Iklan
budaya medsos

Kata Penelitian, Ratusan Orang di Berbagai Negara Tewas Gara-Gara Selfie

Studi tentang kematian yang diakibatkan oleh selfie menyarankan agar kita mulai menerapkan "larangan selfie” di tempat berbahaya."

oleh Mack Lamoureux
03 Oktober 2018, 4:41am

Seleb medsos Ryker Gamble, ujung kiri, meninggal pada 3 Juli 2018 akibat tenggelam di sungai Squamish, BC. Foto via instagram

Penelitian terbaru menemukan bahwa lebih dari 250 orang meninggal tragis karena ingin mendapatkan selfie yang bagus.

Penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Family Medicine and Primary Care (dan diterbitkan ulang oleh National Library of Medicine di AS) mendalami bagaimana kita mengancam nyawa sendiri demi foto Instagram yang bisa mendatangkan ratusan atau ribuan like. Studi ini, yang diketuai oleh Dr. Agam Bansal di India Institute of Medical Sciences, mengkaji artikel berita dari Oktober 2011 hingga November 2017 dan menemukan 259 kematian yang dilaporkan terjadi karena selfie — sebuah artikel menyebut fenomena ini sebagai ‘selficide’.

Beberapa kematian ini melibatkan ‘seleb internet’. Meskipun kami tidak mengetahui penyebab kecelakaannya, tahun ini ada tiga influencer media sosial di Kanada yang tewas setelah jatuh ke sungai dan tersapu air terjun. Mei lalu, seorang pria di India meninggal diserang beruang karena ingin selfie dengan binatang tersebut. Selain itu, ada banyak berita lainnya yang melaporkan tentang orang-orang yang terjatuh setelah selfie. Penelitian membuktikan bahwa masalah ini sangat serius dan ada banyak orang di luar sana yang tewas karena selfie tapi tidak dilaporkan seperti 259 orang tersebut.

“Kasus ini ibarat puncak gunung es,” bunyi penelitian. “Banyak kasus lainnya yang tidak dilaporkan.”

Dari 259 kematian tersebut, peneliti menguraikan lokasi kecelakaannya dan menemukan bahwa “jumlah insiden dan kematian akibat selfie terbanyak” berada di “India, Russia, Amerika Serikat, dan Pakistan.” Usia rata-ratanya cukup muda yaitu 22,94 tahun. Menurut data, risiko kematian karena selfie menurun secara signifikan pada saat seseorang mencapai usia 30. Lebih dari tiga perempat orang yang tewas karena selfie adalah laki-laki.

50 persen korban jiwa yang dilaporkan dalam penelitian berasal dari India. Penelitian menjelaskan bahwa India memiliki populasi yang relatif muda dan ada banyak orang dari kelompok usia tersebut yang rentan tewas akibat selfie. Meskipun begitu, peneliti juga menulis kemungkinan faktor lain.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa angka insiden kematiannya hampir dua kali lipat di India,” tulis peneliti. “Pola unik ini dapat dikaitkan dengan alasan bahwa tren wefie lebih umum di India daripada di negara lain.”

Tiga penyebab kematian teratas adalah tenggelam, tertabrak kendaraan, atau terjatuh. Sebagian besar kematian yang disebabkan oleh tabrakan terjadi karena orang ingin selfie di depan kereta yang sedang melaju cepat. Sementara itu, Amerika Serikat memimpin negara yang penyebab kematian saat selfie-nya berkaitan dengan senjata api. Hal ini sangat tidak mengherankan.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan untuk mengatasi situasi ini? Bagaimana caranya kita mencegah anak muda terjatuh ke mulut berapi atau jurang, misalnya? Studi menyarankan untuk memberi larangan selfie yang ketat di tempat-tempat berbahaya bagi generasi millennial yang bandel.

“Selfie sebenarnya tidak berbahaya. Sayangnya manusia suka membahayakan dirinya sendiri demi selfie. Mereka perlu dididik soal perilaku dan tempat yang berbahaya untuk foto-foto,” bunyi penelitian. Tempat wisata, seperti laut, sungai, pantai, puncak gunung, atau bangunan tinggi, “harus segera menerapkan” kawasan tanpa selfie untuk mengurangi insiden kematian yang berhubungan dengan selfie.”

Jangan lupa follow Mack Lamoureux di Twitter .