Iklan
Psikologi

Mengapa Kita Benci Orang-Orang Yang Berlagak Terlalu Ramah?

Psikolog menyebutnya “hukuman antisosial” atau “hinaan untuk orang-orang ramah.”

oleh Jesse Hicks
25 Juli 2018, 10:16am

CSA-Archive/Getty Images

“Sok ramah” adalah istilah yang aneh. Di tempat kerja, misalnya, ini adalah label yang diberikan pada orang-orang yang—ya, bisa bekerja sama dengan baik dengan kolega di kantor. Orang-orang yang paling baik dan dermawanlah yang seringkali disebut sebagai “sok ramah.” Seakan-akan menjadi orang ramah adalah hal yang sangat salah.

Lantas, apa yang membuat orang-orang begitu cepat membenci “orang ramah”? Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa ini adalah taktik kompetitif—dan teknik yang dilakukan orang-orang tanpa benar-benar tahu alasannya. Begini deh: Kalau kamu berkompetisi untuk mendapatkan pasangan (di hubungan romantis maupun saat bekerja dalam kelompok), kemampuanmu bekerja sama adalah kriteria yang sangat penting. Tidak ada yang mau sekelompok dengan orang-orang yang tidak ramah. Jadi, untuk mendapatkan pasangan yang terbaik, kamu mau tampak sebaik mungkin. Atau, di sisi lain, kamu bisa menanamkan keraguan soal sainganmu dengan menyiratkan bahwa kebaikan mereka patut dicurigai. Dengan kata lain, kamu melabeli mereka “sok ramah.”

“Sering kali kita senang saat orang-orang baik diberi penghargaan dan orang-orang jahat diberi hukuman,” ujar Pat Barclay, profesor di University of Guelph dan salah satu penulis penelitian tersebut. “Tapi, terkadang orang-orang baik juga dihukum. Atau, setidaknya dikritik.”

Ini mungkin terkesan berlawanan dengan intuisi, tapi ini adalah fenomena yang disadari di seluruh bidang—dalam ekonomi dan psikologi sosial—dan di seluruh masyarakat juga, ujar Barclay. Ini disebut “hukuman antisosial” atau “hinaan bagi orang-orang ramah”—kritik yang ditujukan pada seseorang karena terlalu koperatif. Tampaknya ini paling sering muncul saat orang-orang berkompetisi untuk mendapatkan pasangan, dan menurut sebuah penelitian baru, ini adalah cara untuk meraih keuntungan kompetitif. Ini tidak meningkatkan mutu orang yang memberikan label, tapi mungkin saja taktik ini bisa menjatuhkan orang-orang yang terlalu ramah itu, dengan menyiratkan, mereka “too good to be true.”

“Kamu bisa menyimpulkannya dengan kalimat berikut, ‘Eh, elo bikin gue kelihatan buruk,’’’ ujar Barclay. Alih-alih berusaha menjadi lebih baik, pihak yang kalah mulai menempelkan label “sok ramah” ke saingan.

Untuk menguji hipotesis tentang bagaimana persaingan meningkatkan hukuman antisosial, Barclay dan rekan penulisnya, Aleta Pleasant, menyiapkan dua skenario. Dalam keduanya, peserta memainkan sebuah permainan yang mengetes kerelaan mereka untuk bekerja sama, dan memberikan mereka kesempatan untuk “menghukum” pemain lain. Skenario eksperimental menambahkan seorang pengamat yang akan memilih seorang partner dan memberikannya penghargaan di akhir permainan.

Sesuai ekspektasi peneliti, tingkat hukuman antisosial lebih tinggi dalam skenario yang kompetitif. Tapi ini bukan berarti peserta secara sadar memilih untuk menghukum orang-orang yang dianggap “sok ramah”. “Tidak banyak orang yang benar-benar memperhitungkan efek dari perbuatan mereka,” ujar Barclay. Malah, dia tambahkan, rasa simpati akan tingkat kesejahteraan orang lain, dan kebalikannya, rasa cemburu ketika seseorang dianggap terlalu menarik, akan mempengaruhi respon seseorang.

Dalam beberapa area, ini bagus. Barclay mengatakan emosi-emosi itu ada bukan tanpa alasan—dan bahkan bisa bersifat menguntungkan. “Alasan kita memiliki emosi adalah karena mereka membuat kita mengambil keputusan yang akan menguntungkan secara jangka panjang,” ujarnya. Tapi mengerti bagaimana emosi bekerja bisa membantu kita mengarahkan emosi dengan lebih baik.

Bagaimana kita bisa membantu orang-orang yang kerap dihakimi sebagai “sok ramah” ini, misalnya? Barclay mengatakan kita bisa memikirkan cara untuk mempertumpul hukuman antisosial. Bagi mereka yang sering dijatuhi hukuman ini, dia mengatakan, mungkin jawabannya adalah dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang lebih baik. “Sesama orang baik harus nongkrong bareng,” ujarnya, “dan ujung-ujungnya, mereka akan berada dalam posisi yang lebih baik dibanding para kritikusnya. Mari cari cara supaya kebaikan itu dihargai, karena ini nanti bisa berkembang biak.”