Iklan
Industri Hiburan

Simpang Siur Karir Livi Zheng adalah Bencana Jurnalisme Hiburan di Indonesia

Kabar berlebihan bahwa sutradara muda itu berhasil "menembus" Hollywood, sampai di-endorse pejabat publik, tak akan jadi kontroversi andai redaksi media telaten menjalankan prinsip verifikasi.

oleh Ikhwan Hastanto
02 September 2019, 10:21am

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberi dukungan bagi film Livi Zheng (kanan), dicuplik dari trailer Bali: Beats of Paradise.

Untuk masyarakat awam penyuka film di negara ini, penyematan kata “Hollywood” dan “Piala Oscar” pada sebuah karya sinema adalah dua kunci penarik perhatian paling mujarab. Livi Notohardjo, lebih dikenal sebagai Livi Zheng, memanfaatkan sentimen positif itu sampai titik maksimal.

Sejak menjalani debut sebagai sutradara pada 2015 lewat film laga Brush with Danger, Livi digadang-gadang banyak media Tanah Air sebagai sineas muda berbakat pengharum nama bangsa. Lebih-lebih berkat klaim keberhasilannya “menembus pasar Hollywood” dan "masuk seleksi" nominasi Oscar. Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, hingga Menteri Pariwisata Arief Yahya turut memberi endorsement khusus buat film dokumenter Livi Bali: Beats of Paradise yang tayang Agustus lalu dan mendapat ulasan buruk.

Belakangan, kredibilitas Livi jadi gunjingan di jagat internet. Muncul kritik atas sorotan berlebihan media massa terhadap kiprah perempuan 30 tahun itu. Terutama berkat seri opini pseudonim di situs GeoTimes.

Rangkaian opini di GeoTimes mempertanyakan latahnya media massa lokal menyebut sosok sutradara muda itu berhasil "menembus" industri perfilman di Hollywood. Livi sempat menuding deretan opini negatif tersebut sekadar hoax.

Sorotan makin memburuk seiring waktu, setelah sekian artikel kolaborasi tayang di Tirto.id dan Asumsi.co menguliti rekam jejak Livi dan jaringan bisnis keluarganya (serta perangkat kehumasan yang dipakai untuk menciptakan hype menembus Hollywood, yang selengkapnya bisa kalian baca di sini). Pengetahuan film Livi juga amat terbatas, untuk sineas yang konon berhasil punya karir mentereng di Amerika Serikat. Belakangan, Livi mulai melunak, mempersilakan publik menilai sendiri seberapa akurat klaim tentang kemonceran karirnya di luar negeri.

Stasiun televisi Metro TV lantas mengundang Livi, untuk mengonfirmasi berbagai tuduhan tersebut akhir pekan lalu. Dalam forum tersebut, sutradara lain seperti Joko Anwar dan John De Rantau menganggap berbagai klaim seputar kesuksesan Livi Zheng amat prematur, kalau bukan tak berdasar sama sekali.

Nama Livi lantas menjadi trending di jagat maya sepekan belakangan, namun tak lagi wangi. Sebagian warganet turut menganggap ada yang salah dari simpang siur informasi karirnya. Beberapa bahkan mulai mengunggah meme menyindir klaim keberhasilan Livi di industri perfilman Amerika Serikat. Kontroversi ini segera mengingatkan kita pada skandal prestasi palsu ilmuwan Dwi Hartanto dua tahun lalu.

Joko Anwar, sutradara yang satu panel dalam sesi diskusi di Metro TV, sejak awal sudah mendudukan pangkal masalah dari kontroversi sang sutradara muda: ini semua akibat praktik jurnalisme yang dangkal dari media massa di Indonesia.

Pendapat serupa disampaikan pengamat media Ignatius Haryanto, yang juga pendiri Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), saat dihubungi VICE. Media di negara ini berulang kali kecele memuat cerita sosok yang terkesan berprestasi tanpa verifikasi memadai. Untuk kasus Livi Zheng, berbagai media kredibel beramai-ramai termakan glorifikasi “kesuksesan” kiprahnya di Hollywood. Merujuk laporan Tirto ataupun Asumsi klaim-klaim itu memang sengaja disebar oleh tim humas Livi. Tapi apakah tindakan humas menggembar-gemborkan prestasi Livi keliru? Atau justru kesalahan ada redaksi media yang tidak detail melakukan periksa fakta?

Bagi Haryanto, kontroversi ini sepenuhnya bencana jurnalisme, khususnya jurnalisme bidang hiburan dan perfilman di Tanah Air. Pengelola dan wartawan lah seharusnya yang pertama kali disalahkan ketika info karir seseorang ternyata tak akurat.

"Dalam periode 2015-2019, Kompas telah memuat 44 berita terkait LZ. Ini artinya hampir setiap bulan ada berita soal LZ. Buat saya ini terlalu berlebihan. Sementara itu, dari tulisan di Geotimes, kemudian Tirto dan Alinea, [baru] saya melihat ada fakta lain yang menggambarkan LZ. Memang saya melihat wartawan tidak teliti, tidak kritis pada data yang disampaikan oleh narasumber," ujar Haryanto, yang menjabat sebagai Ombudsman harian Kompas sejak 2008. Kompas, bersama Tribunnews, CNN Indonesia, Net TV, dan sederet media kredibel lainnya, turut memuat berita seputar klaim kesuksesan Livi selama sekian tahun belakangan.

"Wartawan harus selalu memeriksa informasi-informasi yang disampaikan, melakukan pengecekan ulang. Sayang, itu tidak dilakukan."

Sejauh ini kesalahan terbesar Livi dan tim humasnya, merujuk pemberitaan yang kontra terhadap kiprahnya, adalah memanipulasi fakta lewat rilis pers. Tim humas memotong keseluruhan informasi dan hanya memberitahukan yang baik-baik saja. Contoh paling kentara tentu saja klaim film Livi yang “masuk seleksi nominasi Piala Oscar”. Mengutip Joko Anwar, film absurd macam Pocong Ngesot Ngakak Kocak bisa saja masuk ke daftar awal, asal memenuhi syarat administrasi yang dipatok panitia Academy Awards.

Haryanto menilai penyajian informasi dari narasumber sesuai kepentingan publisitas positif adalah praktik wajar. Sah-sah saja bagi si pembuat rilis untuk menyebarkan informasi apapun kepada media. Tetapi wartawan lah yang memiliki tugas memeriksa fakta dalam materi rilisan pers itu, sehingga bisa mendapatkan informasi lebih akurat. Kontroversi ini berisiko menjatuhkan kepercayaan publik terhadap media yang menawarkan informasi hiburan di Tanah Air.

"Tipikal LZ kan bisa kita temui dalam bidang liputan apapun, terutama politik misalnya. Politisi sering klaim ini dan itu. Buat dia sah-sah saja untuk menyampaikan klaimnya," kata Haryanto. "Masalahnya, wartawan akan telan mentah-mentah enggak informasi itu? Apakah dia lakukan cek dan ricek atas segala informasi itu?"