Musik

Syukurlah, Musik Rock Akhirnya Mati Juga

Percayalah, ini nasib terbaik yang bisa dimiliki rock.

oleh Dan Ozzi; Diterjemahkan oleh Abdul Manan Rasudi
01 Juli 2018, 3:48am

screenshot via YouTube

Frase “rock sudah mati” bikin penyuka musik kebakaran jenggot. Tak percaya? Kalian mencoba “kesaktian” frase ini dengan cara seperti ini: dakilah pegunungan Himalaya. Begitu sampai di puncaknya—kalau kuat sih di puncak Mount Everest, ucapakan frase ini. Tak usah kencang-kencang, kamu cukup berbisik lirih saja. Niscaya, beberapa jurus kemudian, akan muncul 30 penyuka musik berkaos CBGB yang melabrak kamu. Dijamin kamu babak belur lantaran dihujani bogem mentah mereka.

Baiklah ilustrasi ini mungkin kelewat lebay. Yang jelas, sekali saja frase ini muncul di jagat internet, puluhan atau mungkin ribuan kritikus musik akan dengan penuh semangat menyangkalnya, seakan-akan membuktikan bahwa musik rock masih segar bugar adalah bab pertama dari kuliah panjang berjudul Jurnalisme Rock.

Kebanyakan dari begitu banyak esai yang intinya cuma bilang “Rock belum mati”
ketebak sekali isinya. Biasanya, artikel-artikel ini ditulis oleh penulis musik kolot—itu loh mereka yang tak rela mengakui kalau musik rock berbasis gitar itu sudah lewat masanya—yang awalnya merasa sudah begitu asing dengan budaya anak muda masa kini, sebelum ujung-ujungnya mencetuskan bahwa yang salah bukan mereka, tapi (selera) generasi muda masa kini.

Kali lain, esai-esai pembela musik rock dibuat oleh penulis yang lebih melek dengan budaya pop kekinian. Jenis penulis macam ini berargumen bahwa rock bukan menemui ajalnya, genre ini cuma berubah bentuk guna merangkul musisi perempuan dan rocker non-kulit putih sembari mengagung-agungkan band atau musisi yang meneruskan nyala api rock. Kendati argumen mereka ada benarnya—dan itu bagus, tapi jujur saja, bukan itu yang dimaksud orang ketika ngomong “rock sudah mati.”

Frase berarti bahwa dari sudut pandang industri musik, posisi rock sudah tergeser oleh musik pop, hip-hop dan EDM. dibandingkan dengan tiga genre ini, rock sudah tak terlalu menguntungkan dan populer. Nah, dengan kacamata ini, rock memang sudah mati.

Saya sepenuhnya sadar bahwa ini bukan fakta yang mudah dicerna, apalagi oleh mereka yang playlist cuma mulek di lagu-lagu belaka. Bagaimana kita bisa dengan tega bilang rock sudah tamat sementara tiket konser band-band rock kesayangan kita selalu saja ludes atau album rock yang katanya groundbreaking abis dinobatkan sebagai Best New Music oleh situs Pitchfork? Di permukaan, masa depan rock memang gilang gemilang. Cuma camkan, semua itu ilusi belaka.

Nubuat tentang matinya rock sudah lama muncul. Beberapa tahun ini, tangga lagu rock Billboard didominasi musisi pop yang kadang-kadang mengenakan gitar bak aksesoris fesyen (contohnya nih, saat naskah ini ditulis, tinggal posisi teratas tangga lagu ini diduduki oleh Imagine Dragon dengan tiga judul lagu yang berbeda). Pengisi chart lainnya juga kurang menggambarkan masa depan rock yang terang benderang: band-band rock yang sudah lewat masanya seperti Arctic Monkeys dan Godsmack serta album-album rock tua yang kembali relevan—atau dirilis ulang—karena penciptanya baru saja tutup usia. Oh ya satu lagi, entahlah apakah indikasi yang buruk atau sebaliknya bagi keselamatan genre bernama rock, soundtrack The Guardians of the Galaxy 2 mendominasi tangga lagu rock Billboard selama 22 minggu, bahkan sempat bertengger di posisi pertama, tahun lalu.

Seiring melempemnya performa rock, Hip-hop malah sedang jaya-jayanya hingga rapper macam Kanye West, yang bikin geger gara-gara akrab dengan tokoh-tokoh sayap kanan Amerika Serikat yang tolol, bisa bikin lagu cupu bin goblok macam “Ye vs. The People.” Hebatnya, lagu macam ini diputar lebih dari 7 juta kali layanan streaming lagu dan nyaris masuk Billboard Hot 100 chart. Adapun Ye, album terbaru Kanye yeng memuat lagu itu nangkring di nangkring di posisi teratas Billboard 200. Pendeknya, saking jayanya, hip-hop tak akan kehilangan pendengarnya walaupun musisi topnya bikin lagu butut yang senofobik sekalipun.

Rock, sebaliknya, malah dianggap makin tak relevan di industri musik. Salah satu indikasinya adalah Grammy tak lagi repot-repot menayangkan penganugerahan kategori rock tahunan. Ini jelas memancing kemarahan dari musisi rock. Avenged Sevenfold—yang saya duga masuk nominasi karena kesalahan pengetikan saja—menolak datang. (Grammy Lagu Rock Terbaik tahun ini dibawa pulang oleh Foo Fighters. Ini hasil yang ketebak banget karena dari dulu Grammy semata-mata adalah anugerah musik bagi band yang sudah wara-wiri selama dua dekade.)

Terlepas dari angka penjualan dan raihan streaming musik rock, kematian musik rock sudah begitu kentara di festival-festival musik beken. Entahlah, saya tak pernah tahu seberapa sering penulis yang menolak mengakui kematian musik rock bergaul dengan anak muda masa kini. Tapi, kalau saya jadi mereka, saya akan sering-sering bergaul dengan mereka guna menyaksikan betapa sekaratnya rock.

Minggu lalu, saya menyempatkan diri berbaur anak muda masa kini di Governors Ball, sebuah festival musik semua umur yang digelar di luar ruangan dan dihadiri oleh musisi dari beragam genre. Dan ketika anak-anak muda ini disuguhkan dengan sejumlah pilihan genre, kalian tahu apa yang mereka pilih? Ya Benar! Mereka memilih yang BUKAN ROCK. Japandroids dan The Menzingers—dua band yang biasa manggung di klub kecil atau sedang—main manggung di depan lapangan yang setengahnya di sisi penonton.

Lalu ke mana larinya anak muda yang datang ke acara ini? Oh mereka ngeloyor nonton Hasley dan Post Malone. Bahkan, yang lebih menyedihkan, band sekelas The Gaslight Anthem, band kesayangan penyuka musik rock yang berkumpul lagi setelah nyaris pensiun dan didaulat sebagai headliner pertunjukkan hari Sabtu, hanya mendapati lapangan yang lowong di depan panggung mereka. Sementara itu, berjarak beberapa meter dari panggung The Gaslight Anthem, pertunjukkan Travis Scott sesak dipenuhi penonton remaja. Saking ramainya, sebelum pertunjukkan dimulai, seorang perwakilan panitia sampai naik ke panggung, menginstruksikan penonton untuk mundur agar siapapun yang berdiri di depan panggung tak kehabisan nafas.

Sebagai seorang fan The Gaslight Anthem, kendati pahit, saya harus mengakui band kesayangan saya kalah pamor malam itu. Sementara panggung The Gaslight Anthem hanya dihiasi banner sederhana, set panggung Travis mirip seperti neon-neon di kota Tokyo yang kita lihat sambil teler—sebuah panggung pesta multi media yang dilengkapi layar TV besar yang mengkilap, fog machine dan laser. Di mata generasi yang kenyang bermain filter Snapchat dan fasih memamerkan trick vape, panggung Travis jelas pilihan yang labih menggiurkan.

Bahkan Galantis, yang beraksi beberapa jam sebelum Gaslight di panggung sama, menarik perhatian lumayan banyak pengunjung festival. Padahal, kalau dipikir-pikir, Galantis itu versi EDM dari Hoobastank. Yang disuguhkan kolekif ini standar banget: dua pria identik—meski enggak bersaudara lagi kembar—bermodal mikrofon yang berfungsi dengan baik yang mengajak massa di depannya bergoyang sementara flamethrower api setinggi 3,6 meter menyeruak dari dasar panggung. Saya enggak peduli apa genre musik yang kalian dengarkan atau setua apa kalian, di mana-mana yang namanya flamethrower itu keren gila!

Namun, lepas dari set panggungnya yang memanjakan, mudah sekali menemukan alasan kenapa Galantis begitu memikat anak muda masa kini. Musik EDM yang mereka mainkan kedengaran sangat familiar—bahkan kalau kalian baru mendengarnya. Musik Galantis mirip seperti musik pengiring iklan produk keren yang menyasar kaum muda.

Beberapa tahun terakhir, konsumen remaja mutlak jadi sasaran utama iklan produk-produk keren. Iklan muncul di mana-mana dan musik pop adalah salah satu bagian di dalamnya. Di saat bersamaan, product placement menjadi bagian yang terpisahkan dari video musik modern. Miley Cyrus, kelihatan memulas bibirnya dengan EOS lip balm dalam video “We Can’t Stop,” Migos memamerkan dan bernyanyi tentang 19 brand, dua di antaranya Chanel dan Segway di “Bad and Boujee.”

Lalu, jangan lupa, semua musisi seakan berlomba-lomba mengenakan headphone Beats by Dre dalam video musik mereka. Malah, salah satu video klip yang paling menuai pujian tahun ini—kolaborasi trippy antara Spike Jonze dan FKA twigs—sejatinya adalah iklan speaker HomePod sepanjang empat menit. Itu dia pangkal masalahnya, perusahaan-perusahan besar ini begitu agresif memasarkan produknya sampai-sampai videoklip-cum-iklan brand-band keren dan gaya hidup yang konon otomatis menyertainya seperti tak bisa dihindarkan. Akibatnya, kualitas musik pop saat ini melorot jauh.

Di sisi lain, ini juga menjelaskan kenapa remaja masa kini lebih memilih mendengarkan musik yang kedengaran seperti iklan. Mereka mendambakan musik-musik yang mereka akrabi. Mereka cuma ingin musik yang enak untuk berjoget. Pendeknya, remaja masa kini lebih demen ketimbang band yang lebih niat macam The Gaslight Anthem.

Masa depan rock mungkin suram, tapi percayalah itulah nasib terbaik yang bisa dimiliki genre ini: rock dari awal memang lebih nendang ketika disajikan sebagai genre yang dipandang sebelah mata. Malah, jujur saja, tiap kali rock dilirik oleh penyuka musik mainstream, hasil akhirnya selalu amburadul.

Mungkin sebagian dari kalian akan membantah pertanyataan barusan. Kalian pasti mikir “Loh rock kan pernah berjaya di kancah mainstream saat grunge meledak?” Baiklah, argumen kalian sebenarnya tak salah-salah amat. Saat itu, Nirvana, The Smashing Pumpkins dan Pearl Jam mampu mengibarkan panji-panji rock di arus musik mainstream. Cuma masalahnya, sementara keempat band ini terus hidup dalam kesadaran kita mungkin sampai nanti kiamat terjadi, ratusan band-band rock lainnya terlupakan begitu saja—atau, kalau masih diingat, kelasnya sekadar band-band one-hit wonder.

Contohhnya, untuk setiap band semacam Greenday yang mampu mencetak album super laris macam Dookie, ada ratusan atau bahkan ribuan band punk macam Jawbreaker yang dilirik label mainstream, bikin album sebagus Dear You untuk sekedar dilepeh lagi dan dilupakan pecinta musik mainstream. Di situlah ironinya. Kita selalu mengenang ledakan grunge sebagai momen yang mengentaskan band-band rock dari kancah underground. Sayangnya, kita lupa berapa banyak band-band yang gugur dan berakhir jadi catatan kaki hikayah rock global.

Hal lain yang kerap disepelekan saat mengenang kejayaan rock di dekade ‘90an adalah buntutnya yang memalukan. Saban kali seorang musisi atau sebuah band inovatif mendefinisikan ulang sound baru rock, formula baru itu akan dijiplak berulang-ulang, kadang selama satu dekade lamanya, hingga yang tersisa tinggal band-band KW yang menggelikan dan tak lagi membawa semangat awal pembaruan rock yang mencetuskan suatu tren. Untuk kasus ini, kita punya contoh bagus yang tak pernah lekang kita bicarakan—atau bercandai. Pada 1991, album debut Pearl Jam, Ten, mengawali gelombang baru scruff-rock. Kini, nyaris 30 tahun berlalu, kita masih saja disuguhi Chad Kroeger yang nyanyi (baca: ngeden) bak Eddie Vedder KW 5 di band paling buruk dari Kanada, Nickelback. Ini hal yang jamak terjadi di semua genre musik. Di metal, Nickelbacknya bernama Winger. Di pop punk, SR-71 dan Busted. Sementara di hardocre, semua band yang dibentuk setelah Minor Threat adalah band KW.

Lalu, apa yang akan terjadi pada rock di masa depan? Yang jelas, kebangkitan komersil rock sepertinya nyaris tak mungkin terjadi. Cuma setipis apapun itu, masih ada kemungkinan itu terjadi. Buktinya, The Strokes dan band-band sejenis pernah tiba-tiba sukses di awal tahun 2000an tanpa melakukan inovasi apapun. Mungkin, yang dibutuhkan rock saat ini adalah musisi rock wunderkind yang penuh karisme—semacam Joe Strummer dan Joan Jett pada masanya. Merekalah yang idealnya akan membuka jalan bagi band-band baru. Akan tetapi, mengingat band-band rock par excellence masa kini paling mentok jadi selebritas papan tengah, mungkin sosok yang kita harapkan sudah lahir. Nahas, dia lahir di era yang salah dan gaungnya biasa saja.

Barangkali juga, rock kelak akan menggiurkan lagi setelah hip-hop dan EDM mencapai titik jenuhnya dan melahirkan Winger, SR-71 dan Nickelbacknya sendiri. Atau rock mungkin tak kembali kembali muncul ke permukaan. Rock sebaliknya akan jadi makin kecil seteleh setelah rockstar dinosaurus macam Metallica dan U2 menua dan memutuskan mundur dari panggung. Genre ini mungkin akan jadi genre pinggiran yang sesekali mendapatkan penghormatan dari musisi populer, mirip seperti saat rapper yang menggali sample dari progressive rock atau Jack White yang sok-sok main delta blues.

Terlepas dari apapun yang menimpa rock di masa datang, rock berada di posisi yang paling ideal saat ini, dengan begitu banyak musisi/band keren dan genre-genre pecahannya yang kelewat banyak untuk ditilik di sini. Meski rock mulai tergusur di tangga teratas persaingan musik global, di papan tengah rock tumbuh subur. Lagipula, makin tersingkir dan terbenam, rock justru akan menarik perhatian nerd dan orang aneh—golongan orang yang ingin membuktikan diri tanpa harus mendapatkan apa-apa. Pun, semakin rock tak menjanjikan sebagai sebuah karir, genre ini akan memunculkan musisi visionaris yang mempermak wajah rock atas nama seni alih-alih uang dan ketenaran.

Ramalan saya kelewat optimis? Pastinya sebab pilihannya lainnya adalah menyaksikan gitar-gitar musisi rock melantunkan requiem bagi rock itu sendiri.

Dan Ozzi bisa diajak ngobrol di Twitter.