urusan percintaan

Kenapa Sih Laki-Laki Gampang Banget Jatuh Cinta Dibanding Perempuan?

Ilmuwan sosial berusaha memecahkan misteri ini.

oleh Jessica Pan
03 Desember 2019, 11:20am

Ilustrasi oleh Ben Thomson 

Perempuan acap kali dibilang baperan setiap ada yang kasih perhatian lebih. Katanya, mereka juga enggak akan segan bilang suka ke gebetan. Tapi benarkah seperti itu keadaannya? Studi menunjukkan justru laki-laki heteroseksual yang gampang naksir atau merasa jatuh cinta sama gebetan.

Dari 172 mahasiswa yang disurvei, penelitian 2011 menarik kesimpulan “peserta laki-laki lebih cepat jatuh cinta dan mengungkapkan perasaannya daripada perempuan. Temuan ini mengindikasi perempuan bukan ‘bucin’ seperti yang orang-orang kira selama ini.”

Psikolog Marissa Harrison mengatakan penelitiannya menentang persepsi yang dimiliki para mahasiswa. “Perempuan dicap lebih emosional dan gegabah daripada laki-laki,” Marissa memberi tahu Broadly. “Responden kami, baik laki-laki maupun perempuan, memercayai perempuan lebih gampang naksir dan bilang suka daripada lawan jenisnya.”

Psikolog Neil Lamont dari London menduga laki-laki cenderung dilihat sebagai sosok yang lebih pragmatis atau bahkan suka menghindari komitmen. “[Akan tetapi] hubungan penuh makna sama pentingnya bagi perempuan dan laki-laki. Meski norma sosial dan budaya mengharuskan laki-laki bersifat kuat dan tangguh, bukan berarti mereka enggak membutuhkan hubungan serius yang penuh kasih.”

Menurut Marissa, perempuan enggak gampang baper karena mereka lebih hati-hati untuk alasan masuk akal. “Saya rasa perempuan tanpa sadar menunggu hubungannya hingga pasti tak seperti laki-laki. Banyak yang mesti dikorbankan perempuan jika mereka menjalin asmara dengan orang yang salah. Jumlah sel telur perempuan sangat terbatas, sementara laki-laki menghasilkan jutaan sperma setiap harinya,” terangnya.

Dia kemudian melanjutkan, “Apabila perempuan dihamili laki-laki tak bertanggung jawab, sebagian besar hidup mereka akan dihabiskan mengurus anak sendirian.”

Ingrid Collins, psikolog di London Medical Centre, mengutarakan perilaku laki-laki menunjukkan aspek yang dimiliki Kingdom Animalia. “Hewan jantan biasanya pemburu dan mudah terangsang, sementara hewan betina lebih fokus pada stabilitas jangka panjang untuk membesarkan anak dengan baik.”

Sifat gampang jatuh cinta mungkin juga ada hubungannya dengan mengklaim sesuatu sebagai miliknya. “Dorongan untuk gerak cepat mendapatkan perempuan lebih tinggi daripada kesiapan laki-laki. Pengaruhnya terhadap fisik dan emosional perempuan kurang diindahkan.”

Neil berpendapat lelaki cenderung mudah mengutarakan perasaan karena perempuan umumnya lebih menghindari risiko. “Perempuan baru akan mengekspresikan perasaan mereka setelah nyaman dengan gebetan. Mereka khawatir enggak terbalas jika mengungkapkan ketertarikan kepada gebetan.”

Alasannya bisa juga karena laki-laki diajarkan untuk lebih dominan. “Kalian mungkin beranggapan itu hanyalah bagian dari ‘sifat laki-laki’ yang tegas dan memimpin. Dengan demikian, norma sosial memegang peran di sini.”

Akan tetapi, lelaki heteroseksual belum tentu siap berkomitmen bahkan setelah mereka bilang jatuh cinta. “Sejauh pengalamanku sebagai terapis, lelaki lebih bersemangat menjalin hubungan tapi sering mencari yang lain,” ujar Ingrid.

Walaupun studi Marissa enggak menyelidiki apakah lelaki heteroseksual gampang bosan dengan gebetan atau pasangan, dia beranggapan mereka cepat pindah ke lain hati. “Misalnya, lelaki mampu menghamili banyak perempuan, sedangkan perempuan hanya bisa dihamili seorang laki-laki dalam satu waktu,” tuturnya.

Marissa menekankan perselingkuhan tak serta-merta dapat atau harus dihubungkan dengan naluri bertahan hidup. “Jika seorang lelaki berkomitmen dengan perempuan—begitu pula sebaliknya—korteks frontalnya harus menjaga komitmen. Namun, saya enggak mengatakan dorongan yang berevolusi kemudian mengizinkan mereka untuk selingkuh atau meninggalkan pasangan.”

Intinya, lelaki yang hobi selingkuh enggak bisa mewajarkan ulahnya dengan alasan “bertahan hidup” atau bagian dari evolusi. Mereka bukan manusia purba sekarang, jadi seharusnya mampu menahan nafsu karena otaknya sudah berevolusi.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly