Iklan
Musik Baru

Terapi Urine Yakin Grindcore Cocok Didengar Lewat Instagram

Kalian bilang mereka band grindcore dagelan? Ah kami menyebutnya karya cerdas. Simak wawancara VICE bersama sosok gitaris di balik Terapi Urine.

oleh Marcel Thee
03 Agustus 2017, 9:03am

Foto dari arsip pribadi Terapi Urine.

Jika genre grindcore kocak betulan ada, maka Terapi Urine adalah rajanya. Dentuman blast-blast grindcore mereka oplos dengan lirik-lirik seperti "Lihat kebunku/ Penuh dengan hantu/ Ada yang loncat/ Dan ada yang terbang" (di track 'Tacvlt'). Perhatikan juga bagaimana Terapi Urine sebetulnya peduli pada isu kekinian, "Keluar Negeri/ Foto selfie/ Ambil cuti/ Instastory" ('Eksistensi'); atau simak yang ini: "Harta yang paling berharga adalah Metallica/ Istana yang paling indah adalah Sepultura" ('Thrash').

Brilian!

Rilisan terbaru grup asal Bandung ini adalah satu lagi koleksi lagu-lagu seram-via-konyol yang membuat metalhead merangsek moshpit sambil ketawa. Berbeda dengan mahakarya-mahakarya sebelumnya seperti "Om Telolet Om" dan "Kehiduvhan Yang Twewew Ini", minialbum (EP) terbaru Terapi Urine disebut-sebut sebagai "album Instagram".

EP eksperimental ini diberi judul "Petenteng EP". Saya berbincang bersama gitaris Andry "Joe" Novaliano tentang konsep rilisan terbaru ini, mencari tahu apa artinya menjadi sebuah band grindcore tapi melulu dianggap melawak di tanah air tercinta.

Dry, coba dijelaskan apa sebenarnya "album Instagram" yang kalian buat??
Album Instagram adalah kumpulan lagu-lagu yang dirilis di Instagram,se-simpel itu, (tertawa). Idenya kurang ingat persis kejadiannya gimana, waktu itu kita lagi kumpul-kumpul lalu Qoi (Basis Terapi Urine) nyeletuk, "Eh bikin album di instagram yuk. Kan lagu kita di bawah semenit semua, jadi bisa pas." Seperti wangsit jatuh dari langit dan seketika semuanya langsung mengamininya. Kami pikir mungkin ini jawaban atau tantangan tersendiri untuk Terapi Urine dalam proses kreatifnya—kalau mau disebut kreatif—atau hanya sekedar iseng belaka, karena sejauh pengetahuan kami belum pernah ada yang membuatnya.

Ada rencana merilis album ini di luar format postingan Instagram?
Sejauh ini kami tidak tahu impact-nya akan sampai mana dan akan bagaimana, dan sejauh ini juga lagu-lagu EP "Petenteng" ini hanya kami muat di Instagram saja. Karena simple, masuk ke akun instagramnya,klik lagu yang dipilih,dan tinggal didengarkan. Mengesampingkan hal teknis lain yang mungkin akan ada kompresi sekian dB pada kualitas audionya, tapi kami pikir itu gak akan jadi soal.

Sebenarnya durasi lagu yang pendek cukup sering ditemukan di genre Grindcore. Apa yang membedakan lagu-lagu ini dari Grindcore pada umumnya, dan lagu-lagu dari katalog Terapi Urine sendiri?
Sebenernya gak ada yang membedakan dengan lagu di genre grindcore pada umumnya. Lagian kalo dibandingin (band grindcore Amerika) Anal Trump misalnya, album penuh dengan 30 lagu tapi dengan durasi total kurang lebih 3 menit aja, kita mah ga ada apa-apanya. Yang membedakan mungkin dari ego masing-masing personil dalam pengerjaan EP ini. Masing-masing punya ide musikal dan lirikal, jadi pas dikumpulin jadi satu jadinya aneh banget.

Mungkin ada hubungan dengan referensi musikal anggota Terapi Urine yang udah semakin beda-beda ya?
Bisa jadi referensi masing-masing personel juga berubah. Jadi ada unsur-unsur lain.
Yang perlu jadi catatan, frekuensi berkumpul satu tim lengkap sangat jarang terjadi di Terapi Urine, mengingat kesemua personil tinggal di tiga kota yang berbeda: Jakarta, Bogor, Bandung. Entah eksperimen masing-masing personil yang juga jadi salah satu faktor utama evolusi musik Terapi Urine. Begitu juga dengan hal teknis seperti proses rekaman dan mixing. Album studio penuh yang dikerjakan satu tim penuh itu "Kehiduvan Yang Vhana Ini" (2011), selebihnya dikerjakan nyicil di home studio, mixing dan mastering sendiri modal tutorial dari YouTube. Yang penting ada kegiatan dan hiburan,setidaknya buat kami sendiri. Grindcore menurut kami itu seperti Jazz. Bebas improvisasi, gak melulu tradisional.

Untuk rilisan ini, seberapa banyak unsur humor khas kalian akan bermunculan?
Humor kan sifatnya relatif, bisa lucu buat kami, bisa juga tidak menurut orang lain. Jadi materi di EP ini udah pasti belum tentu jelas unsur humornya. Musik dan lirik dikerjakan secara spontan waktu rekaman. Mungkin kelucuan waktu itu menurut kami sangat menghibur, setidaknya buat kami sendiri, tapi entah kelucuan atau humor-humor gak jelas itu terekam (atau tidak) dalam rekaman ini. Tiada yang tau, kesemuanya itu hanyalah misteri.

Apa ada pendekatan komedi baru di EP ini?
Enggak ada pendekatan humor yang baru,kesemuanya hanya celetukan instan atau humor-humor receh seperti lagu lama, atau terjemahan bahasa Inggris ke bahasa indonesia mentah-mentah.

Kamu punya momen-momen favorit pribadi di album ini?
Momen favorit kami adalah hampir keseluruhan proses pengerjaan EP ini. Dikerjakan minggu lalu 8-9 juli 2017, bertempat di rumahnya Aris (gitaris) di kawasan Ciawi. Suasana rumah,penuh kehangatan dan rileks banget tanpa ada beban. Ya mirip-mirip suasana pas Foo Fighters rekaman di rumahnya Dave Grohl di film Back and Forth lah, hampir persis kayak gitu. Bedanya gak ada kolam renang sama peralatan canggih dan (produser musik Foo Fighters, Nirvana, dll) Butch Vig. Ditemani udara sejuk khas pegunungan, makanan rumahan, sambal uleg, kopi, rokok, ngerepotin istrinya Aris (gitaris-bassis) sambil bercanda sesekali dengan buah hati kecilnya Aris yang lucu.

Tapi kabarnya Fikry (drummer) gak bisa hadir untuk proses rekaman EP ini?
Iya, yang disayangkan cuma keabsenan Fikry karena dia satu-satunya yang tinggal di Bandung,sehingga part-nya—seperti biasa—kita ganti dengan midi drum. Disamping itu,kita didukung penuh dari jauh. Gak ketinggalan sama kehadiran Pati (dari band The Kuda) yang kita todong untuk datang mengisi satu lagu,cuma karena kebetulan jarak rumahnya Pati dan Aris sangat dekat. Gak pake banyak alesan langsung ngacir ke rumahnya Aris, dan gak sampai 15 menit buat bikin lirik lagu yang bakalan diisinya. Semua mengalir aja.

Sebenarnya, seberapa jauh kalian melihat Terapi Urine sebagai unit musikal serius atau memang proyek komedi?
Sebenarnya kita tidak melihat Terapi Urine seperti dua hal yang disebutkan tadi, proyek komedi atau musikal. Semua personil Terapi Urine sadar betul bahwa projek Terapi Urine ini hanya wahana berkumpul, haha-hihi. Jauh dari bayangan kami—terutama gue—kalau Terapi Urine ini akan menjadi sesuatu, terlepas memaknai sesuatunya itu sebagai apa. 4/5 dari personil sudah memiliki pasangan,keluarga dan anak. Dan pasangan mereka pun sangat paham kalau ini cuma jadi ajang "buang keringet'" suami-suami atau pasangannya aja. Kalo gak gitu pasangannya bisa gila.

Jadi kalau dipaksa, Terapi Urine kamu definisikan sebagai apa?
Terapi Urine adalah kumpulan musisi gagal atau yang harapannya pada impian musisi jaya raya itu pupus (tertawa). Jadi kalau ditanya seberapa jauh kita melihat (masa depan) Terapi Urine sendiri, jawabannya adalah,yang penting hari ini happy. Udah gitu aja.

Apakah kalian menertawakan media sosial seperti FB dan Instagram? Atau apakah kalian menertawakan pengguna media sosial bersama orang-orang dibalik media sosial?
(Tertawa) Udah pasti kita ketawain semua lah. User medsos kita itu kan unik-unik, bisa jadi hiburan, lucu-lucu, dan antik. Kayak perpecahan mulai dari kolom komentar, ini lah itu lah,semuanya itu lucu. Kayak berebut panggung, ribet. Yang informatif dan mencerahkan ada, yang kusut juga ada, yang ribet banyak. Entah syok atau gagap gempita sama kemajuan teknologi. Termasuk kami sendiri, masing-masing mungkin tidak luput dari medsos-medsosan ini, ya kita juga mentertawakan diri sendiri. Ya gapapa sih, toh semua user kan beda-beda,tapi tubrukannya itu ruwet. Jadi pengen joged.

Dari mana sih konsep-konsep album kalian biasanya datang?
Konsep bisa datang kapan aja dan di mana aja. Klise banget ya (tertawa).

Sejauh ini ada konsep album Terapi Urine yang menjadi favorit pribadimu gak?
Kalau dibilang favorit, ya semuanya favorit, karena pengalamannya berbeda-beda dan masanya berbeda-beda juga. Prosesnya apalagi, beda semua. Mungkin ya itu, konsisten dalam ketidakkonsistenan.

Album Terapi Urine yang masih jadi favorit kebanyakan fans kalian kayaknya masih "Kehiduvan Yang Vhana Ini".
Waktu album "Kehiduvan Yang Vhana Ini", semua intens ketemu, rajin latihan di studio, tinggal di satu kota, jokes-jokes tongkrongan waktu itu mungkin beda, tapi buat kami tetap 'ngena'. EP "Kehiduvan Yang Twewew Ini" juga udah beda kota semua, tapi komunikasi dan lawakan khas groupchat tetap intens, tongkrongan udah mulai beda-beda, udah mulai males latihan, tapi kalo giliran tur pada semangat. EP "Petenteng" semua udah mulai merasakan gejala awal penuaan, bayangan akan tanggung jawab besar yang dipikul sebagai kepala keluarga dan pemimpin rumah tangga, namun enggan berhenti berbuat tolol sama kawan-kawan terdekat, proses pengerjaan yang rileks tanpa beban besok udah masuk kerja atau besok mau makan apa. Ya gitu deh, dibawa asoy.

Bagi kalian, apa peran humor dalam musik?
Kalau buat kami,humor tuh seperti pemaksaan untuk bersikap jujur. Dan biasanya perbuatan yang jauh dari jujur itu dekat dengan dosa. Kalau dekat dengan dosa maka akan jauh dari berkah Yang Maha Kuasa. Kalau jauh dari berkah Yang Maha Kuasa, maka kita akan kekal di neraka, iya—hey it rhymes!

Menurutmu, apakah kancah musik rock kontemporer kekurangan humor?
Humor tuh terpulang lagi ke kebutuhan. Kalo gak perlu-perlu banget ya gak usah lah,kalo gak lucu-lucu amat sih ya gak usah lah. Kalau kita sih seringnya malah maksa. Kekurangan humor dalam skena musik rock? Lho, emang iya ya? Kita gak tau sama sekali soal itu. Kalau emang dirasa kurang ya tambahin dong, kalo kebanyakan yaa kurang-kurangi lah. Yang pas-pas aja. Pusing. Dibawa selooow aje.