Iklan
Percobaan Ilmiah

Ilmuwan Membius dan Pasang Headphone ke Aligator Demi Memahami Pendengaran Dinosaurus

Percobaan yang melibatkan pembiusan 40 aligator ini mengungkapkan cara dinosaurus menemukan suara di lingkungan mereka.

oleh Becky Ferreira
20 Maret 2019, 6:33am

Aligator mendengar musik pakai earphone. Foto ilustrasi: Shutterstock 

Para ilmuwan memberikan ketamin kepada aligator dan membuat hewan reptil ini mendengarkan suara pakai earbud untuk memahami kemampuan pendengaran dinosaurus.

Eksperimennya, yang dijelaskan dalam studi yang diterbitkan Senin lalu di The Journal of Neuroscience, dirancang untuk mengamati “peta saraf”—jalur otak yang membawa informasi tentang gelombang suara—yang dihasilkan aligator untuk menemukan suara di habitat mereka. Peta ini sangat penting bagi banyak vertebrata, dan dikembangkan dalam hewan predator malam seperti serak jawa karena mereka amat mengandalkan suara untuk menemukan mangsanya.

Penelitian ini berfokus pada konsep interaural time difference (ITD), yang merupakan jarak waktu kedatangan suara pada masing-masing telinga. Walaupun jeda waktunya biasanya hanya beberapa mikrodetik saja, ITD berperan penting dalam membantu hewan mendeteksi asal suara.

Catherine Carr selaku ahli biologi dari Universitas Maryland dan ilmuwan saraf Lutz Kettler di Technische Universität München mempelajari selama bertahun-tahun bagaimana proses ITD membantu hewan seperti burung dan reptil dalam menemukan suara. Burung, aligator dan dinosaurus berasal dari reptil archosaurus—garis keturunan yang berkembang pada Periode Trias—sehingga studi baru ini memberikan petunjuk tentang indera pendengaran dinosaurus dengan mempelajari sepupu mereka.

"Burung adalah dinosaurus, sementara aligator adalah kerabat terdekat mereka," kata Carr kepada Motherboard melalui email. "Ciri-ciri yang dimiliki kedua kelompok kemungkinan ditemukan pada dinosaurus yang telah punah. Itulah sebabnya kami berasumsi dinosaurus dapat melokalisasi suara."

Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa burung mengembangkan proses saraf lokalisasi suara yang berbeda dari mamalia. Sedangkan dalam penelitian ini, Carr dan Kettler ingin menetapkan aligator Amerika menempati spektrum ITD yang mana.

Tim ilmuwan membius 40 aligator Amerika dari Rockefeller Wildlife Refuge di Louisiana dengan ketamin dan dexmedetomidine. Selama mereka dibius, ilmuwan memasang earbud Yuin PK2 yang dilengkapi tanduk ke earlid mereka. Elektroda ditaruh di atas kepala aligator untuk merekam respons saraf pendengaran terhadap bebunyian dan suara ceklekan yang terdengar dari headphone.

"Kami menggunakan bebunyian dan suara yang aligator bisa dengarkan dengan baik (sekitar 200-2000 Hz)," ujar Carr. "Kami memilih bunyi dan suara yang memberikan rangsangan naturalistik."

Percobaan ini menunjukkan bahwa aligator menggunakan sistem pemetaan saraf yang mirip dengan burung ketika mendeteksi suara, meskipun ada perbedaan besar dalam anatomi otak mereka.

"Satu hal penting yang kami pelajari dari aligator yaitu ukuran kepala mereka tak memengaruhi cara kerja otak dalam menentukan arah suara," tulis Kettler dalam surelnya kepada Motherboard.

Itu berarti dinosaurus sebesar Tyrannosaurus rex atau T-Rex bisa saja menggunakan mekanisme pendengaran yang sama seperti burung dan aligator ketika mencari asal suara. Ilmuwan memang tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memahami cara kerja otak dinosaurus. Setidaknya kerabat hewan-hewan yang masih hidup dapat memberikan wawasan menarik tentang masa lalu.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:
headphones
Tyrannosaurus Rex
Dinosaurus
penelitian
pendengaran
neural
Binatang
suara
neuroscientist
bunyi