Iklan
WTF

Bayi di Makassar Diminumi Kopi 1,5 Liter/Hari karena Ortu Tak Mampu Beli Susu

Berita bikin jantungan ini bisa dinetralisir dengan fakta, untungnya si bayi masih sehat dan aktif. Tapi peristiwa ini bahkan lebih seram dari lirik lagu Iwan Fals yang tak mampu beli susu.

oleh Ikhwan Hastanto
17 September 2019, 6:15am

Kolase oleh VICE. Ilustrasi bayi minum susu [kiri] via Pixabay/domain publik; cangkir kopi dari akun Flickr Marco Verch/lisensi CC 2.0

Minggir kalian yang mengaku pencinta kopi, beri jalan untuk Hadijah Haura, bayi perempuan berusia 14 bulan peminum 1,5 liter kopi tubruk setiap hari. Sayang, kebiasaannya ngopi Hadijah bukanlah karena keinginannya sendiri, melainkan karena kedua orang tuanya tidak memiliki uang untuk membelikan susu.

Cerita sedih ini terjadi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Hadijah anak pertama Sarifuddin dan Anita yang berdomisili di Desa Tonro Lima. Ketergantungannya terhadap kopi dimulai sejak ia berusia 6 bulan. Gaji maksimal Rp40 ribu sehari sebagai pasangan buruh kupas kopra memaksa kedua orang tua Hadijah memutar otak demi makanan anaknya. Sampai akhirnya, kopi tubruk dipilih sebagai pengganti susu formula.

"Mau diapa lagi, pendapatannya tidak cukup untuk membeli susu. Terpaksa setiap hari hanya diberi dot berisi kopi. Bahkan, ia tak bisa tidur kalau tidak minum kopi. Biasa merengek minta kopi sebelum tidur," kata Anita kepada Kompas. Saat besar nanti, saya yakin Hadijah tidak mengerti mengapa teman-temannya ngajakin minum kopi biar bisa begadang ngerjain tugas.

Jika ada yang perlu disyukuri dari berita yang bikin ibu-ibu se-Indonesia sport jantung ini, itu adalah fakta Hadijah terhitung balita yang aktif dan sudah bisa berjalan.

Tidak jelas apakah Hadijah pernah menerima ASI sebelum usia 6 bulan, dan apakah ASI itu dihentikan karena tidak keluar lagi atau karena orang tua harus bekerja. Yang pasti, ibu si bayi tetap mengkhawatirkan perkembangan kesehatan anaknya, tapi ia mengaku tidak punya pilihan.

Kepala Dinas Kesehatan Polewali Mandar Andi Suaib Nawawi mengatakan, pihaknya sudah meminta jajaran dinkes tingkat desa untuk menengok bayi tersebut sembari menggunakan momentum ini guna menggalakkan sosialisasi bantuan susu bagi orang miskin di puskemas pembantu (pustu).

“Untuk itu saya mengimbau para petugas kesehatan yang ada di desa agar lebih aktif lagi mendatangi pustu-pustu untuk memberikan sosialisasi kepada orang tua terkait pola asuh anak yang baik salah satunya dalam hal pemberian makanan untuk pemenuhan asupan gizi anak, termasuk melihat langsung bayi yang diberi kopi oleh kedua orang tuanya,” ujar Andi kepada Detik.

Menurut dr. Agustini Raintung, pakar kesehatan ibu dan anak dari Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia, pemberian kopi yang mengandung kafein pada bayi akan mengakibatkan gizi buruk yang berimbas pada stunting (tinggi badan anak lebih rendah dari standar ideal) dan pertumbuhan fungsi otak yang di bawah standar.

Menanggapi kasus, Agustini merasa sebetulnya Hadijah tidak perlu diberikan susu bayi apabila memang tidak bisa dibeli. Susu formula bisa diganti dengan rutin memberi makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sembari terus mengonsumsi ASI.

"Ibunya seharusnya masih bisa memproduksi ASI, semakin banyak diisap oleh bayi, semakin banyak ASI-nya. Lalu berikan MPASI dengan gizi seimbang," ujar Agustini kepada Republika. MPASI harus memuat gizi seimbang yang bisa berasal dari nasi atau ragam karbohidrat lain nya seperti sagu dan jagung, lauk-pauk yang mengandung protein hewani dan nabati, serta sayuran dan buah untuk vitamin.

Jika bayi tidak diberi ASI dan orang tua nggak mampu menggantinya dengan susu formula, sebenarnya sejak usia 6 bulan Hadijah bisa diberi makanan padat seperti sayur dan buah yang dihaluskan serta bubur encer. Jadi MPASI-nya berdiri sendiri tanpa disertai susu, gitu.

Praktisi kesehatan anak dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A. juga membuat pernyataan serupa. Ia merasa pemberian asupan sehat untuk bayi itu mudah, praktis, dan gratis, tidak boleh ada alasan "tidak punya uang."

Selain ASI itu gratis, makanan pendampingnya juga bisa disiapkan dari menu keluarga. Menurutnya, pemberian kopi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi karena kopi tergolong obat perangsang sistem saraf pusat yang mempengaruhi fungsi organ tubuh. Efeknya antara lain rasa gelisah, detak jantung lebih cepat, tekanan darah meningkat, sulit tidur, sulit konsentrasi, sakit kepala, sakit perut, sampai dehidrasi.

"Secara umum, anak apalagi bayi cenderung lebih sensitif terhadap kafein daripada orang dewasa, mereka juga lebih lama merasakan dampaknya dan lebih mudah mengalami ketergantungan terhadap kafein dalam dosis yang semakin tinggi," ujar Wiyarni kepada Detik. "Kafein juga relatif kosong akan kalori, tidak mengandung vitamin, dan mineral yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembangnya,”

Tagged:
News
indonesia
The VICE Guide to Right Now
Berita
Makassar
kesehatan
bayi
kemiskinan
Kopi
Bayi Minum Kopi
Penelantaran Anak