ClickUnbait Memerangi Judul Artikel Bombastis di Jagat Media Daring Kita
Ilustrasi oleh Dini Lestari.
media sosial

ClickUnbait Memerangi Judul Artikel Bombastis di Jagat Media Daring Kita

Judul berita pakai 'wow', 'waduh', 'nomor empat mengejutkan', hingga 'begini reaksi netizen' sudah membodohi pembaca. Berikut obrolan VICE bareng admin akun Twitter yang populer ini.
16 November 2017, 11:24am

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nyaris sehari kehilangan jejak Setya Novanto, sebelum akhirnya sang buruan terlibat kecelakaan 'dramatis' dalam perjalanan hendak mendatangi kantor penyidik antirasuah. Dalam perkembangan skandal mega korupsi e-KTP, Ketua DPR itu telah ditetapkan kembali sebagai tersangka. Melihat kelicinan politikus Golkar itu lepas dari jerat hukum, pengguna Internet dibikin gerah, hingga kembali mengangkat senjata hashtag #IndonesiaMencariPapa. Sebelum kecelakaan terjadi, tidak ada yang tahu pasti keberadaan Setya Novanto. Ada yang bilang di rumah teman kawasan Kuningan. Yang tahu persis di mana tersangka korupsi ini selama dicari banyak orang barangkali cuma Tuhan, Setya Novanto, dan... berita online dengan judul dan caption click bait-y! Contohnya macam berita ini: Setya Novanto Ditemukan Tewas Mengambang di Pantai Baron.

Sebagai bocoran, 'berita' tersebut isinya tentang bocah lelaki bernama Setya Novanto ditemukan tewas di pantai selatan Yogyakarta. Gara-gara Setya Novanto sedang jadi sosok paling dicari se-Indonesia, maka berita lama itu berhasil menggaet banyak orang. Ketika kita misuh-misuh akibat berita tersebut (yang sebetulnya jahat banget karena menunggangi tragedi kematian seorang bocah demi menarik perhatian pembaca), sekelompok orang dengan sadar berikrar memerangi tren judul menjebak.

Lanskap media digital di Indonesia semakin ramai satu dekade belakangan. Sebagian memakai strategi click bait-y (alias ngebet banget merancang judul supaya menarik orang nge-klik tautannya) demi menggenjot pageviews. Bagi media yang memainkan strategi distribusi konten seperti itu, redaksinya mulai sekarang tak bisa lagi tidur nyenyak. Muncul Akun di twitter bernama @ClickUnbait. Di jagat twitter, popularitas akun ini melesat pesat. Belum sampai sebulan lamanya. Jumlah pengikut twitternya sudah mencapai 27 ribu, melebihi jumlah pengikut Twitter VICE Indonesia yang hadir setahun lalu. Apa hubungannya? Ya namanya juga click bait. Makin enggak nyambung, makin Wow!

Kumpulan admin akun ini mendedikasikan diri membaca dan menyimpulkan beberapa berita dengan judul atau caption click bait-y agar warganet tidak perlu terjebak membaca berita yang lebay atau tidak penting. Berikut contoh cuitan mereka yang kocak abis:

Favorit pribadiku sih yang ini:

Kami curiga adminnya selow semua. Bagaimana mungkin ada orang yang tahan tiap hari baca artikel click bait-y hanya untuk menyimpulkannya dalam 280 karakter di twitter?

Akun ini sempat dianggap musuh besar media online Indonesia, terutama yang mengharap bisa mengais pageviews dari judul-judul click bait-y. Sayangnya, tidak ada data mengenai berapa kerugian media online yang diakibatkan akun kurang ajar ini. Akibat aksi @clickUnBait yang subversif, salah satu raksasa media online di Indonesia pernah memblokir mereka. Ckckckck...

“Misi ClickUnbait adalah memerangi clickbait, bukan memerangi industri media daring atau iklan digital,” ujar salah satu admin @ClickUnbait, yang menolak diungkap identitasnya agar tetap netral dan leluasa mengkritik media, kepada VICE Indonesia.

Admin ClickUnbait mengaku tidak hanya berita berjudul lebay yang mereka perangi dan disebar aibnya lewat Twitter. Terkadang mereka memberi apresiasi bagi media yang membuat konten penting dan menarik, pakai tagar #JudulYangBaik, sekaligus merekomendasikan sebuah berita karena isinya yang patut dibaca dengan #RekomendaKlik.

“Kami berharap warganet tetap mau membaca berita yang berisi dan bermanfaat. Jangan sampai karena ada ClickUnbait, warganet merasa bahwa tugas kami adalah menyimpulkan dan menjadi berkurang intensitas membacanya,” kata mimin lain ClickUnbait kepada VICE Indonesia.


Berdasarkan data statistik UNESCO, tingkat literasi Indonesia menduduki peringkat 60 dari total 61 negara. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya judul dan caption click bait-y bagi orang-orang yang malas membaca isi berita dan mengandalkan judul saja. Tak heran, dalam kondisi literasi begini banyak orang percaya hoax. Sebaliknya, bagi orang yang berkeinginan membaca isi berita, berkali-kali mereka dibuat patah hati dengan judul dan isi yang tidak sesuai. Jadi bisa disimpulkan media ikut bertanggung jawab mencetak keberadaan generasi micin, olok-olok yang sedang populer itu.

Dalam rangka mewujudkan #IndonesiaBebasMicin dan #IndonesiaBebasPatahHati, kami bicara dengan pengelola akun anonim paling subversif ini. Rupanya mereka berharap segera pensiun dengan capaian monumental: meningkatkan budaya literasi Indonesia!

Berikut cuplikan obrolan VICE bersama admin ClickUnBait.

Kapan @ClickUnbait terbentuk? Cerita dong proses terbentuknya
23 Oktober 2017 sore hari. Bisa dilihat cuitan pertama kami. Belum sebulan lah umur kami ini. Masih bayi merah sekali. Prosesnya, ada akun nganggur sejak 2013, jadi ya tinggal diganti saja.

Berapa orang yang terlibat sebagai admin? Boleh diceritakan latar profesi teman-teman apa saja?
(Jumlahnya) cukup untuk berbagi sakit kepala dan rasa kesal dari membaca berita. Sejak awal memang kami paham ini tak bisa dilakukan sendirian karena berbagai alasan, karenanya ini dilakukan secara sukarela. Masing-masing kami memiliki profesi dan keahlian yang berbeda, dari jurnalistik hingga keuangan serta memiliki minat yang berbeda pula. Yang pasti, kami memiliki kesamaan misi dan kebiasaan beredar di dunia maya.

Awalnya apa yang mendorong kalian membuat akun ClickUnbait?
Sudah sejak lama judul-judul headline berita yang menjebak itu menimbulkan kegelisahan. Tidak hanya bagi kami, tapi juga orang-orang lain di sekitar lingkungan sendiri maupun lebih luas. Umumnya mereka protes dan mengecam, tapi mereka berteriak sendiri-sendiri sehingga suaranya tenggelam. ClickUnbait mencoba mempersatukan, mewakili dan memperkuat agar suara warganet menjadi lebih lantang dan didengar oleh pengelola media daring.

Sehari ngetwit berapa kali?
Karena masing-masing memiliki tanggung jawab dan pekerjaan utama, prinsipnya adalah dibawa senang saja. Kami tidak ingin karena urusan ClickUnbait perkara utama jadi berantakan atau telantar. Satu sama lain pun saling mengingatkan bahwa ini bukan pekerjaan seperti jurnalis yang memiliki target. Ini juga supaya kami tetap waras setelah membaca banyak berita. Tidak lupa juga dipengaruhi mood, termasuk mood bosan antri dan magabut. Selain itu, beberapa follower juga merasa bosan jika ClickUnbait mencuit tiada henti dan terlalu sering.

Kenapa kalian memilih anonim?
Kalau pakai nama asli khawatir terkenal dan masuk televisi. Alasan utamanya sih sebenarnya supaya kami ini tetap netral. Dengan berbagai latar belakang yang berbeda baik profesi, suku, agama, jenis kelamin dan preferensi politik, tetap anonim menjadikan kami netral semaksimal mungkin.

@ClickUnbait berniat merambah platform media lain? Kenapa Twitter dipandang sebagai plaform paling efektif? Kan berita di Facebook lebih banyak diklik?
Ada page di Facebook dan sempat bikin beberapa post. Tapi memang lebih nyaman di twitter karena lebih ringan dan cepat, efeknya juga lebih besar di twitter. Belakangan ada page serupa yang pakai nama clickunbait, kami pikir bagus juga, orang jadi aware bahwa judul yang clickbait memang mengganggu.

Apa sih kerugian pembaca kalau keseringan baca berita berjudul menjebak?
Berita di media daring memang tersedia gratis, warganet tak perlu mengeluarkan uang untuk bisa membaca beritanya, kecuali sekelas NYTimes. Tapi yang juga harus diingat, warganet memberikan perhatian, waktu dan ruang privasinya untuk dijejali iklan dan ratusan tracker lainnya yang berlebihan. Media daring mendapat keuntungan finansial dari sana. Memancing perhatian pembaca dengan judul over-promising yang menjebak untuk artikel yang tak bermutu juga menunjukkan bahwa media daring memperlakukan pembacanya sebagai individu yang tidak cerdas, atau bahkan menganggap mereka bodoh dan gampang ditipu. Bukankah media kredibel seharusnya mengadopsi dan memberlakukan jurnalisme yang berkualitas dan punya tanggung jawab mencerdaskan pembacanya? Di luar sana, judul-judul menjebak sudah diperangi dan berkurang dengan signifikan. Di sini hal ini kenapa justru diadopsi?

Ada berapa akun berita yang @ClickUnbait pantau terus? Kenapa akun-akun itu yang dipilih?
Saat ini ClickUnbait mengikuti 60-an akun media daring. Semuanya dipilah dan dipilih karena mereka notabene media dan seharusnya cukup reliable. Ada 43ribu lebih media daring di Indonesia dan hanya 234 yang sesuai dengan syarat dalam Undang-undang pers. Baru mengikuti sejumlah itu demi menjaga kewarasan kami.

Kenapa kalian rela membaca semua berita yang judulnya click bait-y itu?
Dengan membaca keseluruhan isi artikel, kami jadi bisa tahu tingkat relevansi judul dengan isi artikel serta nilai informasi di dalamnya. Ini penting bagi kami untuk bisa menilai artikel itu layak diungkap atau tidaknya. Membaca asal tidak diambil hati sih cepat selesainya. Yang menjadikan lama biasanya justru pembagian artikel menjadi beberapa halaman itu. Repot kliknya. Untungnya para admin memang suka membaca dan dengan lebih banyak membaca seperti ini ternyata menambah khasanah juga. Sesuatu yang tak dinyana, tapi ternyata memberikan tambahan ilmu.

Menurut @ClickUnbait, penting ga portal berita bikin judul lebay gitu? Adakah cara lain biar berita tetap dibaca tanpa pasang judul WOW?
Penting bagi siapa? Bagi media tentu saja penting. Apalagi mereka harus berebut dengan 43 ribu media daring tadi, sementara waktu baca masyarakat Indonesia hanya 2-4 jam per hari, menurut Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional. Mereka harus berlomba menarik orang menyisihkan waktunya untuk klik. Apakah ada cara lain? Tentu ada. Kami percaya pada kekuatan isi berita. Konten yang baik bisa dibuat dengan judul yang menarik tapi tidak murahan dan memaksa orang untuk membaca dengan judul wow. Kadang-kadang kami memberikan #RekomendaKlik dan juga saran #JudulYangBaik kalau ada artikel yang menarik. Konon, kata pengamat, pemilik konten di media daring cuma punya waktu 3 detik untuk menarik minat warganet. Tapi memang banyak yang berlebihan itu dan tentu saja jadinya tidak bagus.

Boleh kasih tips, berita dengan judul click-bait-y macam apa yang sebaiknya enggak usah di-klik?
Sebenarnya kalau sering lihat headline, ada pola. Kami pun yakin sebagian dari warganet sudah memahaminya dengan baik. Di antara pola yang perlu dihindari adalah:
- hiperbolis bombastis terutama yang menggunakan huruf kapital pada semua hurufnya
- judul-judul misoginis yang menyangkut status relationship seseorang, serta terlalu fokus sama kualitas fisik objek artikel (umumnya ditemukan pada artikel dengan kategori hiburan)
- yang mengandung "TERUNGKAP", "HEBOH", "bikin kamu melongo!!" itu isinya biasa saja
- judul yang sengaja dipotong kalimatnya; memang menimbulkan penasaran, tapi judul yang utuh pun jika dikemas bagus tetap membuat orang penasaran
- judul sok misterius, biasanya pakai kata ganti "INI" untuk menyamarkan nama orang, benda, lokasi, pernyataan, dan sebagainya.
- judul yang mewakili opini penulis (mengerikan, menyedihkan, tragis, dst)
- berita-berita tentang komentar netizen, belakangan sumbernya adalah Kantor Berita Republik Instagram. Percaya deh, enggak ada nilai informasinya sama sekali, yang dikutip itu cuma satu sampai lima saja

Kalau kriteria artikel paling busuk menurut kalian gimana?
Kasta terendah menurut kami adalah yang judulnya:
- over-promising
- bombastis
- mengandung opini penulis
- sok misterius, kadang sengaja dipotong supaya bikin penasaran
Sementara isi artikelnya
- tidak memenuhi ekspektasi pembaca saat membaca judulnya
- little-to-no-value of information
- sengaja dibuat panjang dengan ditambahi informasi yang tidak relevan atau basi, ditambah
- menyembunyikan inti berita dengan membaginya menjadi beberapa halaman

Kami mau minta tolong nih, bisakah teman-teman ClickUnbait memilih tiga judul berita VICE yang paling ngejar klik yang pernah kami publikasikan?
Menarik, karena sejauh pengamatan kami belum ada. Coba deh bikin beberapa artikel yang clickbait-y. Tertarik #RoastMe?

Kalian pernah diblok akun raksasa media. Apakah itu menandakan ada resistensi dari media yang kalian kritik? Mungkin enggak kalian capek terus pensiun aja?
Kami berharap bisa pensiun. Setelah pernah memblokir akun ClickUnbait, Kompas belakangan terlihat memperbaiki cuitan dari berita yang dimilikinya. Ini adalah sesuatu yang bagus dan perlu dicontoh oleh media lain. Sayangnya kami tak punya datanya, tapi kami yakin cuitan yang model baru ini justru menarik lebih banyak orang untuk membuka dan membacanya.

Jika semua media berkomitmen untuk tidak lagi clickbait-y dan menciptakan sesuatu yang jauh lebih baik dari saat ini, kami siap dan rela pensiun. Tapi untuk saat ini, kami pun siap berperang demi masyarakat yang tercerahkan.