Iklan
Fashion

Laporan Terbaru Mengungkap Fakta Industri Fashion Memotori Perbudakan Modern

"Lebih dari 40 juta orang di seluruh dunia terjebak dalam bentuk-bentuk perbudakan modern," demikian kesimpulan yayasan Walk Free. Jadi, pikirkanlah para buruh yang menderita saat melihat jaket atau celana diskonan.

oleh Roisin Lanigan
27 Juli 2018, 7:48am

Temuan-temuan ini, yang dirilis oleh Walk Free Foundation, penerbit laporan The Global Slavery Index 2018, menunjukkan bahwa garmen fashion termasuk produk-produk yang kemungkinan besar diproduksi dengan praktik-praktik perbudakan modern. Praktik-praktik tersebut, menurut laporan, ditetapkan sebagai situasi-situasi eksploitatif saat seseorang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya akibat kekerasan, ancaman, paksaan, penyelewengan, dan manipulasi.

Industri fashion berada di urutan kedua, bersamaan dengan teknologi pribadi, tebu, cokelat dan ikan, sebagai industri yang paling diuntungkan karena perbudakan modern, yang berdampak pada kira-kira 40 juta orang di seluruh dunia. Kondisi perbudakan modern ini juga merupakan isu feminis, mengingat mayoritas korbannya adalah perempuan—71 persen budak modern adalah perempuan dewasa dan anak-anak.

Fashion, menurut The Global Slavery Index, menyumbang US$127 miliar (Rp1.832 triliun) dari US$354 miliar (Rp5.106 triliun) yang dibelanjakan untuk impor ke negara-negara G20, sebagian besar melalui produk fashion kilat (fast fashion). Pakaian yang paling berisiko berasal dari Tiongkok, Vietnam, India, Thailand, Malaysia, Brasil, dan Argentina.


Tonton dokumenter VICE mengenai sosok Ayla Dimitri yang tak mau berhenti mengejar mimpi di bidang fashion kendati mendapat cibiran banyak orang:


"Lebih dari 40 juta orang di seluruh dunia terjebak dalam bentuk-bentuk perbudakan modern," ungkap yayasan Walk Free. "Kami memiliki tanggung jawab untuk menghentikan tindak kriminal tersebut." Menurut laporan yang sama, sayangnya, sebagian besar penyebab perbudakan modern di pabrik busana dipicu nihilnya keberlanjutan dan etika dalam industri fashion modern.

Mengakui permasalahan ini adalah langkah pertama, tapi sebagai konsumen kita bisa membantu meringankan masalah dengan memastikan kita memiliki kebiasaan konsumsi seetis mungkin. Mungkin ini terdengar remeh, untuk memutuskan mengurangi pembelian produk fashion kilat (atau berhenti membelinya), atau untuk berbelanja di toko-toko yang mendorong amal, tapi bagi jutaan orang di seluruh dunia yang terkena dampak perbudakan modern, ini adalah langkah yang tepat.

Setelah itu, kita bisa mendukung perancang, merek-merek, dan perusahaan-perusahaan yang mengupah buruh pabrik mereka dengan adil. Tekanan dari kita, para konsumen, bisa membantu meyakinkan korporasi besar yang mengandalkan pundi-pundi uang kita untuk mempertahankan bisnisnya.