banyak aktivis dan organisasi pecinta lingkungan yang menentang pemanfaatan makhluk laut untuk kepentingan militer. “Sudah cukup buruk bagi militer untuk melatih berbagai ikan paus dan lumba-lumba secara rutin, dan sekarang mereka ingin melibatkan langsung mamalia laut untuk menjalankan rencana mereka. Mengapa tidak mereka saja yang melakukannya?” ujar John Hocevar, seorang juru kampanye kelautan Greenpeace AS, lewat email.

Adams mengatakan bahwa DARPA tidak akan melibatkan spesies yang terancam punah dan “mamalia cerdas” dalam program PALS, tetapi tidak jelas apa yang mereka maksud “cerdas” di sini. Angkatan Laut AS sejak lama menggunakan lumba-lumba dan singa laut terlatih untuk menemukan tambang dasar laut dan obyek-obyek bawah air lainnya. DARPA juga tidak menjelaskan bagaimana mereka bakal memisahkan data yang disampaikan oleh spesies tuna yang terancam punah dan maupun yang tidak.

Selain itu, DARPA juga mengusulkan untuk memodifikasi beberapa spesies agar indra mereka semakin optimal dalam mendeteksi benda buatan manusia. Mereka akan berkembang biak menjadi organisme hasil rekayasa genetika dan dapat mengganggu atau bahkan menghancurkan ekosistem yang ada.

Adams mengatakan bahwa DARPA akan membuat dan menguji spesies yang termodifikasi secara ketat di “fasilitas biosecure yang dijinakkan”. Namun, untuk benar-benar menyebarkan spesies yang termodifikasi, militer harus melepaskannya ke alam bebas, di mana mereka bisa menyingkirkan atau mengungguli spesies alami.

Bagi Sea Shepherd, sebuah kelompok konservasi laut yang berbasis di Washington, program terbaru DARPA memiliki masalah moral, dan ini bukanlah cara yang praktis untuk memantau ancaman. Kemungkinan bahaya bagi kehidupan laut dianggap “tidak penting,” juru bicara Heather Stimmler memberitahu saya melalui email. “Kita harus membebaskan makhluk laut untuk tinggal dan hidup sesuai dengan habitatnya. Kita tidak bisa memanfaatkannya untuk alasan apa pun.”

Saat ini, DARPA sudah semakin mantap dalam menjalankan rencananya untuk menggunakan makhluk laut sebagai mata-mata militer. Badan tersebut akan menggelar pertemuan di Virginia pada tanggal 2 Maret bagi peneliti yang tertarik dengan program ini.