Banyak Orang Penasaran Pengin Wisata ke Pulau Sentinel, Lokasi Penginjil AS Dibunuh Suku Lokal

"Ini tempat yang indah buat dikunjungi sekeluarga… kalau kalian pengin dimasak dan dimakan suku barbar," begitu ulasan ngawur dan jahat di Google.

|
Nov 27 2018, 6:57pagi

Foto Pulau Sentinel via Shutterstock

 

Pulau Sentinel Utara di Teluk Benggala, India, dihuni suku pra-Neolitik terakhir di dunia. Pulau ini merupakan surga tropis terlarang dimasuki, yang baru saja menelan nyawa seorang misionaris asal Amerika Serikat. Penginjil bernama John Allen Chau itu dibunuh suku lokal, ketika dia mengelabui aparat pakai visa turis, dan datang naik perahu kecil ke Pulau Sentinel demi mengajak suku setempat masuk Kristen dua minggu lalu. Belum sempat mengajari mereka membaca injil, sang misionaris tewas dipanah di pinggir pantai.

Kasus itu menarik perhatian orang terhadap Pulau Sentinel—sekaligus menarik minat manusia iseng. Berdasar ulasan di Google yang mendadak jadi banyak, Pulau Sentinel, di Kepulauan Andaman, adalah “destinasi liburan yang keren” dan “memberimu pengalaman berbudaya yang tak terbandingkan."

Ada sebagian ulasan yang mendeskripsikan pulau ini sebagai “tempat wisata tropis yang indah buat sekeluarga… untuk dimasak dan dimakan suku barbar.” Pulau tersebut memiliki rating 4,6 bintang berdasarkan lebih dari 3.000 ulasan yang mendadak bermunculan setelah kasus terbunuhnya Chau ramai diberitakan.

Kasus pembunuhan Sentinel Utara menarik perhatian netizen biadab, yang mulai mengubah identitas pulau tersebut sebagai perangkap maut sekaligus lokasi asyik bagi turis ekstrem. Saat John Allen Chau yang berumur 27 tahun tiba di pulau misterius ini pada awal November lalu berbekal Alkitab, dia orang asing pertama yang mengunjungi pulau tersebut sejak sepuluh tahun terakhir.

Anggota suku Sentinel menembakkan panah ke arahnya dan meninggalkan jenazahnya di pantai setelah beberapa hari. Seminggu setelah kematiannya menjadi fokus media internasional, ulasan "positif" tentang pulau Sentinel membanjiri Google Reviews. Tentu saja semuanya iseng dan bohong belaka.

"Aku pergi kesini bareng pacarku buat liburan, suka banget. Tapi pacarku enggak. Enggak cocok buat liburan romantis," ucap sebuah ulasan bintang lima. "Pilihan baik buat yang suka yang aneh-aneh… Makanannya lumayan kok. Enggak tahu dagingnya apa, tapi rasanya kayak ayam atau babi, mungkin manusia."

Ringkasan di Google tentang Sentinel Utara juga menyebut informasi palsu kalau di pulau berisi suku terisolir itu terdapat “hotel bintang-3, dengan tarif semalam sekitar Rp 1.000.000." Harus diingat, semua informasi tadi menyesatkan. Pemerintah India melarang turis lokal maupun asing mengunjungi pulau ini atau berhubungan dengan penghuninya.

Suku terisolir di Sentinel “tidak punya kekebalan terhadap semua penyakit manusia modern,” menurut PC Joshi, profesor Antropologi di Universitas Delhi. Penyakit ringan seperti flu diperkirakan bisa membinasakan populasi mereka. Ada juga masalah perlakuan kejam dan mematikan suku Sentinel terhadap orang luar—isu yang sulit bagi pihak yang berusaha mengevakuasi jenazah John Chau.

Polisi India menyerah upayanya untuk memperoleh kembali jenazah John Chau setelah dikonfrontasi beberapa anggota suku Sentinel berbekal busur dan panah. Kapal polisi berhasil mencapai jarak 400 meter dari pantai North Sentinel, menurut Fairfax , ketika mereka melihat anggota suku bersenjata di pantai.

"Kami menatap satu sama lain," ucap Kepala Polisi Andaman Dependra Pathak. Akhirnya, kapal polisi meninggalkan daerah Sentinel.

Untuk memahami lebih dalam adat suku ini dan apa yang mereka lakukan ketika mereka membunuh orang luar, polisi mempertimbangkan kasus dua nelayan pada 2006 yang juga dibunuh oleh suku Sentinel setelah menyimpang ke pulau tersebut. Seminggu kemudian, jenazah mereka dipajang di tiang bambu menghadapi laut. "Jasadnya dipasang seperti orang-orangan sawah," kata Pathak.

Para antropolog percaya pengambilan jenazah Chau mustahil dilakukan. Meskipun kematiannya merupakan kasus pembunuhan, tidak ada tuduhan yang akan diajukan terhadap suku ini yang terancam punah.

Satu-satunya risiko terbesar: kasus terbunuhnya Chau justru menggenjot industri turisme di sekitar Pulau Sentinel. Makanya, netizen biadab sebaiknya berhenti main-main dengan google review dan terus mengisahkan yang aneh-aneh soal Suku Sentinel. Biarkan mereka tidak diganggu oleh peradaban modern kita yang sama-sama biadabnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE AU.

More VICE
Vice Channels