Tarung Bebas

Pencarian Jati diri Dua Lelaki Lewat Pencak Dor: Tarung Bebas Penuh Darah Para Santri

Sudah enam dekade tarung bebas digelar dekat Pesantren Lirboyo, Kediri. Awalnya hanya diikuti santri, kini siapapun boleh terlibat. VICE mengikuti perjalanan dua petarung yang berjuang meraih kemahsyuran di atas ring.

oleh Reno Surya; foto oleh Arief Priyono
10 Oktober 2019, 7:35am

Salah satu momen tarung bebas dalam ajang Pencak Dor di Lirboyo, Kediri, pada September 2019 lalu. Semua foto oleh Arief Priyono. 

Dua dekade lalu, film Fight Club yang diadaptasi dari novel Chuck Palahniuk menggambarkan tarung bebas sebagai sarana eskapis kelas pekerja di Amerika Serikat untuk sejenak lepas dari tekanan kapitalisme. Enam dekade sebelumnya, KH Muhamad Abdullah Maksum Jauhar, atau yang akrab disebut Gus Maksum, mewujudkan tarung bebas semacam itu diikuti santri-santri seantero Jawa Timur.

Gus Maksum menamakan ajang itu Pencak Dor. "Pencak" berarti silat, atau bertarung, sementara "Dor" berarti jidor, sebuah kendang kecil sebagai musik pengiring. Bagi Anshor dan Santoso, dua atlet kondang Pencak Dor dari sebuah kolektif bernama Bara Sekar Taji (BASETA) yang ditemui VICE, tarung bebas itu menyediakan eskapisme—serta kemahsyuran—untuk sejenak lepas dari keseharian mereka di Kediri.

Santoso pertama kali menapakan kakinya di ring pencak dor saat baru kelas dua SD. Ayahnya Tarko adalah sosok legendaris di ajang Pencak Dor. Meski begitu, keputusan Santoso menekuni pencak dor sama sekali tak terpengaruh sang ayah. Ia mengatakan, bahwa pencak dor adalah panggilan hatinya.

Sehari-hari, Santoso bekerja sebagai buruh lepas di sebuah pabrik kulit. Ia memulai pekerjaannya sejak pagi buta. Tugas Santoso adalah penyortir sekaligus tukang membersihkan kulit dari bulu-bulu halus, sebelum dieskpor ke berbagai negara di Benua Asia. Memang tak ada kemahsyuran di dari pekerjaan ini. Karenanya, dia selalu mengangankan ring.

1570691342800-Pencak-Dor-for-Vice-8
Santoso berpose dekat samsak yang jadi sasaran pukulannya saat berlatih.

Di akhir pekan, atau jika memang pabrik kulit belum membutukan jasanya, ia jadi buruh angkut. Saban hari, ia harus mengangkat beban hampir satu kuintal naik turun truk. Bagi Santoso, kerja otot itu sama seperti latihan. Dia menolak anggapan petarung hebat, selalu lahir dari sasana.

"[Semua pekerjaan kasar ini] sekaligus adalah latihan bagi saya. Latihan fisik, agar [stamina] saya panjang," ujar Santoso disela-sela aktivitasnya kepada VICE. "Karena akvitias seperti ini kalau enggak terbiasa malah bisa tumbang. Saya justru terbalik. Kalau enggak kerja berat seperti ini, badan malah rasanya njarem [kram] semua."

1570692328157-_MG_6946
Anshor (kanan) sedang melatih anak didiknya di BASETA.

Saat kami bertemu, pelaksanaan Pencak Dor 2019 kurang dua hari. Pencak dor memang sudah berkembang jauh dari niatan awal Gus Maksum. Pada paruh kedua dekade 1960-an, cucu dari pendiri pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu meniatkan Pencak Dor menjadi ajang silaturahmi bagi santri yang berlatih bela diri. Konon, sesudah kelompok santri muda yang tergabung dalam perguruan silat menumpas simpatisan komunis pasca tragedi 1965, mereka jadi liar karena kehilangan musuh bersama.

Akibatnya banyak anak muda Kediri sering terlibat baku hantam karena membela gengsi perguruan silat masing-masing. Sebagai ulama, Gus Maksum ingin mengalihkan darah panas anak muda itu lebih terarah: di atas ring. Lirboyo pun dipilih jadi lokasi tarung, karena kawasan itu dikenal sebagai lokasi jagoan dan bromocorah. Adanya tarung bebas dianggap bisa menjinakkan preman setempat dan mendekatkan pesantren dengan masyarakat.

Tak butuh waktu lama, Pencak Dor segera menjadi ajang tarung diminati banyak orang—melibatkan warga dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, hingga Nganjuk.

Kini, skala Pencak Dor sudah makin besar. Gerakan Pemuda Ansor sebagai sayap organisasi Nahdlatul Ulama, TNI, hingga pemerintah menjadi penyokong acara tersebut. Sebagian promotor swasta pun ikut terlibat, membuat perputaran uang mewarnai Pencak Dor. Santoso adalah generasi petarung baru yang jelas tidak berasal dari latar santri dan mulai mengenal uang dari hasil bertarung di atas ring.

"Tahun ini pasti pertandingan bakal besar. Banyak nama jagoan-jagoan yang hadir besok malam. Saya belum tau ini nanti digandengin [ditantang-red] sama siapa. Kalau harganya cocok, ya monggo," ujar Santoso, seraya memberi pakan pada ternaknya.

1570691517952-Pencak-Dor-for-Vice-25
Penonton menyemut dekat ring Pencak Dor.

Bagi pengemar pencak dor, Santoso adalah nama yang cukup moncer di lingkungannya. Ia diberi julukan ‘Mesin Penghancur’ oleh warga desanya. Sebutan itu dia dapat setelah meremukan tulang seorang anggota Brimob yang bertandang di perhelatan Pencak Dor tiga tahun lalu.

Pencak Dor tidak selalu memberi kemahsyuran lokal buat Santoso. Kelopak pelipis mata kirinya remuk, dan tak bisa pulih kembali. Tulang tangan kanannya patah lebih dari sepuluh kali. "Waktu mata saya ‘pecah’ di ronder terakhir. Bagian putih mata [Sklera-red] saya ini jadi warna ungu. Yang namanya darah itu, mengucur deras dari hidung sejak jam 12 malam sampai jam 9 pagi. Saya sempat enggak sadar waktu itu," kenang Santoso.

Meskipun mengalami cedera, Santoso menolak pergi ke dokter. Ia selalu percaya fisiknya akan pulih dengan sendirinya. Baginya kekuatan seorang dukun terkenal di daerahnya lebih manjur daripada dokter manapun. "Lah kalau di dokter harus opname. Nanti pekerjaan terbengkalai. Jadi ya diobati seadanya, dan dibiarkan aja. Biasanya sembuh sendiri."

1570691920487-Pencak-Dor-for-Vice-15
Petarung remaja bersimbah darah setelah bertarung, sembari memegang kupon yang bisa ditukar nasi kotak dan sejumlah uang.

Santoso tak memiliki ritus apapun sebelum bertanding. Ia hanya rutin meminum ramuan tradisional, campuran madu dan kencur sebelum berlaga. Ia juga tak perlu istirahat yang cukup. Baginya, yang terpenting dari sebuah pertarungan adalah mental dan nyali. "Kalau hatinya madep dan mantep. Pasti menang," katanya.

Sebelum namanya kondang, Santoso kecil berbahagia dapat upah sepiring nasi setelah berlaga. "Setelah bertarung dulu itu di bawah makan bareng, ngerokok bareng. Kami tidak mengenal istilah dendam," ujarnya.

Hal senada pun juga dilontarkan Anshor, ketua BASETA, sebuah organisasi pemuda di Kediri yang telah berdiri sejak 1998. Anshor bilang prestise ditonton warga desa lain adalah alasannya dan peserta awam nekat berlaga.

Lambat laun BASETA menjadi ruang bagi petarung tanpa sasana. Anshor turut ambil bagian dalam melatih petarung muda, yang saban sore menyambangi rumahnya. Dia rutin menggeber anak didiknya agar kuat saat berlaga. Semua ia lakukan tanpa imbalan. Tak sepeser uang pun ia dapatkan dari melatih anak didiknya.

1570691571622-Pencak-Dor-for-Vice-40
Pertarungan di Pencak Dor sangat brutal dan seringkali tidak nyaman disaksikan.

Sepasang samsak merah dan hitam digantungkan di halaman depan rumah Anshor. Samsak itu, telah melahirkan nama-nama yang ditakuti di pencak dor beberapa tahun terakhir. Untuk latihan fisik, ia akan membawa anak didiknya mendaki bukit sekitaran desanya, dan berlatih tanding di sebuah ladang jagung.

"Semakin ekstrem latihannya, fisiknya juga akan berubah semakin ekstrem pula. Petarung pencak dor enggak ada yang manja. Harus kepanasan, kena debu, dan memang capek latihannya. Tapi ini akan berimbas pada penampilan mereka di atas ring nanti," kata Anshor.

BASETA dulunya paguyuban perantau asal Kediri di Malaysia. Anggotanya adalah orang yang pernah ikut pencak dor. Dengan pengalaman itu, BASETA kerap bentrok lawan kelompok-kelompok lain saat di negeri Jiran. Mereka pernah berduel dengan kelompok dari Surabaya, Lamongan, Aceh Medan, bahkan gangster dari Malaysia sendiri.

"Salah satunya kami dulu pernah bentrok dengan [geng] Alcatraz. Sama-sama dari Kediri, tapi beda kubu. Dulu bentrok dahsyat di Malaysia. Itu kebawa sampai kami pulang kampung. Ya namanya dulu anak muda ya, selalu ingin di depan," kenang Anshor sambil tertawa.

Memiliki ratusan anggota, dibawah komando Anshor, nama BASETA kini cukup disegani di Malaysia. Kelompok inilah lantas rutin ikut menyokong gelaran pencak dor, lewat dana kolektif hasil ‘kerja’ para perantau di Malaysia.

Saat kami wawancarai, Anshor tengah sibuk menggeber anak didiknya sebelum ‘naik’. Prestise Pencak Dor 2019 sedikit meningkat, lantaran digelar merayakan hari jadi Kota Kediri. "Ini acara pemerintah. Jadi nanti pasti nama-nama besar ikut ‘naik’. Santoso akan tanding besok. Saya masih belum tahu [ikut tanding atau tidak]. Kalau ada lawan yang cocok, ya naik," imbuh Anshor.

Hari yang ditunggu oleh Anshor, Santoso, Baseta dan segenap warga Kediri lainnya akhirnya tiba. Di tanah lapang kawasan Lirboyo, ring berukuran delapan kali empat berdiri dalam sunyi. Sorot lampu strobo mengawasi sisa-sisa bercak darah kering di ruas bambu. Sementara, tepat pukul tujuh lamat-lamat ribuan warga mulai mengepung sekeliling ring setinggi dua meter itu.

Tiap petarung mulai bersiap mengambil nomor antrean. Santoso berbaur dengan penonton. Tubuh gempalnya yang dibalut jaket kulit berwarna hitam, mengawasi dari samping panggung. Sementara Anshor sibuk mempersiapkan anaknya, Andre Baseta, yang malam itu akan melakoni debutnya di panggung pencak dor.

1570691800052-Pencak-Dor-for-Vice-34
Salah satu petarung Pencak Dor berdoa sebelum naik panggung.

Tepat pukul tujuh malam, satu per satu peserta mulai naik ke atas ring. Sebagai pertandingan pembuka, santri lebih dulu diberi kesempatan berlaga. "Karena dengan pencak dor seperti ini, kami gunakan untuk berjejaring antar santri. Selain itu juga untuk ngetes ilmu. Tapi kan juga dapat duit dan makan. Jadi lumayan, lah. Apalagi kalau main kita jago, kan juga mungkin bisa dilirik oleh promotor," ujar Hussein, santri 16 tahun dari kota Nganjuk.

Pencak dor tak memiliki batasan usia. Anak-anak hingga manula berhak untuk naik ke atas ring. Namun, segala risiko jadi tanggungan pribadi. Panitia telah memperingatkan kalau tak ada ahli medis disana. Meski demikian, tetap tersedia tukang pijat dan sangkal putung [dukun tulang], serta sebuah ambulans yang dipersiapkan kalau-kalau ada situasi darurat.

Seusai berlaga tiap petarung memperoleh sebuah kupon yang bisa ditukar jadi satu kotak nasi dan uang. Untuk anak-anak, mereka akan diberi bayaran Rp50 ribu rupiah. Sementara di kelas dewasa, satu peserta mengantongi setidaknya Rp100 ribu. Sedangkan jago, alias petarung profesional, dapat memperoleh bayaran lebih besar. Nilainya sulit ditentukan. Antara Rp1 hingga Rp3 juta. Angkanya bisa jadi lebih tinggi, jika ada hati sponsor sedang baik.

Aturan pencak dor tak ribet. Satu-satunya yang tak boleh dilanggar adalah setiap petarung dilarang meludahi dan mengigit lawannya. Itu saja. Untuk ukuran menang kalah, mereka tak memiliki batasan. Penonton yang mengerumuni ring adalah juri dari tarung tangan kosong ini.

Malam semakin larut, sementara kondisi lapangan juga tambah riuh. Tepat pukul sebelas, Santoso memberi tahu VICE kalau dia sudah ‘dilamar’. Dia bakal dipertemukan seorang jago dari kota sebelah, Blitar, bernama Ibnu. Seperti Santoso, lawannya juga merupakan nama mentereng di ranah pencak dor.

"Santoso! Santoso! Santoso!" suara teriakan penonton bergema saat dia mulai naik ke atas ring. Santoso berdiri di ujung kiri menunggu lawannya yang dari atas panggung. Dia berkeliling ke tiap sudut menyapa penggemarnya dan disahuti gemuruh tepuk tangan. Persis seperti rockstar di hadapan penggemar. Meriah dan penuh gemuruh.

Santoso dan Ibnu bersalaman, sebelum akhirnya baku hantam. Santoso perlahan mendekat, dan membuka dengan pertarungan malam itu dengan mendaratkan uppercut tepat di rahang bawah musuhnya. Ibnu, sang lawan, tersungkur. Penonton bergemuruh.


Simak dokumenter VICE soal tarung berhadiah remisi di penjara Thailand:


Ibnu, segera bangkit dan berupaya membalas bogem mentah yang dilayangkan padannya. Dengan tubuh gempalnya, Santoso menghindari jab dari Ibnu. Dia tak sadar jika hook kiri juga tengah dilayangkan Ibnu. Alhasil, kepala tangan musuh Santoso mendarat tepat di pelipis kirinya.

Luka lama Santoso kembali mengucurkan darah. Dia belum menyerah. Dengan jab tangan kanannya, ia memungkasi laga. Wasit segera memisahkan ia dan lawannya yang tengah berjibaku di tengah ring. Darah terus mengucur dari pelipis kiri matanya, dan pertandingan terpaksa harus dihentikan.

Mata Santoso memar, namun ia sama sekali tak tampak kesakitan. Anshor mambasuh lukanya dengan air. "Biasa ngene iki. Kalau ada yang nantang, ya panggah [tetap]tanding lagi," ujarnya seraya tersenyum. Santoso tak merasa kalah sama sekali.

Malam itu, nama-nama legenda pencak dor lainnya juga turut memeriahkan suasana. Jhonny ‘Hunter’, Mikael ‘Speed’, juga petarung kawakan bernama Grandong yang usianya sudah kepala lima turut turun gunung.

Di penghujung laga, Anshor, sang ketua BASETA, turut ‘naik’ memungkasi pencak dor. Memakai kaus BASETA berwarna biru, tepuk tangan meriah mengiringi kehadiran Anshor malam itu. Karena bagi penonton, itu adalah sebuah momen langka. Dia belum tahu akan melawan siapa. Lebih dari 10 menit Anshor menanti penantangnya.

Lalu, seorang berkaos hitam yang sedari awal laga berada di ujung panggung, sebagai pelatih, menerima tantangan Anshor. Ia adalah Kamituo Tohari, ketua salah satu sasana silat dari Blitar. Laga terakhir pencak dor malam itu, seolah menemukan dua legenda asal Kediri dan Blitar.

Anshor yang memiliki basic seorang petinju, membuka laga dengan mendaratkan kepala tangannya di kepala lawannya. Tapi Tohari lebih lihai dalam teknik kuncian. Anshor dipelintir, hingga nyaris terperosok jatuh keluar ring. Kesigapan wasit malam itu jualah yang menunda nasib nahas Anshor. Pergulatan itu berlangsung lebih dari sepuluh menit, memungkasi keriuhan malam itu.

1570691857864-Pencak-Dor-for-Vice-21
Wakil dari perguruan silat merawat salah satu petarung yang ambruk setelah laga.

Selepas laga, Anshor berpelukan dengan lawannya dan memberi hormat pada penonton yang telah setia hingga akhir laga. Lewat satu jam kemudian panggung ditelan kesunyian. Anshor dan Santoso mengaso di bawah panggung menunggu upah selepas laga. Malam itu nasib baik sedang tak berpihak pada mereka. Tak ada sama sekali penyesalan. Mereka hanya ingat satu hal: ingin cepat-cepat menyongsong pencak dor berikutnya.

Seraya menenggak sebotol air yang sisa separuh, Santoso mengungkapkan niatnya terus naik panggung dan bertarung.

"Kami tidak tahu, kapan akan berhenti. Mungkin, kami akan terus bertarung, hingga ajal menjemput kami. Memilih pencak dor sebagai jalan hidup hingga mati."


Reno Surya adalah jurnalis sekaligus pegiat kancah musik di Kota Surabaya. Follow dia di Instagram