Benarkah Daging Ekstrem di Pasar Tomohon Aman Dikonsumsi Manusia?

Hanya di Sulawesi Utara saja kita bisa menemukan pasar berisi daging kelelawar hingga monyet. Masalahnya, penelitian menyebut penjualan daging eksotis punya dampak merugikan bagi kesehatan dan lingkungan.

|
Okt 4 2018, 10:58pagi

Foto ilustrasi penjualan daging anjing di Indonesia oleh Dwi Oblo/Reuters.

Dengan mata yang sayu karena jatah tidur yang berkurang satu jam gara-gara perbedaan waktu dengan Jakarta, saya memaksakan langkah keluar dari kamar hotel menuju satu lokasi yang akan sangat ajaib semakin pagi kalian datang ke sana: Pasar Beriman di Kota Tomohon. Pasar ini dikenal berkat lapak-lapak penjual yang menjajakan berbagai daging ekstrem. Sekali melangkahkan kaki ke dalam, siapapun pasti sadar tidak sedang berada di pasar tradisional biasa di Indonesia.

Itulah sebabnya saya memaksakan berangkat subuh. Bermacam daging tidak lazim bisa kalian temukan di pasar tersebut. Sebut saja daging tikus, ular, anjing, tarsius, kelelawar atau biasa disebut paniki, hingga monyet makaka yang akrab dijuluki yaki. Kalau datang kesiangan, kemungkinan besar stok dagangan daging ‘eksotis’ tersebut telah habis.

Pasar Beriman Tomohon terletak 25 kilometer, setara satu jam naik mobil, di selatan Kota Manado. Pasar yang diapit oleh Gunung Lokon, Empung dan Mahawu tersebut telah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah dikenal sebagai destinasi wisata kuliner ekstrem hingga mancanegara.

Meski matahari masih malu buat menampakkan diri, namun geliat warga dan pedagang di pasar tersebut amat riuh saat saya datang Senin pagi waktu setempat. Beberapa pengepul tampak menurunkan barang dagangannya dari mobil pick-up. Puluhan pengunjung terlihat sibuk memilih dan menawar dagangan yang ditawarkan.

Salah seorang pelanggan bernama Iskandar yang asal Tomohon mengaku hendak membeli daging tikus hutan dan biawak. Dua daging itu termasuk santapan favoritnya. Kebetulan dirinya hendak menyiapkan sebuah makan malam acara keluarga. Setelah sibuk memilih dan membandingkan dengan beberapa penjual. Iskandar merogoh kocek Rp100 ribu untuk kedua daging incarannya.

"Mungkin orang luar Sulawesi bakal jijik makan seperti ini," kata Iskandar. "Tapi kalau yang sudah biasa ya enak-enak aja."


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi festival makan anjing di Tiongkok yang mengundang protes global:


Sopir yang mengantar saya berkeliling Tomohon, adalah lelaki berusia 40-an bernama Stanley. Dia memberitahu saya kalau Pasar Tomohon sebetulnya sudah banyak berubah dibandingkan satu dekade lalu. Ia mengatakan kini beberapa daging sudah sulit didapatkan. Ia mencontohkan, sejak kedatangan Presiden Joko Widodo ke pasar tersebut pada 2016, dagangan seperti yaki yang merupakan satwa endemik Sulawesi Utara kini jarang ditemui, kecuali pada hari-hari tertentu.

Alasan beberapa jenis daging semakin sulit ditemui lantaran kecaman demi kecaman terus mengalir terhadap pasar tersebut. Bukan cuma karena menjual satwa dilindungi, tapi juga karena praktik sadis membantai anjing di depan pengunjung yang hendak membeli dagingnya yang mendadak viral awal tahun ini. Padahal, kata Stanley, memang seperti itu tradisi membeli daging anjing di Tomohon.

"Istilahnya kalau enggak digituin [dibunuh-red] di tempat, dagingnya kan enggak segar," kata Stanley. "Cara-cara membunuhnya juga berbeda-beda di setiap penjual."

Saya tak cukup kuat untuk berkeliling pasar itu lama-lama. Jujur, saya merasa tidak nyaman melihat jejeran daging yang tak biasa saya temui di kota lain. Saya sempat terheran-heran dengan selera makan orang Tomohon yang sanggup menyantap satwa liar yang tidak umum.

Stanley bilang menu-menu ekstrem tersebut muncul karena sejak dulu hewan-hewan liar mudah ditemukan di sekitaran Sulawesi Utara. Tak luput, kepercayaan masyarakat terhadap beberapa daging seperti biawak dan paniki yang dipercaya memiliki khasiat buat kesehatan dan stamina membikin permintaan pasar tak pernah surut.

Ironisnya, justru daging-daging ekstrem tersebut sekarang tidak lagi berasal dari Sulawesi Utara. "Sudah susah berburu daging ekstrem di Tomohon," kata Stanley. "Dulu banyak monyet berkeliaran di gunung Dua Saudara dan Klabat, tapi kayaknya sekarang sudah enggak ada."

Berdasarkan penelitian yang terbit dalam jurnal Global Ecology and Conservation, data menunjukkan kelelawar telah punah dari Sulawesi Utara. Situasi serupa dikhawatirkan akan menular ke daerah sekitar. Pada 2015, dalam studi tersebut, Tomohon 'mengimpor' 500 metrik ton kelelawar dari provinsi tetangga dan Kalimantan. Kepunahan satwa mamalia malam ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan karena kelelawar bagaimana pun dapat membantu penyerbukan suatu tanaman.

Khasiat daging satwa liar tersebut terhadap kesehatan manusia memang belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Sebaliknya, Agus Setiyono dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berpendapat mengonsumsi daging satwa liar seperti kelelawar atau tikus justru lebih besar risiko kesehatannya. Menurutnya kelelawar dan tikus adalah inang berbagai macam penyakit yang dapat dengan mudah menular ke manusia (zoonosis). Penyakit Ebola contohnya, ditularkan oleh jenis kelelawar tertentu di Afrika Barat dan Sierra Leone.

"Risiko penularan dari kelelawar ke manusia semakin tinggi," kata Agus kepada VICE. "Karena kebiasaan konsumsi daging kelelawar. Ia merupakan reservoir utama berbagai penyakit zoonosis."

Ketika ditanya apakah takut mengonsumsi kelelawar mengingat risiko kesehatan, Stanley bilang selama ini kekhawatiran sebersitpun tak pernah muncul di benaknya. Sampai sekarang ia mengaku belum ada kasus orang sakit karena mengonsumsi paniki. Toh, ia bilang, paniki bagus buat mencegah dan mengobati penyakit asma.

Kepercayaan macam ini, selama masih bertahan di Sulawesi Utara, akan terus melestarikan penjualan daging-daging ekstrem tersebut.

"Saya termasuk jarang makan paniki," kata Stanley. "Selama ini saya sehat-sehat saja. Mungkin semua tergantung cara pengolahan. Apa pun itu alasannya saya tetap akan makan paniki."

More VICE
Vice Channels