Bela Diri

Simak Foto-Foto 'Lethal Ladies', Kompetisi Kickboxing Khusus Perempuan di Selandia Baru

Perempuan dan laki-laki tak ada bedanya. Di atas ring kickboxing, mereka sama-sama buas dan mematikan

oleh Frances Morton; foto oleh Michael Duignan
21 September 2018, 7:21am

Di malam pertarungan kickboxing, minimal ada satu atau dua pertandingan yang mempertemukan dua petarung perempuan. Lethal Ladies adalah pengecualian. Semua yang turut bertarung adalah perempuan. Beberapa waktu lalu, pada sebuah sore yang menegangkan di Auckland, 28 petarung perempuan mengukuhkan niatnya untuk masuk ring dan bersiap untuk menendang serta menghajar lawannya sampai salah satunya keluar sebagai kampiun sejati.

Awak VICE New Zealand berada di Auckland guna mengabadikan intensitas dan kepiawaian bertarung ke-28 perempuan tersebut untuk film dokumenter berjudul Lethal Ladies, yang bisa kalian tonton di sini.

Michelle “Pressure” Preston, Juara Dunia Kickboxing empat kali dan pemegang sejumlah gelar tinju nasional Selandia Baru, mendirikan Lethal Ladies pada 2013 guna menyediakan sarana uji kemampuan bagi banyak perempuan New Zealand yang waktu itu mulai tertarik mendalami Muay Thai dan Tinju.

Peran Lethal Ladies sebenarnya sederhana sekali: menyediakan lawan yang sepadan—barang langka di gym yang umumnya punya perbandingan anggota perempuan dan laki-laki 1:20. “Kami ingin membuka jalan dan memberikan kesempatan bagi para petarung perempuan. Harapannya mereka tak harus perlu kesusahan menemukan lawan seperti kami dulu,” kata Preston.

Kelly Broerse

Sabuk besar, terbuat dari emas dan berkilau yang diperebutkan malam itu adalah WKBF (World Kickboxing Federation) New Zealand Featherweight Full Thai Rules 4 Woman Title. Selain mendapatkan title itu, pemenang laga malam itu berkesempatan menjajal petarung dari luar negeri dalam salah satu arena Kickboxing paling bergengsi di Selandia Baru, King in the Ring.

Malam itu, petarung yang dijagokan untuk jadi kampiun, Baby “The Pitbull” Nansen, tak turun bertarung karena tengah dalam masa istirahat pasca partai perebutan sabuk tinju di New York. Petarung lainnya Quinita Hati datang jauh-jauh dari kota Moerewa, kawasan Northland.

Hati membawa serta 60 pendukungnya dari gym Toa Ngātihine yang memborong meja VIP malam itu. Sayang, Hati harus mengakui kehebatan Kelly Broerse. Partai final malam itu mempertemukan Broerse dan Wendy Talbot yang mengandaskan Fiona Sim di laga pertamanya.

Wendy Talbot

“Semua petarung di Selandia Baru mendambakan tampil di King in the Ring,” kata Talbot. “Pokoknya itu sudah jadi incaran semua orang. Sekarang, perempuan punya kesempatan tampil di sana. Jelas sebuah kesempatan yang tak boleh dilewatkan

Simak foto-foto yang kami di bawah ini yang menggambarkan intensitas malam itu.

Quinita Hati
Baby "The Pitbull" Nansen

Artikel ini pertama kali tayang di VICE NZ