Budaya

Konsep Identitas Manusia Modern Sepenuhnya Berubah Berkat Teknologi Selfie

Filsuf dan budayawan Marion Zilio, lewat bukunya 'Faceworld', menyatakan penemuan kamera depan ponsel dan budaya swafoto membantu manusia masa kini menyembunyikan identitas aslinya.

oleh Micha Barban Dangerfield
01 November 2018, 10:32am

Foto ilustrasi via Instagram

 

Artikel ini pertama kali tayang di i-D France.

Di Silicon Valley, saat itu musim dingin 2010, Apple menambahkan sebuah kamera kecil di bagian depan iPhone terbarunya. Perubahan kecil yang sekilas cuma penambahan fitur tak terlalu berguna. Kamera kecil seharusnya bukan revolusi teknologi. Nyatanya peletakan kamera ini akhirnya mendorong seluruh dunia memasuki zaman modern: zaman kejayaan selfie, narsisisme, filter, dan identitas yang berubah-ubah. Pendeknya, zaman pascahumanisme. Kita menjadi spesies yang punya identitas baru, sepenuhnya berbeda.

Sejak maraknya fitur kamera depan, kehidupan sehari-hari manusia modern dibanjiri wajah orang—dari wajah telanjang untuk “no makeup challenge”, wajah yang dilapisi filter, sampai wajah yang disembunyikan avatar hyper-virtual. Bagaimana sih kita seharusnya memaknai “topeng-topeng” modern ini? Apakah fenomena ini menggambarkan perkembangan baru manusia?

Wajah kita — hal yang paling jelas, tampilan luar identitas kita—telah menjadi kanvas untuk mengekspresikan diri. Kini, berkat teknologi swafoto di ponsel pintar, berbekal satu klik, kamu bisa tampil 60 tahun lebih tua, berubah menjadi donat raksasa, atau menukar wajahmu lewat teknologi face swap. Tidak ada batasnya.

Nah, seorang filsuf sekaligus pemikir kebudayaan asal Prancis ternyata cukup terobsesi mempelajari dampak budaya selfie pada identitas manusia modern. Di bukunya yang bertajuk Faceworldsebuah buku padat, ringan tapi menarik, Marion Zilio melacak sejarah wajah kita dari awal kemanusiaan hingga zaman selfie. Aku menghubungi Zilio buat mendiskusikan betapa kosep selfie memberikan kita kesempatan untuk mengakses bagian-bagian dari diri kita yang sebelumnya tersembunyi.

Berikut hasil obrolan kami:

i-D: Filter, operasi kosmetik, aplikasi—semua itu merupakan metode mengubah wajah kita dan mudah diakses. Apakah identitas asli manusia di masa kini terancam hilang?
Marion Zilio: Di bawah lapisan filter, konsep wajah memang sudah mulai menghilang atau setidaknya menciptakan kembali dirinya sendiri. Dalam bahasa Perancis, kata ‘wajah’ adalah visage — secara etimologis, kata ini mengacu pada apa yang bisa dilihat. Namun, apa yang bisa dilihat merupakan perpaduan antara apa yang diperlihatkan dan apa yang disembunyikan. Wajah harus dihancurkan agar dapat muncul kembali dalam samaran baru, bukan berdasarkan apa yang kelihatan, tapi apa yang ingin diperlihatkan. Manusia kini mampu menciptakan kembali diri identiasm masing-masing sesuai prinsip-prinsip golongan kelas yang mereka incar.

Dalam Faceworld, kamu menulis betapa wajah adalah sebuah ‘ciptaan’. Maksudnya apa?
Di sini kita harus melihat sejarah. Petani abad ke-19 belum mampu mengakses wajahnya lho. Dulu pemotretan itu hanya untuk kelas atas; rakyat umum tidak terwakili. Cermin sampai dua abad lalu masih dianggap benda berharga. Barulah ketika revolusi industrial terjadi, orang menjadi sadar wajah mereka. Sebelumnya, orang tidak bisa melihat wajah mereka sendiri kecuali di tempat pemangkas rambut, di toko topi, atau lewat bayangan di air. Cara kita memandang diri kita sendiri telah berubah; dunia telah berubah. Dulu kamu tidak bisa membawa potretmu kemana-mana—dulu tidak mungkin bisa memindahkan refleksi wajah ataupun sebuah lukisan ke kantong celanamu. Mengakses gambaran dirimu yang “statis” di sebuah obyek memberi orang kesempatan untuk melihat dirinya dari perspektif luar. Potret pun mulai dianggap penting dan menjadi awal dari identitas diri. Di saat ini jugalah, kode-kode sosial mulai muncul. Orang ingin dipotret agar diasosiasikan dengan kelas tertentu.

Jadi foto membantu menetapkan stereotip-stereotip gender, kelas, dan ras?
Iya, foto membantu menetapkan stereotip dan identitas tetap. Menurut aku, identitas-identitas ini diciptakan sebagai metode pengendalian — agar setiap orang tidak keluar dari batasan sosial mereka. Kan ada kaum buruh, bangsawan, orang kaya, orang miskin, dll. Wajah mempersembahkan indikator yang sangat biner. Sekarang, konsep “diri sendiri” menjadi lebih rumit dan terus berubah. Tapi dulu, layar, cermin, dan filter merupakan alat pengasingan sebelum mereka berubah menjadi sarana emansipasi.

Menurut kamu, apakah transformasi wajah membuat kita bisa melepaskan diri dari identitas kita?
Iya! Semua itu sangat terkait evolusi teknologi. Saat fotografi masih teknologi baru, masyarakat langsung terobsesi dengannya; mesin uap juga baru diciptakan pada saat itu. Saat representasi sudah tidak beku lagi, begitu juga dengan konsep identitas. Proses ‘pencairan’ ini mulai pada abad ke-19 dan membutuhkan banyak waktu untuk maju. Cara identitas dan wajah dapat diubah tergantung pada teknik yang tersedia. Dalam kesenian, para futuris dan avant-gardis juga membantu fragmentasi dan modulasi identitas dan cara wajah ditampilkan. Pada saat itu, psikoanalisa juga mulai dikembangkan sebagai mata pelajaran di seluruh dunia — melihat berbagai macam cara kita maju secara teknologis sangat menarik.

Jadi, apakah itu artinya kita telah menjadi pencipta identitas diri sendiri?
Sebelumnya, kita sebagai individu mempunyai kebutuhanyang lebih besar untuk dilihat orang lain dan divalidasi. Lalu lama-lama, kita menjadi pengamat diri kita sendiri. Di medsos kamu melihat dirimu sendiri; kamu menjadi terpikat refleksi dirimu dan kamu tidak perlu divalidasi orang lain lagi. Kita menciptakan hubungan dengan diri kita sendiri yang cukup otonom.

Selfie juga membuka kembali saluran komunikasi kita. Ketika kamu mengunggah sebuah selfie di Instagram, selfie itu bisa mencapai seseorang di negara lain di zona waktu yang berbeda. Dulu seseorang hanya dapat menjumpai sekitar 3.000 orang selama kehidupannya. Sekarang, kamu dapat mengakses 3.000 orang saat kamu login ke Facebook.

Jadi selfie memberikan kita kesempatan untuk mengakses bagian dari diri kita yang sebelumnya tersembunyi?
Iya, penemuan aplikasi yang bisa mengubah wajah membuat kita dapat mengalami rasanya menjadi “berbeda” dalam dimensi yang baru. Kamu bisa menampilkan diri sebagai labu, kucing, roda sepeda… Sekarang, orang-orang meyakini konsep “inter-kingdom” yang terdiri dari manusia dan semua makhluk hidup lainnya. Sepertinya tren ini akan bertahan.

Apakah selfie membantu manusia modern berhubungan dengan satu sama lain?
Tentunya selfie bisa membantu kamu menjadi terhubung dengan dirimu sendiri. Misalnya masa puber merupakan periode dimana wajahmu berubah secara terus menerus, identitasmu tidak stabil, dan kamu masih menemukan dirimu sendiri. Jadi selfie merupakan cara untuk seorang remaja untuk mengklaim kembali gambaran diri mereka sendiri.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D