Negara Senantiasa Kalah Saat Memerangi Bisnis Pakaian Bekas

Kontributor kami mengikuti rute distribusi pakaian bekas, dari pelabuhan hingga mejeng di etalase pasar. Bisnis ini lancar jaya, padahal merujuk aturan kementerian perdagangan harusnya ilegal cuy!

|
14 Januari 2019, 10:51am

Konsumen memilih baju bekas di lapak luar Pasar Senen, Jakarta Pusat. Semua foto oleh penulis.

Sebuah kapal kayu merapat di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, tanpa hambatan. Buruh-buruh cekatan membuka dan memindah isinya: baju bekas yang sebelumnya sudah disortir gudang asal Malaysia. Ada puluhan bal yang dipindahkan buruh-buruh. Satu bal setara 25 karung, artinya kapal itu mengangkut ribuan potong pakaian bekas sekali jalan.

Karung-karung itu segera pindah mengisi perut truk-truk yang bersiaga di pinggir pelabuhan. Isi barang dalam Bal langsung diketahui dari kode tulisan karung. Kuli angkut tidak perlu menyortirnya, sebab mereka hafal sandi-sandi tersebut. Contohnya, LBM adalah kaos lengan panjang, sementara CWA berarti jaket. Tidak perlu dibuka-buka lagi, langsung saja dilempar ke truk.

Semua proses di pelabuhan tersebut berlangsung normal sekali, lancar bahkan, seandainya kita tidak ingat kalau pemerintah melarang penjualan baju bekas dari negara lain. Artinya, yang sedang disaksikan VICE dari berbagai rangkaian distribusi baju bekas itu berpotensi melanggar hukum.

Kendaraan-kendaraan besar tadi melaju ke banyak lokasi, kendati satu lokasi jadi tujuan favorit para pengemudi: Pasar Senen. Bagi konsumen di Jakarta, citra Pasar Senen sebagai pusat penjualan baju bekas kadung melekat. Di mana lagi kau bisa mendapat cardigan hingga jaket asli merek bikinan rumah mode Italia atau Inggris—termasuk streetwear macam Nike—di bawah Rp100 ribu selain dari Senen?

1547449735224-5
Puluhan bal berisi pakaian bekas di salah satu kapal kayu yang sedang parkir di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kapal macam ini yang biasanya membawa pakaian dari luar negeri. Foto oleh Ishomuddin

Anya, pelajar SMA yang ditemui VICE awal bulan ini sedang berbelanja di Blok V pasar tersebut, menyapakati pemeo tersebut. Pasar Senen adalah surga fashionista berkantong cekak. "Bisa dapat jaket dengan merek keren, apalagi harga miring, adalah suatu kebanggaan tersendiri saat mengenakannya," ujarnya. Ketika ditanya soal larangan pemerintah memperjualbelikan pakaian bekas, Anya memilih masa bodoh. Indra, pelajar SMA lain yang sedang berburu jaket, mengamini pendapat Anya.

"Baju bekas tidak kalah dengan pakaian baru yang dijual di mal yang harganya kadang enggak masuk akal di kantong kita."

Pemerintah berusaha keras memerangi impor pakaian bekas sejak September 2015. Muncul beleid anyar dari Kementerian Perdagangan, menihilkan ruang importir mendatangkan baju-baju bekas pakai. Pakaian bekas dianggap berbahaya di mata pemerintah. Bisnis ini mematikan pengusaha garmen dalam negeri serta mengancam kesehatan konsumen lantaran ditemukan ribuan bakteri masih terbawa dari negara asalnya. Seharusnya, importasi baju bekas berhenti sama sekali.

Nyatanya, regulasi garang hanya di atas kertas. Karung berisi ribuan baju bekas—kebanyakan dari Korea Selatan dan Jepang—melenggang mulus dari pelabuhan ke gudang-gudang. Bahkan pelakunya sendiri tak banyak tahu siapa yang memesan dan siapa pengirim.

Contohnya David, penjaga gudang transit pakaian bekas di Senen. Dia mengaku tidak pernah bertatap muka dengan si bos. Dia juga tak pernah memperoleh akses informasi, dari pelabuhan mana saja gunungan bal itu datang. Satu yang pasti, dia lancar menerima gaji, sementara pedagang Pasar Senen selalu mendapat pakaian bekas seperti yang mereka pesan. David menilai pemain baju bekas impor dan pedagang berusaha kompak menjaga kerahasiaan, sehingga jaringan distribusinya amat tertutup.

1547449796740-3
Bal-bal berisi pakaian bekas siap didistribusikan truk ke berbagai wilayah. Foto oleh Ishomuddin

"Takutnya kalau informasi jatuh ke orang atau pihak yang salah, bisa saja disalahgunakan untuk memasukan barang aneh-aneh," kata David. "Dulu sempat ada kejadian yang membuat susah masuk Bal-Bal pakaian bekas [ke Indonesia] karena ada yang mengirim barang melalui jalur yang sama, namun yang dikirim barang terlarang seperti psikotropika."

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang membawahi otoritas Bea Cukai, mengakui banyaknya pemain impor baju bekas leluasa beraksi tanpa hambatan. "Kami janji dari segi bea cukai untuk mengidentifikasi pelaku impornya," ujarnya saat diwawancarai Detik Finance dua tahun lalu. Sampai sekarang, identifikasi dan pembongkaran distribusi baju bekas luar negeri tak menampakkan hasil.

David, sebagai orang yang diuntungkan oleh mata rantai perdagangan barang bekas, merasa upaya pemerintah bakal sia-sia. Sekalipun Indonesia melarang keras impor pakaian bekas, nyatanya Malaysia, Pakistan, hingga India membuka ruang untuk bisnis macam ini. Alhasil, kebocoran mustahil dibendung.

Katakanlah pengiriman dari Batam dijaga ketat, ada jalur-jalur laut lain—seperti Asahan di Sumatra Utara—bisa dipakai importir membawa pakaian bekas ke Senen dan pasar-pasar besar lainnya. Jalur penyelundupan baru sekarang pun sudah menjangkau Nusa Tenggara Timur, seperti ditemukan Bea Cukai Februari 2018.

"Pedagang di [Pasar Senen] sudah mengetahui ada pihak lain yang mengatur agar pasar pakaian bekas ini tetap ada, ada jalur pintu belakang," klaimnya.

1547449919685-11
Kode-kode menandakan isi bal. CWA berarti jaket sementara LBM berarti kemeja atau kaos lengan panjang

Pernyataan serupa disampaikan Pardede, salah satu pemilik kios di Pasar Senen yang sudah berjualan sejak 2003. Dia bilang, pasokan baju bekas lahir dari tradisi konsumen negara maju, termasuk asal Amerika Serikat, membuang fast-fashion setelah lewat satu tahun. Tak semua bisa diolah kembali sehingga limpahan pakaian itu masuk ke pasar-pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau memang barang second dibilang kotor, seharusnya kita jangan pernah menyumbangkan baju kita ke orang lain, apa bedanya dengan baju bekas seperti ini," kata Pardede. Selain itu, dia mengklaim temuan bakteri berbahaya yang disampaikan pemerintah mengada-ada. "Ini barangnya sudah disterilkan di gudang."


Tonton dokumenter VICE menyorot penggemar sepakbola di Argentina yang menyembah Diego Maradona sebagai Tuhan:


Mengacu hukum ekonomi, permintaan dan penawaran adalah syarat mutlak yang membuat suatu bisnis—terlarang sekalipun—terus berjalan. Tak terkecuali perkara baju bekas. Marjin keuntungan yang tinggi membuat banyak pedagang senantiasa mencari celah menjalin kontak dengan importir ilegal. Satu bal berisi celana jins lelaki, misalnya, dihargai Rp4 juta hingga Rp6 juta. Katakanlah satu bal celana tadi isinya 200 potong jins. Per potongnya yang berkualitas bagus, oleh pedagang, dilepas ke konsumen seharga Rp80ribu.

Makanya, tak perlu kaget ketika omzet pedagang yang sudah berjualan cukup lama dan kiosnya relatif besar bisa mencapai Rp1,5 juta per hari. Tapi tak bisa dipungkiri, pedagang sering juga harus berakrobat dengan harga, mengingat banyak konsumen menganggap semua pakaian di Senen bisa ditawar hingga Rp10 ribu.

1547450084624-18
Setelah bal dibuka, dipajang di toko. Foto oleh Ishomuddin
1547450015393-15
Salah seorang anak muda melihat-lihat jaket bekas di Senen. Foto oleh Ishomuddin.

Selain itu, bisnis baju bekas juga terus bertahan, menurut pedagang, karena ada kebutuhan belanja musiman yang tak akan bisa dipenuhi oleh toko-toko biasa. Agis, penjaga kios di Senen, mengatakan fashionista berkantong cekak hanya minoritas dari ceruk pasar pembeli baju-baju ini. Selebihnya adalah konsumen yang butuh baju berkualitas untuk pemakaian sehari-hari. "Kalau dekat dengan lebaran banyak yang nyari rok dan blues perempuan, kalau musim penghujan banyak yang cari jaket. Bisa dilihat perkembangan fashion juga, seperti sekarang lagi ramai pakai celana joger, pedagang juga banyak yang berburu Bal yang berisikan celana joger, jadi tergantung musim dan trend yang lagi hits," kata Agis sambil memamerkan dagangannya.

Satu-satunya hal yang bisa menggerus bisnis baju bekas hanyalah fluktuasi nilai tukar Rupiah, bukannya aturan pemerintah. Krisis kecil sempat terjadi pada November 2017. Ketika itu Dollar Amerika melambung, membuat pedagang dan importir cekak dananya saat mendatangkan baju bekas dari Jepang. Jika baju bekas datang bukan dari Jepang, seringkali pembeli tak suka karena mutunya jauh di bawah.

1547450123665-19
Foto oleh Ishomuddin

"Kualitas pakaian dari Jepang yang paling baik dan dicari, Korea Selatan juga bisa menjadi pesaing, tapi Korea tidak bisa stabil seperti Jepang. Sekalinya dapat [dari Korsel] yang bagus bisa bagus sekali, sekalinya kurang bisa kurang sekali,” kata Pardede.

Intinya bisnis ini terus berputar karena omzetnya—baru di Senen saja—sudah mencapai miliaran Rupiah per bulan. Kita belum membicarakan angka skala nasional. Karena itu, pedagang memilih bersikap pragmatis dan terang-terangan mengabaikan ancaman pemerintah.

"Apa yang kita jual ini bukan barang haram, anggapan ilegal itu hanya regulasi yang tidak ada kejelasannya," kata Pardede. "Selama pembeli masih percaya, kita akan selalu berjualan pakaian impor bekas."